Contra Celsum

Melawan Kelsos (Yunani Kuno: Κατὰ Κέλσουcode: grc is deprecated , Kata Kelsoucode: grc is deprecated ; Latin: Contra Celsumcode: la is deprecated ), yang secara lengkap dilestarikan dalam bahasa Yunani, adalah sebuah karya apologetika besar yang ditulis Bapa Gereja Origenes dari Aleksandria sekitar tahun 248 Masehi. Risalah ini merupakan tanggapan terhadap tulisan-tulisan Kelsos, seorang filsuf dan kontroversialis pagan yang telah melancarkan serangan keras terhadap Kekristenan melalui risalahnya, Ajaran Yang Benar (Λόγος Ἀληθήςcode: grc is deprecated , Logos Alēthēscode: grc is deprecated ). Di antara berbagai kritik lainnya, Kelsos mengecam banyak doktrin Kristen karena dianggap tidak rasional serta mengkritik umat Kristen sebagai orang-orang yang tidak terpelajar, berada dalam delusi, tidak patriotik, berpikiran sempit terhadap akal budi, dan terlalu menerima orang-orang berdosa. Ia menuduh Yesus melakukan mukjizat-mukjizatnya dengan menggunakan ilmu hitam, alih-alih dengan kuasa Ilahi yang sejati, dan menjiplak isi ajarannya dari Plato. Kelsos memperingatkan bahwa Kekristenan itu sendiri menarik orang-orang menjauhi agama tradisional serta mengeklaim bahwa pertumbuhannya akan mengakibatkan runtuhnya nilai-nilai tradisional yang konservatif.
Origenes menulis Contra Celsum atas permintaan pelindungnya, seorang penganut Kristen yang kaya bernama Ambrosius, yang bersikeras bahwa seorang Kristen perlu menulis tanggapan terhadap Kelsos. Dalam risalah itu sendiri, yang ditujukan kepada para pembaca yang tertarik pada Kekristenan tetapi belum memutuskan untuk berpindah agama, Origenes menanggapi argumen-argumen Kelsos satu per satu dari perspektif seorang filsuf Platonis. Setelah mempertanyakan kredibilitas Kelsos, Origenes melanjutkan dengan menanggapi kritik Kelsos mengenai peran iman dalam Kekristenan, identitas Yesus Kristus, interpretasi alegoris terhadap Alkitab, dan hubungan Kekristenan dengan agama Yunani tradisional.
Para akademisi modern mencatat bahwa Origenes dan Kelsos sesungguhnya sepakat dalam banyak pokok doktrin. Keduanya secara tegas menolak gagasan konvensional tentang dewa-dewa yang bersifat antropomorfis, penyembahan berhala, dan literalisme religius. Contra Celsum dianggap sebagai salah satu karya terpenting apologetika Kristen awal. Eusebius, seorang sejarawan Gereja, memuji risalah ini sebagai bantahan yang memadai terhadap seluruh kritik yang akan dihadapi oleh Gereja, dan risalah ini terus dikutip sepanjang abad kuno akhir.
Latar belakang
Ajaran Yang Benar karya Kelsos

Kelsos, seorang filsuf pagan, menulis sebuah polemik berjudul Ajaran Yang Benar (Yunani: Λόγος Ἀληθήςcode: grc is deprecated , Logos Alēthēscode: grc is deprecated ), di mana ia mengemukakan berbagai argumen terhadap Kekristenan.[4][5][6] Pada empat kesempatan, Kelsos merujuk kepada seorang filsuf Neopythagorean, Numenios dari Apamea, yang hidup pada akhir abad ke-2 Masehi.[7] Hal ini menandakan bahwa Kelsos kemungkinan besar tidak hidup lebih awal dari akhir abad ke-2.[7] Banyak akademisi memperkirakan Ajaran Yang Benar ditulis saat masa kekuasaan Kaisar Romawi Markus Aurelius (121-180 Masehi),[7] karena argumen Kelsos di Buku VIII, saat ia mengemukakan gagasan mengenai kewajiban kepada negara dalam hal ibadah maupun perang, mirip dengan gagasan yang dijelaskan oleh Markus Aurelius dalam Meditasi.[7] Robert Louis Wilken memperkirakan risalah tersebut berasal dari sekitar tahun 170 Masehi.[6]
Segala sesuatu yang diketahui tentang pribadi Kelsos hanya berasal dari teks yang masih bertahan dari bukunya dan dari apa yang Origenes katakan tentang dirinya.[6] Meskipun pada awalnya Origenes menyebut Kelsos sebagai seorang "Epikurean",[7][8][9] argumen-argumen Kelsos malah mencerminkan gagasan-gagasan tradisi Platonis, bukan Epikurean.[7][10][9] Origenes mengaitkan hal ini dengan ketidakkonsistenan Kelsos,[7] tetapi para sejarawan modern justru memandangnya sebagai bukti bahwa Kelsos sama sekali bukan seorang Epikurean.[7][8] Joseph Wilson Trigg berpendapat bahwa Origenes kemungkinan keliru dengan menganggap Kelsos, penulis Ajaran Yang Benar, dengan Kelsos yang berbeda, seorang filsuf Epikurean dan teman satiris Suriah, Lukianos.[8] Kelsos yang Epikurean diperkirakan hidup di masa yang kurang lebih sama dengan penulis Contra Celsum dan ia disebutkan oleh Lukianos dalam risalahnya, Dalam Keajaiban.[8] Baik Kelsos teman Lukianos dan Kelsos penulis Ajaran Yang Benar sama-sama memiliki semangat yang kuat dalam menentang superstitio, sehingga semakin mudah untuk memahami mengapa Origenes dapat menyimpulkan bahwa keduanya adalah orang yang sama.[8]
