Kawasan ini ditetapkan untuk melindungi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Buton beserta keanekaragaman hayati (flora dan fauna) yang dikandungnya.[1]
Pulau Button, tempat Cagar Alam Kakenauwe berada, temasuk dalam biogeografi Wallacea, yaitu kawasan peralihan antara Asia dan Australia yang dicirikan oleh tingkat endemisme flora dan fauna yang tinggi.[3]
Sejarah
Kompleks Hutan Kakenauwe-Tampunabale ditunjuk sebagai kawasan suaka alam berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Sulawesi Tenggara. Penunjukan tersebut kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 639/Kpts/Um/9/l982 tanggal 1 September 1982.[1][4]
Tata batas kawasan dilakukan oleh Sub Balai Inventaris dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Kendari pada tahun 1994 dengan panjang batas sekitar 7,972 kilometer dan 89 pal batas. Berita acara tata batas kawasan kemudian disahkan oleh Menteri Kehutanan pada 6 November 1995.[1]
Cagar Alam Kakenauwe merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Buton. Kawasan ini memliki bentang alam berupa perbukitan karst dan perbukitan struktural dengan ketinggian antara 15 hingga 780 meter di atas permukaan laut. Jenis tanah yang mendominasi adalah tanah mediteran dengan kondisi geologi pra-Tersier.[1]
Kawasan ini berada pada daerah aliran sungai (DAS) Kakenauwe Atas dan Toruku, memiliki iklim tipe C, curah hujan rata-rata sekitar 1980 mm per tahun, serta topografi yang bervariasi dari datar hingga berbukit. Ekosistem yang berkembang di cagar alam ini berupa hutan hujan tropis dataran rendah yang masih relatif terjaga.[1]
Topografi kawasan berupa dataran hingga perbukitan dengan kelerengan lahan sekitar 5–30 persen. Tipe tanah yang dijumpai meliputi tanah liat berpasir dan berbatu cadas.[6]
Ekologi
Vegetasi dan Flora
Kajian vegetasi di Cagar Alam Kakenauwe mengidentifikasikan tiga formasi vegetasi utama, yaitu semak belukar, hutan sekunder, dan hutan primer dataran rendah. Survei flora di kawasan Kakenauwe dan Lambusango mendokumentasikan sedikitnya 170 spesies tumbuhan berbiji (Spermatophyta), 12 spesies paku-pakuan (Pteridophyta), dan 24 spesies lumut (Bryophyta) .[6]
Beberapa jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan ini antara lain kayu lawang (Cinnamon cullilawan), kis (Ficus variegata), wola atau bitti (Vitex cofassus), ete, kokolio (Terminalia sp.), beleko, dan damar (Canarium sp.).[1]
Di antara flora yang terdapat di kawasan ini, bitti atau wola (Vitex cofassus), suwele (Palaquium obtusifolium), dan soni (Dillenia serrata) termasuk jenis yang penting untuk pelestarian karena memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat serta berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.[6]
Penelitian terhadap kelompok lumut menemukan keberadaan Orthorrhynchium phyllogonioides yang dilaporkan sebagai catatan baru (new record) bagi flora Sulawesi. Sebelum penemuan tersebut, spesies ini diketahui tersebar di Jawa, Nugini, dan Pulau Christmas.[6]
Penelitian vegetasi pada tahun 2005 mencatat bahwa kondisi hutan di Cagar Alam Kakenauwe masih relatif baik, meskipun ditemukan bekas-bekas penebangan pohon secara sporadis di beberapa lokasi dalam kawasan.[1][6]
Fauna
Cagar Alam Kakenauwe menjadi habitat berbagai satwa menjadi habitat berbagai satwa khas Sulawesi. Mamalia yang tercatat di kawasan ini anatara lain anoa dataran rendah (Bubalus depressicor), anoa dataran tinggi (Bubalus guarlesi), rusa timor (Rusa timorensis), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii), kuskus, serta kera hitam Sulawesi.[1]
Jenis burung yang tercatat di kawasan ini anatara lain rangkong Sulawesi, ayam hutan, pergam putih, dan nuri Sulawesi.[1]
Pengelolaan
Cagar Alam Kakenauwe dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tenggara (BKSDA Sultra), yang merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Dalam struktur pengelolaannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah 1 (SKW 1).[1]
Menurut publikasi BKSDA Sulawesi Tenggara, kawasan ini dapat dimanfaatkan secara teratas untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan konservasi, penyerapan karbon, dan pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang kegiatan budidaya.[1]
Daftar Pustaka
Mukti, W.T., & Harmawan, F. (2022). Selayang pandang 12 kawasan konservasi BKSDA Sulawesi Tenggara. Kendari: Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tenggara.
Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam. (2016). Informasi 521 kawasan konservasi region Kalimantan–Sulawesi. Bogor: Direktorat Jenderal KSDAE.
Uji, T., & Windadri, F. I. (2007). Keanekaragaman jenis tumbuhan di Cagar Alam Kakenauwe dan Suaka Margasatwa Lambusango, Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Jurnal Teknologi Lingkungan, 8(3), 261–276.
Whitten, A. J., Henderson, G. S., & Mustafa, M. (2002). The Ecology of Sulawesi. Singapore: Periplus Editions.
↑Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (2016). Informasi 521 Kawasan Konservasi Region Kalimantan - Sulawesi(PDF). Bogor: Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. hlm.164. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)