Daerah tangkapan airWaduk Selorejo berlatar pegunungan di Ngantang di Jawa Timur, menggambarkan sistem tangkapan air alami. Lereng hijau dan vegetasi padat membantu menyerap air hujan dan menjaga kualitas air waduk, sementara pemanfaatan waduk mencerminkan keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan manusia.
Daerah tangkapan air atau catchment area adalah wilayah geografis yang secara alami atau buatan menangkap, menampung, dan mengarahkan air hujan ke suatu titik keluaran seperti sungai, danau, waduk, atau sistem drainase.[1][2] Istilah ini umum digunakan dalam kajian hidrologi, konservasi tanah dan air, serta perencanaan infrastruktur sumber daya air.[3]
Asdak (2010) mendefinisikan, Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai suatu wilayah daratan yang secara topografis dibatasi oleh punggung-punggung pegunungan yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau catchment area) yang merupakan suatu ekosistem daerah unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam.[4]
Karakteristik
Topografi: Berada di wilayah yang lebih tinggi dan memiliki lereng menuju titik keluaran air.
Fungsi: Menyimpan air hujan dan mengatur aliran permukaan menuju sungai atau waduk.
Skala: Dapat mencakup area kecil (misalnya tangkapan air untuk sebuah embung) atau menjadi bagian dari wilayah yang lebih besar seperti DAS.
Manfaat Kajian
Menentukan lokasi pembangunan waduk dan bendungan.
Menghitung potensi air permukaan dan kebutuhan konservasi.
Pandangan Alternatif: DTA (Catchment) vs DAS (Watershed)
Menurut Hill Country Alliance, istilah water catchment area (daerah tangkapan air) dianggap lebih tepat dibandingkan watershed. Mereka berpendapat bahwa;[5]
Catchment area mencerminkan sistem siklus air yang menangkap, menyimpan, dan menggunakan air secara bijak, bukan sekadar “mengalirkan” atau “membuang” air seperti yang tersirat dalam istilah watershed.
Catchment mencakup interaksi antara sistem alam dan manusia—seperti sungai, hutan, pertanian, dan pemukiman—yang semuanya berkontribusi terhadap kesehatan ekosistem air.