Crossair Penerbangan 3597 merupakan penerbangan berjadwal dari BandarUdara Berlin Tegel di Jerman menuju BandarUdara Zürich di Swiss. Pada 24 November 2001, pesawat Crossair Avro RJ100 yang melayani rute tersebut, dengan nomor registrasi HB-IXM, jatuh di kawasan perbukitan berhutan di dekat Bassersdorf dan kemudian terbakar. Dari total 33 orang di dalam pesawat, sembilan orang berhasil selamat.[1]
Pesawat
Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah Avro 146-RJ100 dengan nomor registrasi HB-IXM, diproduksi pada tahun 1996. Saat kejadian, pesawat ini telah mencatat lebih dari 13.000 jam terbang dengan 11.500 siklus penerbangan. Pesawat tersebut ditenagai oleh empat mesin berbaling-baling turbo Lycoming LF507-1F.[1]
Kecelakaan
Penerbangan 3597 lepas landas dari Bandara Berlin Tegel pada pukul 21.01 waktu setempat (CET) dengan membawa 28 penumpang, tiga awak kabin, serta dua pilot di kokpit, yaitu Kapten Hans Ulrich Lutz (57 tahun) dan Kopilot Stefan Löhrer (25 tahun). Lutz merupakan pilot yang sangat berpengalaman dengan lebih dari 19.500 jam terbang, sekitar 19.300 jam di antaranya sebagai pilot komandan. Sebaliknya, pengalaman Löhrer masih tergolong sedikit, dengan total sekitar 490 jam terbang.
Sekitar satu jam setelah lepas landas dan memasuki wilayah udara Zürich, pesawat ini awalnya mendapat izin untuk melakukan pendekatan pendaratan menggunakan sistem ILS (Instrument Landing System) ke landasan pacu 14. Namun, setelah pukul 22.00, pendekatan dialihkan ke metode VOR/DME (VHF Omnidirectional Range/Distance Measuring Equipment, yakni sistem navigasi radio yang memberikan arah dan jarak) menuju landasan pacu 28, karena harus mematuhi aturan pembatasan kebisingan.[2]
Kondisi cuaca saat itu buruk dengan jarak pandang terbatas akibat awan rendah. Rekaman suara kokpit (CVR) mencatat komunikasi dari penerbangan Crossair sebelumnya yang menyampaikan bahwa landasan baru terlihat pada jarak sekitar 4,1km (2,5mi).[1] Pada pukul 22.07, pesawat jatuh di kawasan perbukitan berhutan dekat Bassersdorf, sekitar 4km (2,5mi) dari landasan, hancur dan terbakar. Sebanyak 24 orang meninggal dunia, termasuk kedua pilot dan satu awak kabin, sementara tujuh penumpang dan dua awak kabin selamat.
Penumpang
Penyanyi Amerika dan mantan anggota grup La Bouche, Melanie Thornton, merupakan salah satu penumpang yang tidak selamat dalam kecelakaan tersebut.
Di antara korban tewas terdapat penyanyi Amerika Melanie Thornton, mantan vokalis utama grup Eurodance La Bouche, serta Nathaly van het Ende dan Maria Serrano Serrano dari grup Passion Fruit.[3][4] Anggota ketiga grup tersebut, Debby St. Maarten, bersama manajer mereka termasuk di antara yang selamat. Pengusaha sekaligus politikus Swiss Jacqueline Badran dan rekannya Peter Hoegenkamp juga termasuk penyintas.
Penyelidikan
Lokasi kecelakaanMonumen peringatan bagi para korban
Meskipun Kapten Lutz berpengalaman, kompetensinya menjadi sorotan dalam penyelidikan oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Swiss (AAIB). Kesimpulan utama menyatakan bahwa kecelakaan ini merupakan controlled flight into terrain (CFIT), atau kondisi saat pesawat dalam keadaan terkendali tetapi menabrak permukaan tanah yang disebabkan oleh serangkaian kesalahan pilot dan kekeliruan navigasi yang membuat pesawat keluar dari jalur.[5] Pesawat akhirnya menabrak puncak bukit sekitar 4,05 kilometer (2,52mi; 2,19nmi) sebelum landasan dan 150 meter (490ft) di sebelah utara jalur pendaratan yang seharusnya.
Penerbangan ini awalnya dijadwalkan mendarat di landasan pacu 14 yang dilengkapi sistem ILS. Rekaman CVR menunjukkan bahwa kedua pilot sempat membahas prosedur pendekatan tersebut, termasuk instruksi untuk melaporkan ketinggian saat mendekati decision altitude (ketinggian keputusan untuk melanjutkan atau membatalkan pendaratan). Namun, karena keterlambatan jadwal untuk melakukan pendaratan, rencana pendaratan diubah ke landasan pacu 28 yang menggunakan pendekatan VOR/DME, yang kurang presisi dan memiliki batas ketinggian minimum penurunan (minimum descent altitude atau MDA) yang lebih tinggi.