Stephen Thomas berpendapat bahwa Kelsos mungkin bukanlah seorang Platonis per se,[7] tetapi ia jelas sangat familier dengan Plato.[7] Filsafat Kelsos yang sebenarnya tampaknya merupakan perpaduan unsur-unsur yang berasal dari Platonisme, Aristotelianisme, Pythagoreanisme, dan Stoikisme.[7] Wilken juga menyimpulkan bahwa Kelsos adalah seorang eklektik filosofis, yang pandangan-pandangannya mencerminkan berbagai gagasan yang populer di sejumlah aliran yang berbeda.[11] Wilken mengklasifikasikan Kelsos sebagai "seorang intelektual konservatif", dengan mencatat bahwa "ia mendukung nilai-nilai tradisional dan membela keyakinan-keyakinan yang diterima".[11] Ahli teologi Robert M. Grant mengatakan bahwa Origenes dan Kelsos sesungguhnya sepakat dalam banyak hal:[12] "Keduanya sama-sama menentang antropomorfisme, penyembahan berhala, dan segala bentuk teologi yang secara kasar bersifat literal."[12] Kelsos juga menulis risalah sebagai seorang warga yang setia kepada Kekaisaran Romawi dan penganut paganisme Yunani-Romawi yang taat. Ia memandang Kekristenan dengan curiga sebagai sesuatu yang baru dan asing.[13]
Thomas menyatakan bahwa Kelsos "bukan orang yang genius dalam filsafat".[7] Walaupun begitu, sebagian besar akademisi, termasuk Thomas sendiri, sepakat bahwa kutipan-kutipan Origenes dari "Ajaran Yang Benar" menunjukkan bahwa risalah tersebut disusun berdasarkan penelitian yang mendalam.[3][14][10][13] Kelsos menunjukkan pengetahuan yang luas tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru[7][10][13] serta sejarah Yahudi dan Kristen.[10][13] Kelsos juga sangat memahami ciri-ciri sastra polemik kuno.[13] Kelsos tampaknya telah membaca setidaknya satu tulisan apologetika Kristen abad ke-2, kemungkinan karya Yustinus Martir atau Aristides dari Athena.[15][16] Dari bacaan tersebut, Kelsos tampaknya mengetahui argumen seperti apa yang menjadi titik paling lemah dari orang Kristen.[16] Ia juga menyebut Ophit dan Simonian, yang merupakan dua sekte Gnostik yang hampir sepenuhnya telah lenyap pada zaman Origenes.[15] Salah satu sumber utama Kelsos untuk Buku I–II Ajaran Yang Benar adalah sebuah polemik anti-Kristen terdahulu yang ditulis oleh seorang penulis Yahudi anonim,[13][7] yang Origenes sebut sebagai "Kelsos versi Yahudi".[7] Sumber Yahudi ini juga memberikan kritik terhadap Kekristenan yang disusun dengan sangat baik,[13] dan meskipun Kelsos juga bersikap bermusuhan terhadap ajaran Yahudi,[13] terkadang ia mengandalkan argumen penulis Yahudi tersebut.[13]
Tanggapan Origenes
Contra Celsum kemungkinan ditulis sekitar tahun 248 saat Origenes tinggal di Kaisarea.[17][3][5] Menurut Eusebius (ca 260–ca 340 M), seorang sejarawan Gereja, Origenes berusia lebih dari 60 tahun saat ia mulai menulis risalah tersebut.[3] Ia pertama kali diperkenalkan kepada Ajaran Yang Benar karya Kelsos oleh teman sekaligus pelindungnya, seorang penganut Kristen yang kaya bernama Ambrosius.[5] Tidak jelas seberapa dikenal buku tersebut pada masa itu, tetapi Origenes sebelumnya belum pernah mendengar tentang buku tersebut, dan Ambrosius adalah orang Kristen pertama yang diketahui telah membacanya.[5] Joseph Wilson Trigg berpendapat bahwa Ambrosius mungkin pertama kali mengenal buku tersebut melalui interaksi dengan kalangan intelektual pagan berpengaruh, yang mungkin menjadikan buku tersebut sebagai rujukan untuk menjelaskan kemunduran Kekaisaran Romawi yang sedang berlangsung seiring penanggalan Ab urbe condita mendekati akhir milenium pertamanya.[5] Bagaimanapun, Ambrosius menganggap buku tersebut sebagai ancaman serius terhadap perkembangan Kekristenan dan meyakini bahwa Origenes perlu menulis sanggahan terhadap buku tersebut.[5]
Taktik yang biasanya digunakan Gereja dalam menghadapi tulisan-tulisan yang menyerang Kekristenan adalah dengan mengabaikannya,[4] karena diyakini bahwa pada akhirnya tulisan-tulisan tersebut akan lenyap dan dilupakan.[4] Dengan demikian, cara inilah yang dipilih Gereja untuk menanggapi Kelsos.[4] Awalnya, Origenes juga mengikuti tanggapan tradisional ini,[4][13][5] dengan berpendapat bahwa pendekatan tersebut juga diambil oleh Kristus, dengan merujuk pada penolakan Yesus untuk menanggapi Kayafas dalam persidangannya sebelum ia diadili Sanhedrin.[4][5] Meskipun begitu, Ambrosius terus bersikeras bahwa Origenes perlu menulis tanggapan.[18][5] Pada akhirnya, salah satu klaim utama Kelsos, yang menyatakan bahwa tidak ada seorang filsuf tradisi Platonis yang memiliki harga diri yang akan dengan cukup bodoh menjadi orang Kristen, memicu Origenes untuk menulis sebuah sanggahan.[4]
