Kartu pos rasis tentang Bahaya Kuning dan seorang pria Cina oleh Fred C.Lounsbury (1907)
Chink (juga chinki, chinky, chinkie, atau chinka) adalah sebuah julukan etnis dalam bahasa Inggris yang biasanya merujuk kepada orang Tionghoa.[1] Kata tersebut juga terkadang ditujukan bagi orang-orang yang memiliki penampilan Asia Timur. Penggunaan istilah tersebut sering kali dianggap sebagai sebuah ejekan dan meraih perhatian besar dari media.[2][3]
Etimologi
Sejumlah kamus memberikan penjelasan berbeda tentang asal muasal kata chink. Beberapa menjelaskan bahwa kata tersebut berasal dari kata Tionghoa ching-ching,[4] atau dari kata China,[5] atau sebuah alterasi dari Qing (Ch'ing), yang mengacu kepada Dinasti Qing.[6]
Etimologi memungkinkan lainnya adalah bahwa chink berasal dari kata Indo-Iran untuk Tiongkok, kata tersebut sekarang memiliki pengucapan mirip dalam berbagai rumpun bahasa Indo-Eropa, seperti bahasa Persia.[7]
Sejarah
Iron Chink, sebuah mesin untuk mengocek dan membersihkan salmon untuk pengalengan,[8] bersama seorang buruh perikanan Tionghoa. dipasarkan sebagai pengganti tukang potong ikan, yang biasanya adalah imigran Tionghoa
Penggunaan pertama Chink tercatat dari sekitar tahun 1880[9] namun chinky telah mulai tercetak, sejauh ini yang dapat diketahui, pada 1878.[10]Chinky masih dipakai di Inggris sebagai julukan makanan Tionghoa.[11]
Menjelang abad ke-20, imigrasi Tionghoa mendapatkan ancaman dari standar hidup orang kulit putih di Amerika Utara dan negara-negara serupa lainnya. Namun, penipisan jumlah buruh di pesisir barat menandakan bahwa buruh Tionghoa masih dibutuhkan disana. Pabrik pengalengan ikan Alaska juga mengalami penipisan jumlah buruh, sehingga membuat Kongres mengamendemenkan Undang-Undang Eksklusi. Para tukang potong Tionghoa mengalami ancaman besar saat Edmund A. Smith mempatenkan mesin potong ikan buatannya pada 1905, yang dinamai Iron Chink,[12][13] yang dipandang oleh beberapa orang sebagai lambang rasisme anti-Tionghoa pada masa itu .[14][15] Penggunaan kata tersebut masih berlanjut, seperti dalam cerita "The Chink and the Child" karya Thomas Burke, kemudian diadapsi ke dalam film oleh D.W. Griffith. Griffith menyadari bahwa kisahnya memiliki kesensitivan rasial dan mengganti namanya menjadi Broken Blossoms.
Meskipun chink merujuk kepada orang-orang keturunan Tionghoa, istilah tersebut juga ditujukan kepada orang berdarah Asia Timur dan Tenggara lainnya. Pada Perang Korea dan Perang Vietnam, kata tersebut kemudian digunakan untuk merujuk kepada para prajurit Korea dan Vietnam, dengan sejumlah contoh laporan berita yang mengiringinya. Selain itu, kesusastraan dan perfilman tentang Vietnam juga berisi contoh-contoh penggunaan istilah chink, yang meliputi film 1986 Platoon dan permainan panggung 1970an (dan kemudian film) Sticks and Bones.[16][17]