Cenderawasih mati-kawat (nama ilmiah: Seleucidis melanoleucus) adalah burung Cenderawasih berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33cm, dari genus tunggal Seleucidis. [1]
Persebaran
Cenderawasih mati-kawat ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Irian. Seperti kebanyakan spesies burung lainnya di famili Paradisaeidae, Cenderawasih Mati-kawat adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan menggunakan keduabelas kawat pada ritual tariannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cenderawasih Mati-kawat terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.[1]
Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Cenderawasih Mati-kawat dievaluasikan sebagai Beresiko Rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.
Ciri khas
Burung Cenderawasih Mati-Kawat ini memiliki perbedaan ciri khas yaitu:
Jantan: Memiliki bulu hitam beludru pada bagian dada dan kepala, iris mata berwarna merah terang, serta paruh hitam yang panjang dan melengkung. Ciri khas utamanya berada pada bulu pinggul (flank plumes) berwarna kuning cerah. Dari balik bulu kuning tersebut tumbuh 12 kawat hitam kaku (wire-like filaments) yang melengkung ke arah belakang hingga melampaui ekornya.[2]
​Betina: Memiliki penampilan yang jauh lebih terselubung untuk kamuflase, dengan bagian punggung berwarna cokelat kemerahan dan bagian dada berwarna krem bersalur hitam. Kedua jenis kelamin memiliki kaki besar berinti warna merah muda khas.[2]
Perilaku perkawinan
Sistem perkawinan cendrawasih mati-kawat bersifat poligini, di mana jantan akan menarik perhatian beberapa betina melalui ritual tarian yang rumit tanpa terlibat dalam pembuatan sarang atau perawatan anak. [3]
​Pemilihan Panggung​: Jantan memilih tunggul pohon mati atau cabang vertikal terbuka yang menonjol di atas kanopi rawa sebagai panggung pameran (display perch). ​
​Unjuk Bulu​(Wire-Wipe Display): Saat betina mendekat, jantan mengembungkan bulu dada hitamnya dan memamerkan bulu-bulu paha serta pinggul kuningnya. ​
​Sentuhan Kawat​: Jantan melakukan tarian memutar (wire-wipe display), yaitu mengibaskan dan mengusapkan 12 antena/kawat hitamnya secara perlahan ke wajah, paruh, dan mata betina sebagai rangsangan visual serta taktil sebelum terjadi kopulasi.