Dalam pengantarnya, Origenes secara spesifik menyatakan bahwa Contra Celsum tidak ditujukan bagi mereka yang telah berpindah ke agama Kristen,[3][19] tetapi bagi orang-orang non-Kristen yang tertarik terhadap iman Kristen tetapi belum memutuskan untuk menjadi Kristen.[3][19] John Anthony McGuckin menyatakan bahwa Origenes mungkin mengambil tugas penulisan Contra Celsum dengan tujuan untuk mengembangkan sekolah Kristen yang sedang ia rintis di Kaisarea.[3] Menurut McGuckin, Origenes mungkin ingin memastikan agar kaum pagan terpelajar yang mengikuti pendidikan umum di sekolah tersebut tetapi mulai tertarik pada Kekristenan dapat merujuk pada pembelaan yang serius terhadap agama tersebut.[3] Karena itu, ia mungkin menulis Contra Celsum sebagian guna menjawab kekhawatiran mengenai Kekristenan yang mungkin dimiliki para murid tersebut.[3]
Ringkasan
Dalam risalah tersebut, Origenes menyanggah argumen-argumen Kelsos satu per satu secara sistematis[20][2] dan berargumen bahwa iman Kristiani memiliki dasar yang rasional.[21][22][12] Origenes banyak merujuk pada ajaran Plato[23] dan berpendapat bahwa Kekristenan tidak bertentangan dengan filsafat Yunani.[23] Origenes menekankan bahwa filsafat Yunani mengandung banyak hal yang benar dan mengagumkan,[23] namun Alkitab mengandung kebijaksanaan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat dipahami para filsuf Yunani.[23]
Kredibilitas Kelsos
Origenes berusaha untuk melemahkan kredibilitas Kelsos terlebih dahulu dengan menyebutnya sebagai seorang Epikurean, karena pada abad ke-3, Epikureanisme hampir secara universal dipandang sebagai ajaran yang tidak kredibel dan keliru, akibat isi ajarannya soal materialisme, sanggahannya terhadap penyelenggaraan Ilahi, dan ajaran hedonistiknya dalam etika.[24] Walaupun begitu, Origenes berhenti menyebut Kelsos sebagai seorang Epikurean pada sekitar bagian pertengahan teks, kemungkinan karena makin sulit baginya untuk menampilkan Kelsos dalam citra tersebut mengingat Kelsos tampak jelas memiliki simpati terhadap Plato.[25] Origenes juga berusaha untuk melemahkan kredibilitas Kelsos dengan menunjukkan ketidaktahuannya akan beberapa isu tertentu.[25] Dalam dua kasus, Origenes menunjuk pada permasalahan dalam interpretasi literal ayat-ayat Alkitab yang Kelsos sendiri abaikan: kontradiksi mengenai silsilah Yesus di dalam Injil Matius dan Injil Lukas, serta kemustahilan bahwa Bahtera Nuh, jika dibangun berdasarkan perkiraan ukuran yang dicantumkan di Kitab Kejadian, dapat menampung seluruh binatang yang dianggap dapat ditampung oleh bahtera tersebut. Berdasarkan contoh-contoh ini, Origenes berusaha untuk menunjukkan bahwa kritik yang dilontarkan Kelsos didasarkan pada interpretasi Alkitab yang terlalu literal sehingga menjadi cacat.[25] Origenes juga menggunakan pelatihannya dalam analisis isi teks untuk mempertanyakan integritas bukti Yahudi yang digunakan Kelsos.[25] Origenes menunjukkan bahwa sumber "Yahudi" tersebut merujuk pada nubuat-nubuat Perjanjian Lama yang sebenarnya tidak ada, menandakan bahwa penulis sumber tersebut tidak familier dengan Alkitab Ibrani.[25] Ia juga menekankan dengan kecurigaan bahwa sumber "Yahudi" tersebut mengutip Euripides, seorang penulis tragedi Yunani[25] dan bahwa sumber tersebut berargumen menentang mukjizat-mukjizat yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru, mengatakannya sebagai hal yang tidak rasional, meskipun argumen yang sama dapat diterapkan kepada mukjizat-mukjizat dalam Alkitab Ibrani.[25]
Peran iman dalam Kekristenan
Origens menyanggah banyak tuduhan yang dilontarkan Kelsos terhadap Kekristenan, dengan mengatakan tuduhan-tuduhan tersebut salah atau tidak dapat diterapkan.[26][27] Dalam banyak kasus, meskipun Origenes tampak menyanggah Kelsos, ia juga menyanggah gagasan-gagasan sesama orang Kristen yang ia anggap keliru.[26] Sebagai contoh, ketika ia membantah tuduhan Kelsos bahwa penganut Kristen percaya bahwa Tuhan mereka adalah seorang pria tua pemarah yang hidup di langit, Origenes juga menanggapi para penganut Kristen yang benar-benar percaya akan hal ini.[28] Ia membela pernyataan-pernyataan dalam Alkitab yang menjanjikan bahwa orang jahat akan dihukum menggunakan api dengan menegaskan bahwa "Logos, yang menyesuaikan dirinya sendiri terhadap apa yang sesuai bagi kumpulan orang yang akan membaca Alkitab, secara bijak menuturkan kata-kata mengancam yang mengandung arti tersembunyi untuk menakut-nakuti orang yang tidak dapat dengan cara lain berbalik dari arus kejahatan".[28] Origenes menanggapi tuduhan Kelsos bahwa orang Kristen meremehkan nalar dan pendidikan demi iman dengan berpendapat bahwa, meskipun penganut Kristen memang percaya akan hal-hal berdasarkan iman, iman ini dapat dibenarkan secara rasional;[28] tetapi, karena hanya sedikit orang yang tertarik terhadap pembenaran filosofis di belakang agama tersebut, hal ini biasanya tidak diajarkan, kecuali kepada mereka yang bijak.[28]
