Cenderawasih merah (Paradisaea rubra) adalah spesies burung dari marga Paradisaea yang berukuran sedang dengan panjang sekitar 33cm. Burung ini merupakan burung pengicau dengan warna kulit kuning dan coklat, serta berparuh kuning.
Karakteristik Spesifik
Burung jenis ini merupakan salah satu yang terkenal dan mempunyai daya tarik yang tinggi. Secara kasatmata, jenis cendrawasih ini dominan dengan warna merah terang (merah darah) pada bagian ekornya di mana juga terdapat perpaduan dengan bulu berwarna putih. Beberapa jenis cendrawasih merah juga mempunya perpaduan warna bulu ekor dengan warna bulu kuning yang merupakan warna bulu dasar dari cendrawasih. Bulu bagian tubuh terdiri dari dua warna yaitu ada cendrawasih merah yang mempunyai tubuh berwarna hitam dan ada yang mempunyai tubuh berwarna coklat seperti cendrawasih pada umumnya. Sedangkan pada bagian leher yang merupakan salah satu bagian paling eksotis dari cendrawasih ini terdapat perpaduan antara hijau zamrud dengan warna kuning seperti pada cendrawasih umunya. Kemudian pada bagian ekor terdapat bulu panjang berwarna hitam seperti tali berjumlah dua buah.[2]
Perilaku
Cenderawasih Merah hidup dalam kelompok, di mana mereka mencari makan dan bermain secara bersama-sama dalam kelompok. Jika ada satu burung yang terpisah dari kelompoknya, maka dia akan mengeluarkan suara untuk memanggil teman-temannya, dan dalam waktu tidak terlalu lama sekawanan burung Cenderawasih Merah akan datang menghampiri.
Aktivitas bermain dan menari biasanya dilakukan sekitar pukul 06.00 sampai 09.00 dan pukul 15.00 sampai 15.30 pada lokasi/tempat yang sama. Pada siang hari di luar waktu bermain mereka melakukan aktivitas mencari makan di luar lokasi bermainnya.
Keindahan bulu burung Cenderawasih jantan digunakan untuk menarik perhatian lawan jenisnya untuk merayu betina agar bersedia diajak kawin. Cenderawasih jantan akan memamerkan bulunya yang indah dengan melakukan tarian-tarian. Sambil bernyanyi di atas dahan atau cabang pohon, cenderawasih jantan bergoyang-goyang ke segala arah bahkan terkadang hingga tergantung terbalik bertumpu pada dahan. Cenderawasih merah adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri.
Habitat
Lokasi bermain Cenderawasih Merah biasanya berada pada dataran yang paling tinggi di antara tempat yang ada di sekitarnya dan tentunya dengan kondisi hutan yang sangat bagus.
Makanan
Pakan burung Cenderawasih Merah terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.
Kemelimpahan dan penyebaran kelompok cenderawasih dominan tersebar di beberapa daratan papua seperti bagian barat pulau papua yang meliputi daerah Raja Ampat, kemudian menyebar juga di daerah sekitar Teluk Cenderawasih (Pulau Waropen, Pulau Biak, dan Nabire) dan pedalaman hutan papua pada bagian utara. Namun berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah di mana burung ini ditemukan sangat terbatas.[2]
Status
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah di mana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cenderawasih Merah dievaluasikan sebagai berisiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.[4]
Undang-Undang
Di Indonesia Cenderawasih Merah dilindungi oleh UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Upaya Konservasi
Perlindungan dan pelestarian Cenderawasih Merah telah digalakan baik secara nasional dan global. Keberadaan burung ini selain mempunyai pengaruh terhadap ekosistem juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pengaturan dan pengawasan yang baik akan memberikan manfaat dan nilai–nilai positif bagi masyarakat terutama yang mengelola dan memeliharanya. Salah satu usaha konservasi yang dilakukan adalah yang pertama dengan menerapkan sistem pemanfaatan berkelanjutan di mana eksploitasi cenderawasih berhenti dilakukan dan ditingkatkan keberadaanya. Pilihan lain yang sedang dikaji adalah eksploitasi di bawah pengawasan yang ketat dan peningkatan jumlah cenderawasih. Kedua, adalah konservasi berbasis pariwisata, di mana salah satu cara untuk konservasi dengan mengajak masyarakat peduli terhadap risiko terancam punahnya cenderawasih merah. Contohnya, pemanfaatan Cenderawasih Merah serta satwa burung lainnya di Raja Ampat hanya untuk menunjang pariwisata, sehingga keberadaannya di alam disenangi oleh wisatawan, yaitu sebagai salah satu atraksi wisata. Ketiga, antisipasi perusakan dan eksploitasi hutan secara besar–besaran terus dilakukan dengan pengawasan dan perlindungan dengan kerja sama badan pemerinta, LSM, dan masyarakat papua sendiri.[2]