Carnot adalah kota yang terletak di barat daya Afrika Tengah, di prefektur Mambéré. Kota ini berpenduduk 54.551 jiwa menurut hasil sensus 2012, menjadikannya kota terbesar keempat di Afrika Tengah berdasarkan jumlah penduduk. Nama kota ini diambil untuk menghormati Presiden Prancis Sadi Carnot yang dibunuh.
Sejarah
Pada 1894, François Joseph Clozel mendirikan pos militer Prancis di dekat desa Tendira dan menamainya Carnot untuk menghormati Presiden Sadi Carnot. Kota ini menjadi markas militer Prancis dan sempat diserahkan kepada Kamerun Jerman pada 1911, tetapi direbut kembali oleh Prancis saat Perang Dunia I. Carnot kemudian menjadi pusat administratif dan terlibat dalam perdagangan karet. Infrastruktur seperti jalan, feri, dan jembatan mulai dibangun sejak 1920-an. Kota ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, dengan pembangunan misi Protestan, masjid, dan paroki Katolik. Sejak runtuhnya industri pertambangan pada 2009, kemiskinan meningkat tajam, memperburuk kondisi kesehatan masyarakat dan menyebabkan tingginya angka malnutrisi dan kematian.[3]
Pada tanggal 1 Februari 2014, Seleka mundur dari Carnot dan meninggalkan kota tersebut di bawah kendali Anti-Balaka. Umat Muslim setempat menjadi sasaran ancaman dan serangan. Lebih dari 18 orang tewas hingga tanggal 8 Februari.[4] Pada bulan Juli 2017, dilaporkan bahwa kota tersebut telah berada di bawah kendali pasukan keamanan.[5] Pada tanggal 27 Desember 2020, pemberontak dari Koalisi Patriot untuk Perubahan menguasai Carnot. Mereka mundur dari kota pada tanggal 30 Desember setelah menjarah gedung-gedung publik dan membakar surat suara pemilu.[6] Pada bulan Desember 2020, Carnot menjadi ibu kota Prefektur Mambéré.[7]