Origenes selanjutnya menyatakan bahwa para filsuf Yunani umumnya menerima doktrin dari sekolah filsafat mereka tanpa mempertanyakannya, sehingga Kelsos bersikap hipokrit ketika mengecam sebagian besar penganut Kristen yang melakukan hal yang sama.[29] Bertentangan dengan klaim Kelsos bahwa penganut Kristen meremehkan pendidikan, Origenes berargumen bahwa umat Kristen sebenarnya mempelajari sastra dan filsafat sebagai persiapan untuk memahami misteri-misteri iman.[30] Origenes menanggapi tuduhan Kelsos bahwa orang Kristen merahasiakan doktrin mereka dengan menekankan bahwa tuduhan ini jelas-jelas salah dan bahwa sebagian besar orang, pada kenyataannya, jauh lebih familier dengan ajaran yang dianut orang Kristen dibandingkan dengan ajaran berbagai sekolah filsafat Yunani.[30] Ia memang berpendapat bahwa Kekristenan tidak pernah mengungkapkan ajaran mistiknya kepada khalayak umum dan hanya menyampaikannya kepada mereka yang menunjukkan kemurnian sejati dan keterlepasan dari hal-hal duniawi. Akan tetapi, menurutnya, sekolah-sekolah filsafat Yunani seperti Pythagoreanisme juga melakukan hal yang sama.[30]
Origenes berargumen bahwa iman Kristen dibenarkan melalui "kekuatan akan keyakinan Roh", sebuah frasa yang dikutip dari Rasul Paulus dalam Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus 2:4. Origenes berpendapat bahwa, meskipun orang-orang dalam periode kehidupan mereka tidak dapat menyaksikan langsung mukjizat-mukjizat Yesus atau para rasul, dampak mukjizat-mukjizat tersebut terhadap komunitas Kristen terlihat jelas dan dengan demikian pastilah memiliki sebab.[31] Origenes membalikkan ejekan Kelsos terhadap asal-usul Yesus yang sederhana dengan mengatakan "Namun, ia telah mampu mengguncang seluruh dunia manusia, tidak hanya lebih dari Themistokles dari Athena, namun bahkan juga lebih dari Pythagoras dan Plato dan seluruh filsuf atau kaisar atau jenderal lainnya di bagian dunia manapun."[32] Demikian pula, Origenes menanggapi hinaan Kelsos terhadap fakta bahwa Yesus memilih nelayan dan petani sederhana sebagai murid-muridnya dengan menegaskan bahwa hal ini justru membuat keberhasilan penyebaran Injil Kristus menjadi makin menakjubkan; sebab jika Yesus memilih orang-orang yang terampil dalam beretorika sebagai utusannya, maka akan menjadi hal yang tidak mengherankan bila Kekristenan berhasil menyebar ke seluruh wilayah dunia.[33] Maka dari itu, Origenes menafsirkan kesuksesan Kekristenan sebagai bukti bahwa Tuhan bekerja untuk menyebarkannya di dunia.[33]
Identitas Yesus Kristus
Perbedaan paling serius pandangan Origenes dengan Kelsos adalah mengenai identitas Yesus.[34] Kelsos berargumen bahwa ajaran Kristen mengenai inkarnasi Yesus tidak dapat ditoleransi dan keliru, karena ini tidak hanya berarti bahwa Allah berubah wujud, tetapi Ia juga berubah wujud untuk menjadi hal yang lebih buruk. Origenes menjawab hal ini dengan berargumen bahwa karena manusia telah menjadi daging, Logos tidak dapat secara efektif mengungkapkan Allah kepada manusia tanpa menjadi daging terlebih dahulu.[35] Ia menyampaikan bahwa hal ini bukan berarti Logos berasal dari seorang manusia wanita, melainkan Logos bersatu dengan jiwa dan tubuh manusia.[35] Sementara Kelsos mencemooh gagasan bahwa Logos akan berinkarnasi begitu terlambat dalam sejarah manusia dan di tempat yang begitu terpencil, Origenes menanggapi bahwa Logos telah selalu membimbing manusia menuju akal budi, tetapi Logos dengan tepat berinkarnasi pada masa Pax Romana ketika pesan Tuhan dapat disebarkan tanpa terhalang oleh peperangan dan perpecahan faksi.[36] Origenes menanggapi tuduhan Kelsos bahwa Yesus telah melakukan mukjizat-mukjizatnya dengan menggunakan sihir alih-alih kuasa Ilahi dengan menyatakan bahwa, tidak seperti para penyihir, Yesus tidak melakukan mukjizat-mukjizatnya untuk pertunjukan, melainkan untuk memperbarui para pendengarnya.[36][21] Origenes membela ajaran moral Yesus dari tuduhan Kelsos bahwa ajaran tersebut hanyalah bentuk plagiat dari Plato, dengan menyatakan bahwa merupakan hal yang konyol untuk berpikir bahwa Yesus, seorang Yahudi dari Galilea, akan melakukan hal semacam itu.[36] Sebaliknya, kemiripan antara Yesus dan Plato semata-mata murni merupakan akibat dari fakta bahwa Logos, yang menjelma dalam diri Yesus, terkadang menginspirasi Plato.[36]
Interpretasi alegoris
