Tingginya dapat mencapai 80cm, bulu musim panasnya cokelat; di musim dingin, bulunya hitam atau cokelat, dengan bercak yang lebih gelap di sekitar matanya. Jantan dan betina memiliki tanduk yang melengkuk ke belakang sepanjang hingga 20cm. Mereka memakan rerumputan, lumut kerak dan kuncup pohon. Cekatan, hewan ini dapat ditemukan pada ketinggian hingga 3000 m.
Konservasi
Seperti spesies chamois lainnya, spesies ini nyaris punah karena diburu, terkhususnya pada 1940-an untuk produksi kulit chamois. Populasinya semenjak saat ini telah memulih, dan pada 2022 diperkirakan berjumlah sekitar 50,000 individu dewasa.[3]
↑Pérez-Barbería, F. J., García-González, R. (2004). "Rebeco – Rupicapra pyrenaica." Enciclopedia Virtual de los Vertebrados Españoles. Carrascal, L. M., Salvador, A. (Eds.). Museo Nacional de Ciencias Naturales. Madrid, Spain.
Haack, M. 2002. Rupicapra pyrenaica. Animal Diversity Web. Accessed February 20, 2006.
Pérez, T., Albornoz, J. & Domínguez, A. (2002). Phylogeography of chamois (Rupicapra spp.) inferred from microsatellites. Mol Phylogenet Evol. 25, 524–534.