Pernyataan Descartes ini menjadi salah satu fondasi pokok dalam filsafat Barat, karena dimaksudkan untuk memberikan kepastianlandasan bagi pengetahuan di tengah keraguan radikal. Jika pengetahuan lain mungkin hanyalah bayangan imajinasi, tipuan, atau kesalahan, maka Descartes menegaskan bahwa tindakan meragukan eksistensi diri sendiri, setidaknya, membuktikan kenyataan pikiran itu sendiri; harus ada suatu kesadaran—yakni diri—agar dapat terjadi sebuah pikiran.
Salah satu kritik terhadap diktum ini, pertama kali dikemukakan oleh Pierre Gassendi, adalah bahwa ia telah berasumsi adanya suatu "aku" yang pasti melakukan kegiatan berpikir. Menurut alur kritik ini, yang paling berhak dikatakan Descartes hanyalah "terdapat kegiatan berpikir", bukan "aku sedang berpikir".[5]
Catatan
↑ Beberapa sumber menganggap terjemahan yang lebih tepat ialah "Aku sedang berpikir, maka aku ada". (Lihat § Terjemahan.)
↑Ungkapan ini kerap secara keliru dinisbatkan kepada Descartes. (Lihat Bentuk lain.)