Kelsos berargumen bahwa penafsiran Kristen terhadap beberapa ayat Alkitab tertentu sebagai alegoris tidak lebih dari sebuah upaya lemah untuk menyembunyikan kebarbaran isi kitab suci mereka.[37] Origenes menyanggah hal ini dengan menunjukkan bahwa Kelsos sendiri tanpa keraguan mendukung pandangan yang diterima secara luas bahwa puisi-puisi Homerus dan Hesiod merupakan bentuk alegori[38] dan menuduh Kelsos memiliki standar ganda.[38] Origenes mengutip beberapa mitos dari Plato, membandingkannya dengan beberapa mitos dalam Alkitab, dan memuji keduanya sebagai memiliki makna spiritual yang luhur.[38] Ia kemudian mengkritik mitos-mitos Homeros dan Hesiodos, termasuk pengebirian Uranus dan penciptaan Pandora, sebagai "tidak hanya sangat bodoh, tapi juga sangat irreligius".[39]
Origenes menganalisis kisah-kisah dalam Alkitab, seperti kisah Taman Eden dan putri-putri Lot, dan membela kisah-kisah tersebut dari tuduhan Kelsos mengenai ketidakmoralannya.[40] Akhirnya, Origenes membela interpretasi alegoris Alkitab, sambil mempertanyakan apakah Kelsos bahkan pernah membaca tulisan-tulisan filsafat yang benar-benar membahas Alkitab karya dua orang Yahudi, Filo dan Aristobulus dari Aleksandria, serta karya seorang Neopythagorean, Numenios dari Apamea.[41] Dalam tanggapannya terhadap tuduhan Kelsos bahwa interpretasi-interpretasi alegoris ini merupakan hal yang "tidak masuk akal", Origenes merujuk pada beberapa ayat Alkitab yang ia interpretasikan sebagai pembenaran bagi interpretasi alegoris.[41]
Kekristenan versus agama Yunani
Alasan utama Kelsos mengecam Kekristenan adalah karena Kekristenan bukan merupakan agama tradisional dan karena Kekristenan menyebabkan orang-orang meninggalkan pemujaan terhadap leluhur mereka.[41] Origenes menanggapi hal ini dengan menegaskan bahwa pemujaan terhadap leluhur tidak selalu merupakan hal yang baik.[42] Ia bertanya kepada Kelsos apabila Kelsos menginginkan bangsa Skithia melakukan kembali kebiasaan lama mereka berupa parisida (pembunuhan orang tua), bangsa Persia melakukan kebiasaan lama mereka berupa inses, atau bangsa Tauri dan bangsa Libya melakukan kebiasaan lama mereka berupa pengorbanan manusia.[42] Sementara Kelsos memandang kesediaan Kekristenan untuk menerima orang-orang berdosa sebagai hal yang menjijikan, Origenes justru menyatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang patut dipuji, dengan menegaskan bahwa bahkan orang-orang berdosa terburuk sekalipun memiliki kemampuan untuk bertobat dan menempuh jalan kekudusan,[43] dengan memberi contoh bagaimana Sokrates mengubah Phaedo, seorang pelacur laki-laki, menjadi seorang filsuf yang bijaksana dan bagaimana Xenokrates menjadikan Polemon, seorang pembuat onar terkenal, sebagai penerusnya sebagai kepala Akademi Plato.[43] Kelsos mengutuk ibadah Kristen sebagai hal yang berlebihan dan murahan, karena penganut Kristen tidak menggunakan kuil, gambar, altar, atau upacara yang megah.[44] Origenes memuji praktik-praktik tersebut sebagai sesuatu yang agung, dengan menyatakan bahwa Kekristenan merupakan bentuk ibadah spiritual yang paling sejati.[44]
Kelsos menuduh orang-orang Kristen sebagai orang yang tidak patriotik, mengkritik mereka karena mereka menolak untuk menyembah genius kaisar dan menolak bertugas dalam militer Romawi.[45] Origenes menyatakan bahwa genius kaisar tidak boleh disembah, karena jika genius kaisar sebenarnya tidak ada, maka merupakan hal yang bodoh untuk menyembah sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dan, jika genius benar ada, maka hal tersebut merupakan setan dan merupakan hal yang sesat untuk menyembah setan.[46] Origenes juga membela penolakan penganut Kristen untuk bertugas dalam militer dengan mendasarkan argumennya pada pernyataan-pernyataan dalam Alkitab yang melarang kekerasan dan pembunuhan.[47][48][49][50] Ia menyatakan bahwa jika semua orang hidup penuh damai dan kasih seperti para penganut Kristen, maka tidak akan lagi ada perang dan Kekaisaran tidak akan membutuhkan militer.[46] Lebih lanjut lagi, ia menyatakan bahwa seluruh orang Kristen adalah imam, dan seperti imam pagan, mereka harus menjauhi kekerasan dan pembunuhan, yang akan menajiskan mereka.[46]
Origenes juga melakukan serangan balik terhadap filsafat pagan Kelsos yang tinggi dengan menunjukkan bahwa bahkan para filsuf besar yang dikagumi Kelsos pun menyembah berhala.[51] Origenes menegaskan bahwa para filsuf tersebut sebenarnya mengetahui bahwa mereka tidak seharusnya menyembah berhala, dengan mengutip sebuah fragmen dari Herakleitos, seorang filsuf pra-Sokratik, yang menulis "Mereka yang mendekati benda mati sebagai dewa-dewa sama seperti orang yang berbicara dengan rumah-rumah",[51] namun mereka tetap mengompromikan pandangan filsafat mereka dengan tunduk pada konvensi agama populer.[51] Oleh karena itu, Origenes menyimpulkan bahwa Kekristenan lebih sesuai dengan prinsip-prinsip Platonisme daripada paganisme itu sendiri[52] dan bahwa Platonisme hanya dapat menjadi kebijaksanaan yang bersifat praktis, bukan sekadar teoretis, jika dikristenkan.[52]
