Cyrtodactylus pecelmadiun adalah cecak berjari bengkok yang endemik di Madiun. Cecak ini memiliki ciri khas berupa warna, susunan tuberkel, dan dimorfisme seksual pada struktur prekloaka. Penemuannya menyoroti keanekaragaman hayati di wilayah Magetan dan Mojokerto, Jawa Timur. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh seorang ahli herpetologi, Awal Riyanto, dan dinamai berdasarkan hidangan tradisional Indonesia, Pecel Madiun.[1] Spesies ini hanya ada pada lingkungan lembab,bebatuan, dan berkamuflase dengan pola sekitar.
Identifikasi
Spesies cecak ini dapat diidentifikasi berdasarkan beberapa ciri morfologis. Jantan dewasa dapat mencapai panjang tubuh (snout–vent length[en] / SVL) hingga 67,2 mm, sementara betina memiliki ukuran maksimal 59,0 mm. Spesies ini memiliki tonjolan kecil (tuberkel) pada lipatan antebrakium dan bagian ventrolateral, tetapi tidak ditemukan pada lipatan brakium.
Pada bagian tengah tubuh, terdapat 18–20 baris tuberkel dorsal yang tersusun tidak beraturan, serta 26–28 tuberkel paravertebral per baris. Bagian ventral tubuh ditutupi oleh 28–34 baris sisik perut. Jantan memiliki alur prekloaka serta 32–37 pori prekloakofemoral, sedangkan betina tidak memiliki struktur ini.
Ekor spesimen holotipe telah mengalami regenerasi, sementara beberapa paratipe masih mempertahankan ekor aslinya. Dari segi warna, spesies ini memiliki pola cokelat dengan tepian hitam lebar, tanda punggung berwarna kuning cerah, bintik kuning khas pada labial, serta iris mata berwarna kuning kehijauan.
Cecak ini merupakan spesies endemik Jawa Timur, Indonesia, dengan spesimen yang telah dikumpulkan dari Magetan dan Mojokerto.[1]