Gamolan Pekhing atau Gamolan Lampung adalah instrumen musik dari Sekala Bekhak dan termasuk dalam keluarga instrumen Xilofon. Gamolan Pekhing terdiri atas delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf. Diterangkan dalam Musical Journeys in SumatraProf Margaret J. Kartomi, lempengan bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan disimpul di bagian teratas lempeng. Pada Gamolan Pekhing terdapat penyangga yang tergantung bebas di atas wadah kayu, memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul sepasang stick kayu atau bambu.
Tangga nada yang dimiliki oleh Gamolan Lampung adalah 1, 2, 3, 5, 6, 7 [Do, Re, Mi, Sol, La, Si] dan memiliki Langgam Lampung yakni "Sai Khujai Khawa Khitu Khop Kayu". Gamolan Pekhing dimainkan oleh dua orang pemain yang duduk di belakang alat musik ini, salah satu dari mereka memimpin Begamol dengan memainkan pola pola melodis pada enam lempeng, dan yang satunya [Gelitak] mengikutinya pada dua lempeng sisanya. Gamolan Pekhing dimainkan bersama-sama dengan sepasang gong [Tala], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [Gindang] dan sepasang simbal kuningan [Rujih].[1]
Sejarah
Gamolan Pekhing diyakini oleh para Antropologi merupakan prototipe dari gamelan di Jawa, yang dibawa masuk kejawa saat era Kedatuan Sriwijaya pada dinasti Syailendra. Kedua instrumen ini memiliki kesamaan dalam bentuk, bahan yang digunakan yang berbeda. Menurut Prof Margaret J. Kartomi seorang peneliti dan etnomusikolog asal Australia, Gamolan Pekhing ini sudah ada dan lebih tua dari Gamelan. Hal ini terbukti dengan ditemukannya gambar Gamolan Pekhing pada relief candi Borobudur.[2] Sebelum dekade 1990-an, Gamolan Pekhing digunakan dalam ritual acara adat dan upacara penyambutan tamu.
Terdapat beberapa tetabuhan dasar Gamolan yang menyertai beragam ritus adat Lampung yakni Tabuh Nyambai Agung, Tabuh Jakhang Kenali, Tabuh Sekeli Pernong, Tabuh Alau Alau Kembahang, Tabuh Labung Angin, Tabuh Tari dan Tabuh Hiwang. Saat ini, pengembangan Gamolan Pekhing masuk dalam materi muatan lokal di sekolah-sekolah. Gamolan Pekhing ikut mewarnai khazanah kesenian kontemporer melalui kolaborasi dengan instrumen-instrumen musik modern. Selain itu, Gamolan Pekhing menjadi salah satu identitas masyarakat Lampung yang ikut ditampilkan dalam perhelatan daerah seperti Festival Krakatau yang rutin diadakan setiap tahun.[3]