Manuskrip
Teks lengkap Contra Celsum dilestarikan melalui tradisi manuskrip abad pertengahan dalam sebuah manuskrip tunggal, Vaticanus graecus 386 (A), yang berasal dari abad ke-13.[53] Manuskrip ini disalin oleh dua orang juru tulis yang memiliki akses ke sebuah manuskrip berkualitas rendah yang berisi banyak kesalahan tekstual, namun setelah mereka selesai menyalinnya, mereka memperoleh akses ke manuskrip dengan kualitas yang jauh lebih baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan pada teks yang telah mereka salin.[53] Meskipun kedua juru tulis tersebut terlibat dalam penyalinan, salah satunya melakukan sebagian besar penyalinan.[53] Para juru tulis berikutnya menambahkan lebih banyak koreksi pada Vaticanus graecus 386 di abad ke-14, awal abad ke-15, dan akhir abad ke-15.[53] Meskipun manuskrip-manuskrip lengkap Contra Celsum lainnya bertahan, semuanya merupakan salinan dari Vaticanus graecus 386 sehingga bukanlah representasi independen dari teks tersebut.
Sejumlah besar kutipan dari Contra Celsum juga dilestarikan melalui Filokalia, sebuah antologi kutipan dan uraian dari Origenes yang disusun pada abad ke-4 oleh Basilius dari Kaisarea dan Gregorius dari Nazianzus.[53] Setidaknya lima puluh salinan manuskrip Filokalia bertahan, yang semuanya diyakini disalin dari sebuah manuskrip tunggal di abad ke-7 (Φ).[53] Kutipan-kutipan lain juga dilestarikan dalam Papirus Kairo N° 88747 yang ditemukan pada tahun 1941 di Tura, Mesir, tidak jauh di luar Kairo.[53] Papirus Tura berasal dari abad ke-7[53] dan sering lebih dekat dengan teks Vaticanus graecus 386 daripada dengan manuskrip arketipal abad ke-7 yang menjadi dasar semua salinan Filokalia.[54] Meskipun demikian, banyak bagian dalam Papirus Tura yang diringkas atau disingkat.[55]
Penerimaan dan evaluasi

Historis
Contra Celsum menjadi karya apologetika Kristen awal yang paling berpengaruh.[20][2][56] Sebelum risalah ini ditulis, Kekristenan dipandang hanya sekadar agama rakyat bagi kaum buta huruf dan tidak terpelajar oleh banyak pihak ,[21][2] tetapi Origenes meningkatkan Kekristenan ke tingkat kehormatan intelektual.[1][2] Eusebius sangat mengagumi Contra Celsum sehingga dalam karyanya, Contra Hieroclem, ia menyatakan bahwa Contra Celsum memberikan bantahan yang memadai terhadap semua kritik yang akan dihadapi oleh Gereja.[3] Para kompilator Filokalia pada abad ke-4 Masehi sangat mengandalkan Contra Celsum[57] dan hampir sepertujuh keseluruhan teks Filokalia dikutip langsung dari risalah tersebut.[57] Bessarion (1403–1472), seorang pengungsi Yunani yang melarikan diri ke Italia setelah Jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453, menghasilkan terjemahan Latin pertama atas Contra Celsum, yang dicetak pada tahun 1481.[58]
Modern
Penilaian ilmiah pada awal era modern terhadap Contra Celsum karya Origenes cenderung sangat negatif.[59] Akademisi Jerman, Franz Overbeck (1837–1905), meremehkan Origenes atas "metode perdebatan yang rendah" darinya.[59] Robert Bader berpendapat bahwa kemampuan yang dianggap dimiliki oleh akademisi modern untuk merekonstruksi teks asli Kelsos merupakan ilusi.[59] Ahli teologi Carl Andresen (1909-1985) bahkan melangkah lebih jauh lagi, dengan mengeklaim bahwa Origenes telah mengutip pernyataan Kelsos secara selektif dan di luar konteks sedemikian rupa, sehingga penggambaran Origenes terhadap argumen-argumen Kelsos menjadi tidak akurat sama sekali.[59] Filolog Jerman, Heinrich Dörrie (1911–1983), mempertanyakan kompetensi filosofis Origenes.[59] Di pertengahan abad ke-20, penilaian akademis terhadap Contra Celsum mulai menjadi kurang negatif secara terbuka;[59] Die 'Wahre Lehre' des Kelsos karya Horacio E. Lona kurang bersifat merendahkan terhadap Origenes dibandingkan tulisan-tulisan para akademisi sebelumnya.[59] Di akhir abad ke-20, komentator Marcel Borret dan Henry Chadwick memberikan penilaian positif terhadap kritik Origenes dengan menyoroti logika formal Origenes yang tepat serta kompetensi filosofisnya.[59]
