Cakalang fufu adalah hidangan ikan cakalang olahan yang dibumbui, diasap dan dijepit dengan kerangka bambu. Makanan ini adalah hidangan khas Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia.[1][2] Disebut cakalang fufu karena proses pengasapan dalam bahasa Minahasa disebut dengan istilah fufu.[3]
Sejarah
Sejak dulu, masyarakat dan nelayan Sulawesi Utara telah mengenal pengasapan sebagai salah satu teknik pengolahan hasil tangkapan ikan mereka. Cakalang menjadi salah satu ikan yang sering diolah dengan teknik pengasapan. Teknik tersebut berkembang karena adanya kebutuhan untuk menyimpan ikan dengan cara yang efektif dan tahan lama, mengingat daerah tersebut kaya akan hasil laut.[4]
Industrialisasi perikanan cakalang di Sulawesi Utara sudah dimulai sejak tahun 1928 dengan bantuan teknologi Jepang. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, industri ikan cakalang fufu tetap terus berkembang. Pada tahun 1969, pengolahan ikan cakalang berpusat di Aertembaga, Bitung.[5]
Seiring berjalannya waktu, cakalang fufu tidak hanya berperan menjadi makanan sehari-hari, melainkan juga menjadi sebuah identitas dan kekhasan kuliner dari Manado dan Sulawesi Utara secara umum. Hingga saat ini, teknik pengasapan ikan cakalang fufu masih dipertahankan oleh para keluarga di Sulawesi Utara secara turun-temurun.[4]
Proses Pengolahan dan Penyajian
Setelah ikan cakalang dibersihkan dengan dibuang sisik dan jeroannya, daging ikan cakalang dibelah dua dan dijepit oleh kerangka penjepit bambu yang telah disiapkan sebelumnya. Daging ikan ini diolah dengan dibaluri garam dan bubuk soda. Kemudian ikan cakalang menjalani proses pengasapan dengan panas api dan asap. Panas harus merata hingga daging ikan cakalang matang dan kering. Proses ini menghabiskan waktu empat jam untuk pengasapan dan dua jam untuk pendinginan.[6]
Proses pengasapan tidak hanya memberikan cita rasa unik tetapi juga berfungsi sebagai metode pengawetan alami.[7] Proses ini berlangsung hingga daging ikan cakalang berubah warna menjadi kemerahan dengan tekstur sedikit empuk, kering dan tidak berair.[8]
Jika diproses secara tepat cakalang fufu dapat tahan disimpan dalam suhu ruang selama satu bulan, dengan demikian dapat didistribusikan ke seluruh Indonesia sebagai pangan hidangan laut olahan.[9][10] Di Sulawesi Utara cakalang fufu adalah hidangan favorit dan kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Manado.[11] Meskipun hidangan ini terkenal di seantero Indonesia Timur, lokasi produksi utamanya adalah kota pelabuhan nelayan Bitung, Sulawesi Utara.[8]
Cakalang fufu dapat dikonsumsi tersendiri; dengan cara dipanaskan dan digoreng sebentar dalam minyak panas dan langsung dimakan dengan nasi dan dabu-dabu (sambal Minahasa), atau menjadi bahan untuk memasak hidangan lainnya. Suwiran daging cakalang fufu dapat ditambahkan dalam berbagai hidangan seperti seladakentang, mi cakalang, atau dimasak rica-rica dengan cabai.[12]
↑"Cakalang Fufu Jadi Pilihan di Sulut" (dalam bahasa Indonesian). MediaIndonesia.com. Friday, 15 July 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-01-01. Diakses tanggal 1 June 2012.; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Josephus Primus (Friday, 25 September 2009). "Cakalang Fufu Bisa Tahan Sebulan" (dalam bahasa Indonesian). Kompas.com. Diakses tanggal 1 June 2012.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Nancy. "Berburu Cakalang Fufu di Manado" (dalam bahasa Indonesian). Cyber Sulut. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-06-08. Diakses tanggal 6 June 2012.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Dyah A. Dhyani. "Cakalang Fufu Rabe Rica" (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 6 June 2012. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)