Kehidupan
Cao Chun dan kakaknya, Cao Ren merupakan sepupu jauh dari Cao Cao.[3] Kakek dan ayahnya, Cao Bao (曹襃) dan Cao Chi (曹熾) merupakan pegawai sipil di pemerintahan Dinasti Han Timur.[4] Ayah mereka meninggal ketika Cao Chun berusia 13 tahun, sehingga Cao Chun dan Cao Ren tinggal bersama keluarga lain. Mereka mewarisi kekayaan keluarga ketika mereka dewasa; mereka kaya raya dan memiliki ratusan pelayan dan pengikut. Cao Chun dikenal sebagai pemimpin yang tegas, taat aturan, dan adil di antara para pengikutnya. Warga kota sangat menghormatinya. Sebagai seorang yang berpengetahuan luas dan menghormati para cendekiawan, Cao Chun juga populer di kalangan kaum terpelajar, banyak di antaranya berbondong-bondong mendatanginya dan menjadi pengikutnya.[5]
Pada usia 17 tahun, Cao Chun dipanggil untuk mengabdi di pemerintahan Han sebagai seorang Gentleman of the Yellow Gate (黃門侍郎). Dua tahun kemudian, ia mengikuti sepupu keduanya, Cao Cao, ke Xiangyi (襄邑; sekarang Kabupaten Sui, Henan)[b] untuk merekrut tentara. Sejak saat itu, ia telah bertempur di pihak Cao Cao dalam beberapa pertempuran melawan panglima perang saingan.[6] Ia menjadi Konsultan (girou) dan Penasihat Militer untuk Menteri Pekerjaan Umum (參司空軍) sekitar tahun 196 sampai 205.
Membinasakan Sisa Kekuatan Yuan Shao
Pada awal 205, Cao Chun memimpin pasukan kavaleri elit bernama Kavaleri Harimau dan Macan Tutul (虎豹騎) di Pertempuran Nanpi melawan Yuan Tan, putra sulung Yuan Shao. Yuan Tan sendiri memimpin pasukannya ke medan perang, menimbulkan banyak korban jiwa pada pasukan Cao Cao. Cao Cao awalnya bermaksud menunggu musuh kelelahan, tetapi Cao Chun menasihati, "Kita telah menempuh seribu mil untuk menghadapi musuh. Jika kita tidak dapat mengalahkan mereka, mundur pasti akan merusak moral kita; terlebih lagi, pasukan kita berada jauh di wilayah musuh dan tidak dapat bertahan dalam kampanye yang berkepanjangan. Mereka sombong setelah kemenangan mereka, sementara kita takut setelah kekalahan kita. Dengan menanamkan rasa takut pada musuh, kita pasti dapat mengalahkan mereka."
Cao Chun berpendapat, "Hari ini, kita telah menempuh seribu mil untuk menyerang musuh. Jika kita tidak dapat sepenuhnya memusnahkan mereka dan segera mundur, kita pasti akan merusak prestise militer kita; terlebih lagi, kita sudah berada jauh di wilayah musuh dan tidak dapat mempertahankan kampanye yang berkepanjangan. Sekarang, musuh menjadi sombong dan ceroboh karena kemenangan sementara mereka, sementara pasukan kita menjadi waspada karena kemunduran yang kita alami. Dengan pasukan kita yang waspada menghadapi musuh yang sombong dan ceroboh, kita pasti dapat meraih kemenangan." Cao Cao setuju dan melancarkan serangan cepat. Yuan Tan memang dikalahkan, dan Kavaleri Harimau dan Macan Tutul Cao Chun bahkan membunuh Yuan Tan.[7]
Pada 207, Cao Chun kembali memimpin Kavaleri Harimau dan Macan Tutul di Pertempuran Gunung Serigala Putih melawan suku Wuhuan yang bersekutu dengan rival Cao Cao, Yuan Shang. Dalam pertempuran tersebut, Cao Cao dengan tegas memerintahkan pertempuran, menunjuk Zhang Liao dan Zhang He sebagai garda depan, dan mengirim Cao Chun bersama Kavaleri Harimau dan Macan Tutul untuk menyerang pasukan Wuhuan. Cao Chun dengan gemilang menangkap Tadun,[8] yang kemudian dieksekusi oleh Zhang Liao.[9] Pasukan Cao Cao mengejar musuh yang melarikan diri, memaksa 200.000 pasukan musuh untuk menyerah. Setelah pertempuran ini, Cao Chun, selain prestasi militernya sebelumnya, dianugerahi Kaisar Xian dari Han dengan gelar Marquis Desa Gaoling, dengan wilayah kekuasaan yang terdiri dari 300 rumah tangga.[10]
Kampanye Selatan Melawan Liu Bei
Pada tahun 208, Cao Chun menemani Cao Cao dalam kampanye di Provinsi Jing. Selama Pertempuran Changban, Cao Chun memimpin pasukannya mengejar panglima perang saingan Liu Bei dan menangkap kedua putri Liu Bei, bersama dengan sebagian besar perlengkapannya. Mereka juga mengumpulkan beberapa tentara Liu Bei yang terpencar selama pertempuran dan merekrut mereka untuk bergabung dengan pasukan Cao Cao. Setelah Cao Cao menduduki Kabupaten Jiangling (江陵縣; sekarang Jingzhou, Hubei), ibu kota Provinsi Jing, Cao Chun kembali ke Kabupaten Qiao (譙縣; sekarang Bozhou, Anhui).[11] Tidak diketahui apakah Cao Chun ikut di Pertempuran Chibi.
Kematian
Cao Chun wafat pada 210. Pada akhir tahun 220, putra dan pewaris Cao Cao, Cao Pi, memaksa Kaisar Xian untuk turun takhta demi dirinya, mengakhiri dinasti Han Timur, dan mendirikan negara Cao Wei. Setelah menjadi kaisar, Cao Pi menganugerahkan gelar anumerta "Marquis Wei" (威侯) kepada Cao Chun.[12]
Kavaleri Harimau dan Macan Tutul yang dipimpin Cao Chun adalah kavaleri elit di pasukan Cao Cao. Proses perekrutannya sangat ketat dan selektif - Hanya prajurit yang memiliki setidaknya 100 anak buah di bawah komandonya yang memenuhi syarat. Bahkan, Cao Cao sendiri bingung bagaimana ia dapat memimpin pasukan ini. Maka, Cao Cao memercayai Cao Chun untuk memimpin Kavaleri Harimau dan Macan Tutul dimana pasukan ini juga menghormati Cao Chun. Setelah Cao Chun meninggal, ketika seseorang menanyakan Cao Cao mengenai pemilih komandan baru kavaleri tersebut, Cao Cao bertanya kembali, "Siapakah yang dapat dibandingkan dengan (Cao) Chun? Apakah saya bukan salah satu orang yang dapat memimpin (pasukan ini)?". Pada akhirnya Cao Cao tidak memilih siapapun.[13]