Para akademisi modern saat ini secara umum memberikan penilaian positif terhadap Contra Celsum.[60] Sebagian besar akademisi membantah pandangan Andresen yang menyatakan bahwa Origenes memalsukan atau secara sengaja menggambarkan karya Kelsos secara keliru,[61] dengan menegaskan bahwa bantahan Origenes yang sangat kompleks dan filosofis menunjukkan bahwa ia memandang Kelsos sebagai seseorang dengan kompetensi intelektual yang tinggi dan layak untuk memperoleh tanggapan yang serius dan akademis.[61] Para akademisi juga memperhatikan bahwa Origenes sering merujuk pada aturan-aturan kuno dalam debat dialektika serta niatnya untuk mematuhi aturan-aturan tersebut secara ketat.[61] Lebih lanjut, sepertinya merupakan hal yang tidak masuk akal bahwa Origenes akan mencurahkan begitu banyak waktu dan perhatian untuk membantah Kelsos, kecuali ia memang benar-benar sedang membantah apa yang telah ditulis Kelsos.[61] Adam Gregerman dan John Anthony McGuckin sama-sama memuji kejujuran intelektual Origenes,[18][13] dengan Gregerman menyatakan bahwa "bahkan pada saat paling meremehkan sekalipun, Origenes mengutip dan menanggapi pandangan Kelsos."[13]
Gregerman juga mengomentari beragamnya bukti yang digunakan Origenes untuk mendukung bantahannya, termasuk bukti dari "sejarah, logika, mitologi Yunani, filsafat, dan interpretasi Kitab Suci".[13] Ia menyebut Contra Celsum sebagai "sebuah karya apologetika Kristen awal yang memiliki nilai yang hampir tidak tertandingi".[13] Henri Crouzel, seorang akademisi Kekristenan awal, menyebut Contra Celsum, "bersama Kota Allah karya Agustinus, merupakan karya apologetika terpenting dari zaman kuno".[62] Johannes Quasten memuji risalah ini sebagai "apologetika terbesar Gereja awal".[62] Joseph Wilson Trigg menggambarkan Contra Celsum sebagai "draf awal... dari refleksi Kristen yang berkelanjutan mengenai evangelisasi budaya Helenistik yang kemudian berkembang lebih pesat pada era Bapa-bapa Kapadokia di abad ke-4 dan pada akhirnya menjadi piagam intelektual Kekristenan Bizantium—'Kristenisasi Helenisme,' sebagaimana disebut oleh Florovsky".[3]
Meskipun terdapat berbagai pujian tersebut, Stephen Thomas mengkritik Contra Celsum karena dianggap tersusun dengan kurang baik.[63] Menurut Thomas, pada awalnya Origenes berencana untuk membantah setiap argumen Kelsos satu per satu.[63] Namun, setelah ia mulai menggunakan metode ini, Origenes tampaknya berubah pikiran dan memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang lebih sistematis dengan hanya membantah pokok-pokok utama dari argumen Kelsos.[63] Sebagai akibatnya, Origenes mencampurkan kedua pendekatan tersebut,[63]sehingga bantahan-bantahannya menjadi makin panjang seiring berkembangnya karya tersebut.[63] Thomas menyimpulkan bahwa "nilai abadi karya tersebut terutama terletak pada karakternya sebagai suatu khazanah yang kaya bagi apologetika Kristen, lebih daripada sebagai sebuah karya apologetika yang tersusun dengan baik secara argumentatif."[63]
Terjemahan
Henry Chadwick membuat Contra Celsum versi terjemahan dalam bahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 1953 oleh Cambridge University Press.[64]
Referensi
- 1 2 Olson 1999, hlm. 101, 103.
- 1 2 3 4 5 McGuckin 2004, hlm. 32–34.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 McGuckin 2004, hlm. 33.
- 1 2 3 4 5 6 7 McGuckin 2004, hlm. 32.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Trigg 1983, hlm. 214.
- 1 2 3 Wilken 2003, hlm. 94.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Thomas 2004, hlm. 72.
- 1 2 3 4 5 Trigg 1983, hlm. 215.
- 1 2 Wilken 2003, hlm. 94–95.
- 1 2 3 4 Trigg 1983, hlm. 215–216.
- 1 2 Wilken 2003, hlm. 95.
- 1 2 3 Grant 1967, hlm. 552.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Gregerman 2016, hlm. 61.
- ↑ Thomas 2004, hlm. 72–73.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 216.
- 1 2 Wilken 2003, hlm. 101.
- ↑ Gregerman 2016, hlm. 62.
- 1 2 McGuckin 2004, hlm. 32–33.
- 1 2 Litwa 2014, hlm. 108.
- 1 2 Olson 1999, hlm. 101.
- 1 2 3 Olson 1999, hlm. 103.
- ↑ Heine 2004, hlm. 127.
- 1 2 3 4 Olson 1999, hlm. 102–103.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 222–223.
- 1 2 3 4 5 6 7 Trigg 1983, hlm. 223.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 223–224.
- ↑ Somos 2015, hlm. 169.
- 1 2 3 4 Trigg 1983, hlm. 224.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 224–225.
- 1 2 3 Trigg 1983, hlm. 225.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 226.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 226–227.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 227.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 228.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 228–229.
- 1 2 3 4 Trigg 1983, hlm. 229.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 230.
- 1 2 3 Trigg 1983, hlm. 230–231.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 231.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 231–232.