MDA merupakan ketinggian minimum yang harus dipertahankan hingga landasan terlihat secara visual. Berbeda dengan pendekatan presisi, pilot harus tetap berada pada MDA sampai memperoleh kontak visual dengan landasan. Dalam kasus ini, Kapten Lutz menurunkan pesawat terlalu curam sehingga mencapai MDA terlalu cepat. Ketika ditanya apakah landasan sudah terlihat, kopilot sempat ragu sebelum menjawab "ya". Namun, berdasarkan simulasi, yang terlihat sebenarnya hanyalah permukaan perbukitan di bawah jalur penerbangan.
Setelah mencapai MDA sekitar 2.400 kaki (730m), Lutz tetap melanjutkan penurunan tanpa kontak visual yang memadai, yang mana hal ini merupakan sebuah kesalahan serius dalam prosedur penerbangan.[1] Kopilot juga tidak mengambil tindakan untuk menghentikan tindakan tersebut. Selain itu, Lutz tidak memantau jarak menggunakan DME secara konsisten, sehingga ia salah memperkirakan posisi dan ketinggian pesawat terhadap landasan.[1]
Menjelang kecelakaan, sistem peringatan kedekatan permukaan tanah (ground proximity warning system atau GPWS) memberi peringatan ketinggian 150 meter (490ft) di atas permukaan. Lutz menyadari situasi sudah kritis dan mencoba membatalkan pendaratan dan kembali terbang, tetapi terlambat. Mesin pesawat tidak sempat menghasilkan daya dorong yang cukup untuk menghindari permukaan bukit di depan mata, dan pesawat pun menabraknya pada pukul 22.06.
Laporan akhir
Laporan AAIB menyebutkan bahwa Kapten Lutz pernah melakukan kesalahan prosedur sebelumnya, tetapi tidak ditindaklanjuti oleh Crossair. Ia juga pernah gagal meningkatkan sertifikasi penerbangannya ke pesawat yang lebih kompleks dan terlibat dalam insiden lain, termasuk kesalahan serius dalam navigasi dan pendaratan.
Meskipun demikian, ia tetap diizinkan menerbangkan penumpang, diduga karena kekurangan pilot yang memenuhi kualifikasi. Catatan yang ada menunjukkan terdapat beberapa kejadian hampir celaka (near miss) dan kesalahan navigasi signifikan dalam penerbangan sebelumnya.
Selain kesalahan pilot, beberapa faktor lain turut andil, antara lain:
Perbukitan di lokasi kecelakaan tidak ditandai dalam peta pendekatan yang digunakan oleh awak pesawat.
Tidak adanya sistem peringatan ketinggian minimum aman (minimum safe altitude warning atau MSAW) di landasan pacu 28.
Metode penentuan jarak pandang di Bandar Udara Zürich kurang memadai untuk landasan tersebut.
Batas minimum jarak pandang saat itu dinilai tidak sesuai untuk pendekatan standar.
Sebagai tanggapan atas kecelakaan tersebut, Crossair menetapkan ketentuan baru untuk pendaratan di landasan pacu 28. Ketentuan ini mencakup jarak pandang horizontal minimum sejauh 5 kilometer (3,1mi) serta ketinggian awan di atas 500 meter (1.600ft). Persyaratan ini jauh lebih ketat dibandingkan ketentuan sebelumnya dari Kantor Federal Penerbangan Sipil yang hanya mensyaratkan jarak pandang 1,5 kilometer (0,93mi).[6]
Selain itu, juru bicara Crossair menambahkan bahwa pendaratan juga tidak akan diizinkan apabila terdapat hambatan lokal akibat awan rendah atau kabut di area sekitar.[6]
Dramatisasi media
Kecelakaan ini diangkat dalam seri dokumenter Mayday (Air Crash Investigation) musim ke-10 dengan judul "Cockpit Failure",[7] dan muncul dalam laporan berita Jerman pada peringatan 20 tahun wafatnya Melanie Thornton pada 2021, termasuk wawancara dengan Debby St. Maarten yang selamat dari kecelakaan tersebut.
↑"10 celebrities who died in plane crashes". The Economic Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 April 2026. Thornton had just performed at a Christmas concert in Leipzig and was en route to her next appearance when the Crossair Flight 3597 crashed during its approach, descending too early into a wooded hillside due to pilot misjudgment.