- 1 2 3 Trigg 1983, hlm. 232.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 232–233.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 233–234.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 234.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 235.
- 1 2 3 Trigg 1983, hlm. 236.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 235–236.
- ↑ Charles 2005, hlm. 36.
- ↑ Brock 1972, hlm. 11–12.
- ↑ Cahill 1994, hlm. 53–54.
- 1 2 3 Trigg 1983, hlm. 237–238.
- 1 2 Trigg 1983, hlm. 238–239.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Marcovich 2001, hlm. IX.
- ↑ Marcovich 2001, hlm. XII–XIII.
- ↑ Marcovich 2001, hlm. XII.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 239.
- 1 2 McGuckin 2004, hlm. 34.
- ↑ Trigg 1983, hlm. 255.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Somos 2015, hlm. 166.
- ↑ Somos 2015, hlm. 166–167.
- 1 2 3 4 Somos 2015, hlm. 167.
- 1 2 Gregerman 2016, hlm. 60.
- 1 2 3 4 5 6 Thomas 2004, hlm. 73.
- ↑ "Origen: Contra Celsum". Cambridge University Press. Diakses tanggal 11 Maret 2023.
Daftar pustaka
- Brock, Peter (1972), Pacifism in Europe to 1914, Princeton, New Jersey: Princeton University Press, ISBN 978-0-69161-972-9
- Cahill, Lisa Sowle (1994), Love Your Enemies: Discipleship, Pacifism, and Just War Theory, Minneapolis, Minnesota: Fortress Press, ISBN 978-0-80062-700-3
- Charles, J. Daryl (2005), Between Pacifism and Jihad: Just War and Christian Tradition, Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, ISBN 978-0-83082-772-5
- Grant, Robert M. (1967), "Origen", dalam Edwards, Paul (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, vol. 5, New York City, New York: The MacMillan Company & The Free Press, hlm. 551–552, OCLC 174214019
- Gregerman, Adam (2016), "Origen's Contra Celsum", Building on the Ruins of the Temple, Texts and Studies in Ancient Judaism, vol. 165, Tübingen, Jerman: Mohr Siebeck, hlm. 59–96, ISBN 978-3-16154-322-7
- Heine, Ronald E. (3 Mei 2004), "The Alexandrians", dalam Young, Francis; Ayres, Lewis; Louth, Andrew; Casiday, Augustine (ed.), The Cambridge History of Early Christian Literature, Cambridge, England: Cambridge University Press, hlm. 117–130, ISBN 978-0-521-46083-5
- Litwa, M. David (2014), Iesus Deus: The Early Christian Depiction of Jesus as a Mediterranean God, Minneapolis, Minnesota: Fortress Press, ISBN 978-1-45147-985-0
- Litwa, M. David (2014), Iesus Deus: The Early Christian Depiction of Jesus as a Mediterranean God, Minneapolis, Minnesota: Fortress Press, ISBN 978-1-45147-985-0
- Marcovich, M. (2001), "Preface", Contra Celsum: Libri VIII, Leiden, The Netherlands, Boston, Massachusetts, and Köln, Jerman: Brill, ISBN 9004119760
- McGuckin, John Anthony (2004), "The Scholarly Works of Origen", dalam McGuckin, John Anthony (ed.), The Westminster Handbook to Origen, Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, hlm. 25–44, ISBN 978-0-66422-472-1
- Olson, Roger E. (1999), The Story of Christian Theology: Twenty Centuries of Tradition & Reform, Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, ISBN 978-0-83081-505-0
- Somos, Róbert (2015), Fürst, Alfons (ed.), Logic and Argumentation in Origen, Adamantiana: Texte und Studien zu Origines und seinem Erbe, vol. 7, Münster, Jerman: Aschendorff Verlag, ISBN 978-3-40213-717-8
- Thomas, Stephen (2004), "Celsus", dalam McGuckin, John Anthony (ed.), The Westminster Handbook to Origen, Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, hlm. 72–73, ISBN 978-0-66422-472-1
- Trigg, Joseph Wilson (1983), Origen: The Bible and Philosophy in the Third-Century Church, Atlanta, Georgia: John Knox Press, ISBN 978-0-80420-945-8
- Wilken, Robert Louis (2003) [1984], The Christians as the Romans Saw Them, New Haven, Connecticut dan London, Inggris: Yale University Press, ISBN 978-0-30009-839-6
Pranala luar
- "Original" Contra Celsum, dalam bahasa Yunani, dari Origenes Werke (1899), ed. karya Paul Koetschau dan pub. oleh J.C. Hinrichs, dengan pendahuluan dan catatan keterangan dalam bahasa Jerman.
- Πρὸς τὸν ἐπιγεγραμμένον Κέλσου Ἀληθῆ λόγον Ὠριγένους τόμοι η´ (teks asli dalam bahasa Yunani)
- Critical and annotated English translation of Contra Celsum libri VIII, edidit M. Marcovich, Brill, Leiden, 2001.
- Teks-teks yang berkaitan dengan Kelsos dan Origenes pada Early Christian Writings
- Terjemahan Contra Celsum dalam bahasa Inggris oleh Frederick Crombie dari Ante-Nicene Fathers, vol. iv, at New Advent.
Buku audio domain publik Against Celsus di LibriVox- Foto-foto Papirus Kairo N° 88747 yang mengandung fragmen-fragmen teks dan manuskrip-manuskrip lain dari Tura
- Parisinus suppl. gr. 616 — salinan awal Vaticanus graecus 386 yang dibuat sekitar tahun di Bibliothèque nationale de France
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |