Burung sekretaris
| Burung sekretaris | |
|---|---|
| di Maasai Mara | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Accipitriformes |
| Famili: | Sagittariidae |
| Genus: | Sagittarius Hermann, 1783 |
| Spesies: | S. serpentarius |
| Nama binomial | |
| Sagittarius serpentarius (J. F. Miller, 1779) | |
| Persebaran ditunjukkan dengan warna hijau | |
| Sinonim[2] | |
|
Daftar
| |
Burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) adalah burung pemangsa berukuran besar yang endemik di Afrika. Burung ini sebagian besar bersifat terestrial, menghabiskan banyak waktunya di tanah, dan biasanya ditemukan di padang rumput terbuka serta sabana di kawasan sub-Sahara. John Frederick Miller mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1779. Sebagai anggota ordo Accipitriformes, yang juga mencakup banyak burung pemangsa diurnal lainnya seperti elang, alap-alap, elang layang, burung hering, dan elang rawa, burung ini ditempatkan dalam sukunya tersendiri, yaitu Sagittariidae.
Burung sekretaris dapat langsung dikenali sebagai burung yang sangat besar dengan tubuh menyerupai elang yang bertumpu pada kaki seperti burung jenjang, yang membuat burung ini dapat mencapai tinggi hingga 1,3 m (4 ft 3 in). Jantan dan betina memiliki penampilan yang serupa. Burung dewasa memiliki wajah berwarna merah-jingga tanpa bulu dan bulu tubuh yang didominasi warna abu-abu, dengan jambul gelap yang pipih serta bulu terbang dan paha berwarna hitam.
Perkembangbiakan dapat terjadi kapan saja sepanjang tahun, tetapi cenderung berlangsung pada akhir musim kemarau. Sarangnya dibangun di puncak pohon berduri, dan satu hingga tiga butir telur diletakkan di dalamnya. Pada tahun-tahun ketika makanan berlimpah, ketiga anak burung tersebut dapat bertahan hidup hingga siap terbang. Burung sekretaris berburu dan menangkap mangsanya di tanah, sering kali dengan menginjak korban untuk membunuhnya. Serangga dan vertebrata kecil menjadi makanan utamanya.
Meskipun burung sekretaris mendiami wilayah persebaran yang luas, hasil survei lokal menunjukkan bahwa total populasinya mengalami penurunan yang cepat, kemungkinan sebagai akibat dari kerusakan habitat. Oleh karena itu, spesies ini diklasifikasikan sebagai terancam punah oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam. Burung sekretaris muncul pada lambang negara Sudan dan Afrika Selatan.
Taksonomi
| |||||||||||||||||||||
| Posisi burung sekretaris dalam ordo Accipitriformes: Kladogram ini didasarkan pada analisis filogenetik molekuler yang diterbitkan pada tahun 2008.[3][4] |
Naturalis Belanda Arnout Vosmaer mendeskripsikan burung sekretaris pada tahun 1769 berdasarkan spesimen hidup yang telah dikirim ke Belanda dari Tanjung Harapan dua tahun sebelumnya oleh seorang pejabat Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). Vosmaer mengemukakan bahwa spesies ini disebut "sagittarius" oleh para pemukim Belanda karena cara berjalannya yang dianggap menyerupai seorang pemanah. Ia juga menyebutkan bahwa burung ini dikenal sebagai "secretarius" oleh para petani yang telah menjinakkannya untuk membasmi hama di sekitar pekarangan rumah mereka, dan mengusulkan bahwa kata "secretarius" mungkin merupakan bentuk salah kaprah dari "sagittarius".[5][6] Ian Glenn dari Universitas Free State menyarankan bahwa "sagittarius" menurut Vosmaer adalah bentuk salah dengar atau salah transkripsi dari "secretarius", bukan sebaliknya.[7]

Pada tahun 1779, ilustrator Inggris John Frederick Miller menyertakan ilustrasi berwarna burung sekretaris dalam karyanya Icones animalium et plantarum dan mencetuskan nama binomial Falco serpentarius.[8] Sebagai nama spesifik tertua yang dipublikasikan, serpentarius memiliki prioritas dibandingkan nama ilmiah yang muncul setelahnya.[7] Spesies ini ditempatkan dalam genusnya tersendiri, Sagittarius, pada tahun 1783 oleh naturalis Prancis Johann Hermann dalam karyanya Tabula affinitatum animalium.[9] Nama generik Sagittarius berasal dari bahasa Latin yang berarti "pemanah", dan nama spesifik serpentarius berasal dari bahasa Latin serpens yang berarti "ular".[10] Edisi kedua dari ilustrasi Miller dipublikasikan pada tahun 1796 sebagai Cimelia physica, dengan tambahan teks oleh naturalis Inggris George Shaw, yang menamainya Vultur serpentarius.[11] Naturalis Prancis Georges Cuvier menetapkan genus Serpentarius pada tahun 1798,[12] dan naturalis Jerman Johann Karl Wilhelm Illiger mendirikan genus Gypogeranus (yang kini bersinonim)[2] dari perpaduan kata Yunani Kuno gyps "burung hering" dan geranos "burung jenjang" pada tahun 1811.[13]
Pada tahun 1835, naturalis Irlandia William Ogilby berbicara di sebuah pertemuan Perhimpunan Zoologi London dan mengusulkan tiga spesies burung sekretaris; ia membedakan populasi asal Senegambia yang memiliki bulu jambul lebih lebar dibandingkan populasi asal Afrika Selatan, dan melaporkan adanya spesies yang berbeda dari Filipina berdasarkan tulisan-tulisan Pierre Sonnerat dalam karyanya Voyage à la Nouvelle-Guinée.[14] Tidak ada bukti lain yang menunjukkan bahwa takson ini pernah ada.[15] Meskipun memiliki wilayah persebaran yang luas, burung sekretaris dianggap sebagai spesies monotipe: tidak ada subspesies yang diakui secara resmi.[4]
Hubungan evolusi burung sekretaris dengan burung pemangsa lainnya telah lama membingungkan para ahli ornitologi. Spesies ini umumnya ditempatkan dalam sukunya tersendiri, Sagittariidae, di dalam ordo Falconiformes.[16] Sebuah studi filogenetik molekuler berskala besar yang terbit pada tahun 2008 menyimpulkan bahwa burung sekretaris merupakan saudara dari sebuah klade yang mencakup elang tiram dari suku Pandionidae serta elang layang, alap-alap, dan rajawali dari suku Accipitridae. Studi yang sama juga menemukan bahwa falkon dalam ordo Falconiformes hanya berkerabat jauh dengan burung pemangsa diurnal lainnya. Oleh karena itu, kelompok famili Cathartidae, Sagittariidae, Pandionidae, dan Accipitridae dipindahkan dari Falconiformes ke ordo Accipitriformes yang kembali digunakan.[3][a] Studi filogenetik molekuler selanjutnya yang terbit pada tahun 2015 mengonfirmasi kembali hubungan kekerabatan ini.[18]
Fosil paling awal yang dihubungkan dengan famili ini adalah dua spesies dari genus Pelargopappus. Kedua spesies ini, yang masing-masing berasal dari masa Oligosen dan Miosen, ditemukan di Prancis. Struktur kaki pada fosil-fosil ini lebih menyerupai kaki famili Accipitridae; ciri-ciri ini diduga merupakan ciri primitif dalam famili tersebut. Terlepas dari umurnya, kedua spesies ini tidak dianggap sebagai nenek moyang burung sekretaris.[19][20] Walaupun memiliki konvergensi yang kuat dengan burung sekretaris modern, burung pemangsa yang telah punah Apatosagittarius diyakini tergolong sebagai salah satu jenis accipitrid.[21]
Persatuan Ornitologi Internasional telah menetapkan "burung sekretaris" (secretarybird) sebagai nama umum resmi untuk spesies ini.[4] Pada tahun 1780, polimata Prancis Georges-Louis Leclerc, Comte de Buffon berpendapat bahwa nama sekretaris/secrétaire dipilih karena bulu panjang menyerupai pena yang ada di bagian atas leher burung tersebut,[22] yang mengingatkan pada pena bulu yang sering diselipkan di belakang telinga juru tulis zaman dahulu.[19] Pada tahun 1977, C. Hilary Fry dari Universitas Aberdeen menyarankan bahwa "secretary" berasal dari bahasa Prancis secrétaire, yang merupakan pelesetan dari bahasa Arab صقر الطيرcode: ar is deprecated saqr et-tair yang berarti "elang semi-gurun" atau "elang yang terbang".[23] Glenn menyanggah etimologi ini dengan alasan bahwa tidak ada bukti yang mendasari masuknya nama tersebut melalui bahasa Prancis, dan justru mendukung etimologi usulan Buffon, yakni bahwa kata tersebut bersumber dari bahasa Belanda secretaris yang bermakna "sekretaris", seperti yang digunakan oleh para pemukim di Afrika Selatan.[7]
Deskripsi

Burung sekretaris dapat langsung dikenali sebagai burung terestrial berukuran sangat besar dengan kepala dan tubuh menyerupai elang yang bertumpu pada kaki seperti burung jenjang. Tinggi burung ini mencapai sekitar 13 m (43 ft).[24] Panjang tubuhnya antara 11 dan 15 m (36 dan 49 ft) dan rentang sayapnya antara 19 dan 21 m (62 dan 69 ft).[25] Berat badannya berkisar dari 374 hingga 427 kg (825 hingga 941 pon), dengan rata-rata 405 kg (893 pon).[26] Tarsus-nya memiliki panjang rata-rata 31 cm (12 in) dan ekornya 57–85 cm (22–33 in); kedua faktor ini menjadikannya lebih tinggi dan lebih panjang daripada spesies burung pemangsa lainnya.[25] Lehernya tidak terlalu panjang, dan hanya dapat diturunkan hingga ke sendi intertarsal, sehingga burung ini harus membungkuk untuk mencapai tanah.[27]
Saat terbang, dua bulu tengah ekor yang memanjang menjulur melampaui kakinya, dan lehernya terentang seperti burung bangau.[27] Bulu pada mahkota, bagian atas tubuh, serta penutup sayap kecil (lesser) dan menengah (median) berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan bagian bawah tubuh dan penutup bawah sayap berwarna abu-abu yang lebih terang hingga abu-abu keputihan. Jambulnya tersusun atas bulu-bulu hitam panjang yang tumbuh dari tengkuk. Bulu skapular, bulu terbang primer dan sekunder, tunggir, serta pahanya berwarna hitam, sementara penutup atas ekor berwarna putih, meskipun pada beberapa individu terdapat garis-garis hitam.[24] Ekornya berbentuk baji dengan ujung putih, pangkal bergradasi warna marmer abu-abu dan hitam, serta dua pita hitam lebar, satu di pangkal dan satu lagi di ujungnya.[24][27]
Jantan dan betina memiliki penampilan yang saling menyerupai, meskipun pejantan cenderung memiliki bulu ekor yang lebih panjang, bulu kepala yang lebih banyak, bentuk kepala yang lebih pendek, dan warna bulu yang lebih didominasi abu-abu kebiruan. Burung dewasa memiliki wajah berwarna merah-jingga tanpa bulu dengan iris cokelat pucat dan sera berwarna kuning. Tungkai dan kakinya berwarna abu-abu kemerahan, dengan paha atas tertutup bulu hitam. Jari-jari kakinya pendek—sekitar 20% dari panjang jari elang dengan ukuran yang sama—dan gempal, sehingga burung ini tidak mampu mencengkeram benda dengan kakinya. Jari kaki belakangnya kecil dan tiga jari yang menghadap ke depan saling terhubung di pangkalnya oleh selaput kecil.[27] Burung yang belum dewasa memiliki kulit telanjang berwarna kuning (bukan jingga) pada wajah mereka, bulu yang lebih kecokelatan, bulu ekor yang lebih pendek, dan iris yang keabu-abuan, bukan cokelat.[24]
Burung dewasa biasanya pendiam, tetapi dapat mengeluarkan suara parau yang dalam dan serak saat melakukan peragaan perkawinan atau di sarang.[24] Burung sekretaris mengeluarkan suara ini saat menyapa pasangannya atau dalam peragaan ancaman maupun pertarungan melawan burung lain, terkadang sambil mendongakkan kepalanya ke belakang pada saat yang bersamaan. Saat merasa terancam, mereka dapat mengeluarkan suara parau bernada tinggi. Pasangan kawin di sarang mengeluarkan suara kotekan lembut atau siulan.[27] Anak burung mengeluarkan suara melengking yang terdengar seperti "chi-uk-chi-uk-chi-uk" selama 30 hari pertama mereka.[24]
Persebaran dan habitat
Burung sekretaris endemik di Afrika Sub-Sahara dan umumnya tidak bermigrasi, meskipun mungkin berpindah-pindah secara lokal, karena burung ini mengikuti curah hujan dan ketersediaan mangsa yang melimpah akibatnya.[27] Daerah persebarannya membentang dari Senegal hingga Somalia dan ke selatan menuju Tanjung Barat, Afrika Selatan.[24]
Spesies ini juga ditemukan di berbagai ketinggian, mulai dari dataran pesisir hingga dataran tinggi. Burung sekretaris lebih menyukai padang rumput terbuka, sabana, dan tumbuhan semak (Karoo) daripada hutan maupun pepohonan rimbun yang dapat menghambat kelangsungan hidupnya sebagai hewan kursor (pelari).[27] Secara lebih spesifik, burung ini menyukai daerah dengan rumput yang tingginya di bawah 05 m (16 ft) dan menghindari rumput yang tingginya melebihi 1 m (3 ft 3 in). Kehadirannya lebih langka di padang rumput di bagian utara jangkauannya yang mungkin tampak serupa dengan daerah-daerah di Afrika selatan, tempat populasinya melimpah, yang mengindikasikan bahwa spesies ini mungkin menghindari wilayah yang lebih panas. Spesies ini juga menghindari gurun pasir.[24]
Perilaku dan ekologi

Burung sekretaris umumnya bukan hewan yang hidup berkelompok, kecuali bagi pasangan dan keturunannya. Mereka biasanya bertengger di pohon dari genus Acacia (akasia) atau Balanites, atau bahkan di pohon pinus introduksi di Afrika Selatan.[24] Mereka memulai aktivitasnya 1–2 jam setelah fajar menyingsing, umumnya setelah menghabiskan beberapa waktu untuk bersolek.[27] Pasangan kawin bertengger bersama-sama, tetapi dapat mencari makan secara terpisah, meskipun sering kali masih dalam jarak pandang satu sama lain. Mereka melangkah dengan kecepatan 25–30 km/h (16–19 mph), dengan rata-rata 120 langkah per menit.[24] Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di tanah, burung sekretaris kembali pada senja hari,[28] bergerak searah angin sebelum bermanuver terbang menentang arah angin.[24] Burung yang dijumpai sendirian sering kali merupakan pejantan tanpa pasangan; wilayah mereka umumnya berada di area yang kurang menguntungkan. Sebaliknya, kawanan yang lebih besar hingga 50 individu dapat dijumpai di area dengan sumber daya yang terpusat, seperti kubangan air di daerah kering atau saat terjadi lonjakan populasi hewan pengerat maupun belalang yang melarikan diri dari kebakaran.[27]
Burung sekretaris melayang dengan bulu-bulu primer yang direntangkan untuk mengendalikan turbulensi. Sayap mereka dapat mengepak, meskipun dengan gerakan lambat dan susah payah serta membutuhkan arus udara naik agar dapat dipertahankan; jika tidak, mereka bisa kelelahan. Di tengah teriknya siang, mereka memanfaatkan arus termal untuk terbang naik hingga 3.800 m (12.500 ft) di atas permukaan tanah.[27]
Umur rata-rata burung ini diperkirakan antara 10 hingga 15 tahun di alam liar dan bisa mencapai 19 tahun di penangkaran.[29] Burung sekretaris tertua yang tercatat di alam liar berusia 5 tahun, yang telah dipasangi cincin sejak menjadi anak burung pada tanggal 23 Juli 2011 di Bloemfontein dan ditemukan kembali sejauh 440 km (270 mi) di Mpumalanga pada 7 Juni 2016.[30]
Seperti semua burung lainnya, burung sekretaris memiliki parasit darah hematozoa, termasuk Leucocytozoon beaurepairei (dicatat oleh Dias pada tahun 1954 dari Mozambik).[31][32] Burung liar dari Tanzania telah ditemukan menjadi inang bagi Hepatozoon ellisgreineri, sebuah genus yang terbilang unik di antara hematozoa burung karena mengalami pematangan di dalam granulosit, terutama neutrofil.[33] Ektoparasitnya meliputi kutu Neocolpocephalum cucullare (Giebel) dan Falcolipeurus secretarius (Giebel).[34]
Perkembangbiakan

Burung sekretaris membentuk pasangan monogami dan mempertahankan wilayah kekuasaan yang luas, sekitar 50 km2 (19 sq mi). Mereka dapat berkembang biak kapan saja sepanjang tahun, tetapi lebih sering pada akhir musim kemarau. Selama masa bercumbu, mereka menunjukkan peragaan perkawinan dengan terbang melayang tinggi mengikuti pola terbang bergelombang dan saling memanggil dengan suara parau yang gutural. Jantan dan betina juga dapat melakukan peragaan di tanah dengan saling berkejaran dengan sayap terangkat dan ditarik ke belakang, yang mana hal ini juga merupakan cara mereka mempertahankan wilayah kekuasaannya. Mereka kawin baik di tanah maupun di atas pohon.[24]Sarang dibangun oleh kedua induk di puncak pohon berduri yang rimbun, sering kali pohon Acacia (akasia), pada ketinggian antara 25 dan 13 m (80 dan 40 ft) di atas permukaan tanah. Sarang tersebut dibentuk layaknya landasan ranting yang relatif datar dengan diameter 10–15 m (30–50 ft) dan kedalaman 30–50 cm (12–20 in). Cekungan dangkalnya dilapisi dengan rumput dan terkadang kotoran hewan.[24]
Telur diletakkan dengan selang waktu 2 hingga 3 hari sampai jumlah satu hingga tiga butir telur per sarang terkumpul lengkap. Telur yang memanjang, berwarna hijau kebiruan pucat atau putih tersebut rata-rata berukuran 78 mm × 57 mm (3,1 in × 2,2 in) dan seberat 130 g (4,6 oz).[24] Kedua induk mengerami telur, dimulai segera setelah telur pertama diletakkan, tetapi biasanya betina yang menetap di sarang semalaman. Induk yang sedang mengerami menyapa pasangannya saat kembali dengan peragaan membungkuk dan menganggukkan kepalanya dengan leher terentang. Ekor ditegakkan dengan bulu-bulu mengembang, dan bulu dada dibusungkan.[35]
Telur menetas setelah sekitar 45 hari dengan selang waktu 2–3 hari.[24] Kedua induk memberi makan anak-anaknya. Burung dewasa memuntahkan makanan ke dasar sarang lalu memungutnya dan menyuapkannya kepada anak-anaknya.[35] Selama 2 atau 3 minggu pertama setelah telur menetas, kedua induk bergantian menjaga sarang bersama anak-anaknya.[27] Meskipun terdapat perbedaan ukuran antar anak burung akibat waktu penetasan yang tidak bersamaan, sangat sedikit agresi antar saudara yang terpantau.[24] Pada kondisi yang menguntungkan, seluruh anak burung dari satu sarang yang berisi tiga telur dapat tumbuh hingga siap terbang,[36] namun jika makanan langka, satu atau lebih anak burung akan mati kelaparan.[24] Anak burung dapat dimangsa oleh berbagai jenis burung gagak, burung enggang, dan burung hantu berukuran besar.[27]

Anak burung yang baru menetas diselimuti oleh bulu kapas berwarna abu-abu keputihan yang akan menjadi abu-abu lebih gelap setelah dua minggu. Kulit wajah telanjang dan kaki mereka berwarna kuning. Bulu jambul muncul pada hari ke-21, dan bulu terbang pada hari ke-28. Mereka dapat berdiri dan makan sendiri setelah 40 hari, meskipun induknya masih menyuapi mereka setelah waktu tersebut. Pada usia 60 hari, anak burung yang kini telah berbulu lebat mulai mengepakkan sayap mereka. Penambahan berat badan mereka selama periode ini berubah dari 56 g (2,0 oz) saat menetas menjadi 500 g (18 oz) pada usia 20 hari, 11 kg (24 pon) pada 30 hari, 17 kg (37 pon) pada 40 hari, 20 kg (44 pon) pada 50 hari, 25 kg (55 pon) pada 60 hari, dan 30 kg (66 pon) pada 70 hari. Waktu untuk meninggalkan sarang dapat bervariasi dari usia 65 hingga 106 hari, meskipun umumnya terjadi antara usia 75 hingga 80 hari. Proses terbang keluar dari sarang dilakukan dengan cara melompat keluar dari sarang atau meluncur turun ke tanah secara semi-terkendali.[24]
Burung remaja tetap berada di wilayah kelahirannya sebelum memencar ketika mereka berusia antara 4 hingga 7 bulan. Usia lazim di mana mereka pertama kali berkembang biak belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat catatan mengenai seekor pejantan yang berhasil berkembang biak pada usia 2 tahun 9 bulan, yang tergolong muda bagi seekor burung pemangsa yang berukuran besar.[37]
Makanan dan cara berburu

Berbeda dengan kebanyakan burung pemangsa, burung sekretaris sebagian besar bersifat terestrial, berburu mangsanya dengan berjalan kaki. Burung dewasa berburu secara berpasangan dan terkadang dalam kawanan keluarga yang longgar, mengintai melintasi habitatnya dengan langkah-langkah panjang.[38] Mangsanya dapat berupa serangga seperti belalang kembara, jenis belalang lainnya, tawon, dan kumbang, serta kaki seribu, laba-laba, kalajengking, dan kepiting air tawar, tetapi vertebrata kecil sering kali menjadi sumber biomassa utama mereka.[25][39][40] Burung sekretaris diketahui memburu hewan pengerat, katak, kadal, kura-kura kecil, telur, dan burung-burung kecil seperti burung pengicau, burung branjangan, burung merpati, burung enggang kecil, dan ayam domestik.[25][41] Sesekali mereka memangsa mamalia yang lebih besar, seperti landak susu, garangan, kucing berukuran kecil seperti anak cheetah, zorilla, gazel muda, serta terwelu baik yang masih muda maupun dewasa.[27][25][38][42][43] Pentingnya peran ular dalam pola makan mereka telah dibesar-besarkan di masa lalu, meskipun ular dapat menjadi sumber makanan penting di wilayah tertentu, dan spesies berbisa seperti ular beludak dan kobra sering kali termasuk di antara jenis ular yang mereka mangsa. Burung sekretaris tidak memakan bangkai, meskipun kadang-kadang mereka memakan hewan yang mati akibat kebakaran rumput atau semak belukar.[24][44]
Burung ini sering kali memaksa mangsanya keluar dari rerumputan tinggi dengan cara menginjak-injak vegetasi di sekitarnya. Bulu jambul mereka dapat terangkat saat berburu, yang berfungsi untuk membantu menakut-nakuti target dan memberikan naungan pada wajah mereka.[27] Burung ini mengejar mangsanya dengan sayap terbentang lalu membunuhnya lewat tendangan kaki yang cepat dan bertubi-tubi. Hanya pada mangsa kecil seperti tawon burung ini menggunakan paruhnya untuk mematuk secara langsung. Beberapa laporan yang belum dapat dipastikan menyebutkan bahwa saat menangkap ular, burung sekretaris terbang membawa mangsanya lalu menjatuhkannya dari udara hingga mati. Bahkan untuk mangsa yang lebih besar, makanan umumnya ditelan bulat-bulat melalui bukaan paruh burung yang cukup lebar. Sesekali, layaknya burung pemangsa lain, mereka menahan makanannya dengan kaki sambil mencabik-cabiknya dengan paruh.[27]

Makanan yang tidak dapat dicerna akan dimuntahkan kembali dalam bentuk pelet dengan diameter 40–45 mm (1,6–1,8 in) dan panjang 30–100 mm (1,2–3,9 in). Pelet ini biasanya dijatuhkan ke tanah di dekat pohon tempat mereka bertengger atau bersarang.[27] Burung sekretaris memiliki saluran pencernaan yang relatif pendek jika dibandingkan dengan burung-burung besar Afrika lainnya yang memiliki pola makan lebih bervariasi, seperti mandar-padang kori. Bagian usus depan-nya teradaptasi secara khusus untuk menelan daging dalam jumlah besar sehingga tidak terlalu membutuhkan proses pemecahan makanan secara mekanis. Tembolok-nya melebar dan ampela-nya tidak berotot, sama seperti pada burung karnivora lainnya.[45] Usus besarnya memiliki sepasang sekum vestigial (menyusut) karena pencernaan fermentatif dari materi tumbuhan tidak diperlukan.[46]
Burung sekretaris memiliki keahlian khusus dalam menginjak-injak mangsanya hingga mati atau tidak berdaya.[47] Metode berburu ini biasanya diterapkan untuk menghadapi kadal atau ular.[48] Seekor pejantan dewasa yang dilatih untuk menyerang ular karet di atas pelat pengukur gaya, tercatat mampu menendang dengan kekuatan setara lima kali lipat berat badannya sendiri, dengan durasi kontak yang hanya berlangsung selama 10–15 milidetik. Waktu kontak yang sangat singkat ini menunjukkan bahwa burung sekretaris sangat mengandalkan akurasi penargetan visual untuk menentukan letak kepala mangsa secara persis. Meskipun informasi mengenai bidang visualnya masih terbatas, bidang tersebut diasumsikan berukuran luas, mengarah ke depan, dan bersifat binokular. Burung sekretaris memiliki kaki yang sangat panjang (hampir dua kali lipat lebih panjang dibandingkan burung tanah lainnya dengan massa tubuh yang sama), yang diyakini sebagai bentuk adaptasi terhadap metode berburunya yang unik, yaitu menendang dan menginjak. Kendati demikian, tungkai yang panjang ini tampaknya juga mengurangi efisiensi berlarinya. Ahli ekofisiologi Steve Portugal beserta rekan-rekannya mengajukan hipotesis bahwa Phorusrhacidae (burung teror) yang kini telah punah mungkin menggunakan teknik berburu yang serupa dengan burung sekretaris mengingat mereka memiliki kesamaan anatomi, meskipun tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.[47]Burung sekretaris jarang berhadapan dengan pemangsa lain, kecuali dalam kasus elang cokelat, yang sering kali mencuri mangsa buruan mereka. Elang ini umumnya mencuri mangsa yang berukuran lebih besar dan menyerang burung sekretaris baik saat mereka sedang sendirian maupun berpasangan. Pasangan burung sekretaris terkadang berhasil mengusir elang tersebut dan bahkan dapat memukul jatuh serta menekan mereka ke tanah.[27]
Hubungan dengan manusia
Signifikansi budaya
Burung sekretaris digambarkan pada sebuah gagang pisau gading yang ditemukan di Abu Zaidan di Mesir Hulu, yang berasal dari budaya Naqada III (sekitar 3.200 SM).[49] Gagang pisau ini beserta peninggalan lainnya mengindikasikan bahwa secara historis burung sekretaris kemungkinan besar pernah tersebar lebih jauh ke utara di sepanjang Sungai Nil.[50][51]

Burung sekretaris secara tradisional dikagumi di Afrika karena penampilannya yang mencolok dan kemampuannya dalam membasmi hama serta ular. Oleh karena itu, burung ini sering kali tidak diganggu, meskipun hal ini mulai berubah seiring dengan menurunnya ketaatan terhadap tradisi setempat.[27] Burung ini menjadi figur utama pada lambang negara Afrika Selatan, yang diadopsi pada tahun 2000.[52] Dengan sayapnya yang terentang, burung ini melambangkan pertumbuhan, dan kegemarannya dalam membunuh ular menjadi simbol perannya sebagai pelindung negara Afrika Selatan dari musuh-musuh.[53] Burung ini juga terdapat pada lambang negara Sudan, yang diadopsi pada tahun 1969. Burung sekretaris turut ditampilkan pada bendera kepresidenan dan segel kepresidenan Sudan.[54]Burung sekretaris telah menjadi motif umum bagi negara-negara Afrika pada prangko mereka: tercatat ada lebih dari seratus prangko dari 37 penerbit, termasuk beberapa dari entitas penerbit prangko seperti Ajman, Manama, dan Maladewa, wilayah di mana burung ini sebenarnya tidak ditemukan, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa.[55]
Orang-orang dari Suku Maasai menyebutnya ol-enbai nabo, atau "satu panah", merujuk pada bulu jambulnya.[56] Mereka menggunakan bagian-bagian dari burung ini dalam pengobatan tradisional; bulunya dibakar dan asap yang dihasilkannya dihirup untuk mengobati epilepsi, telurnya dikonsumsi bersama teh dua kali sehari untuk mengobati sakit kepala, dan lemaknya direbus lalu diminum untuk pertumbuhan anak atau kesehatan ternak.[57]Templat:Pred Suku Xhosa menyebut burung ini inxhanxhosi dan mengaitkannya dengan kecerdasan yang luar biasa dalam cerita rakyat mereka.[58] Orang-orang Zulu menyebutnya intungunono.[59][60]
Ahli biologi Jerman Ragnar Kinzelbach mengemukakan pada tahun 2008 bahwa burung sekretaris telah tercatat dalam karya abad ke-13, De arte venandi cum avibus, karangan Kaisar Romawi Suci Frederick II. Dideskripsikan sebagai bistarda deserti, burung ini sempat disalahartikan sebagai sejenis burung bustard. Frederick kemungkinan besar memperoleh pengetahuan tentang burung ini dari sumber-sumber di Mesir. Pendeta dan penjelajah Prancis dari abad ke-16, André Thevet, juga menulis sebuah deskripsi tentang seekor burung misterius pada tahun 1558 yang disamakan oleh Kinzelbach dengan spesies ini.[50]```
Ancaman dan konservasi
Pada tahun 1968, spesies ini dilindungi di bawah Konvensi Afrika tentang Pelestarian Alam dan Sumber Daya Alam.[61] Uni Internasional untuk Konservasi Alam mendaftarkan burung sekretaris pada tahun 2016 sebagai spesies rentan dan sebagai spesies terancam punah pada tahun 2020, akibat penurunan populasinya yang berlangsung cepat baru-baru ini di seluruh daerah persebarannya.[1] Meskipun tersebar luas, spesies ini terdistribusi secara jarang di seluruh wilayah persebarannya; populasinya pada tahun 2016 diperkirakan berada di angka 6.700 hingga 67.000 individu.[1] Pemantauan jangka panjang di seluruh Afrika Selatan antara tahun 1987 dan 2013 telah menunjukkan bahwa populasi burung ini mengalami penurunan di seluruh penjuru negara tersebut, bahkan di kawasan lindung seperti Taman Nasional Kruger akibat invasi tumbuhan berkayu, yakni peningkatan tutupan vegetasi yang tinggi,[62] yang mengakibatkan hilangnya habitat terbuka yang disukai oleh spesies ini.[63]
Secara keseluruhan, populasi burung sekretaris terutama terancam oleh hilangnya habitat akibat fragmentasi jalan dan pembangunan, serta aktivitas penggembalaan yang berlebihan di padang rumput oleh hewan ternak.[64][65] Beberapa bentuk adaptasi terhadap area yang telah berubah wujud memang sempat tercatat, tetapi secara keseluruhan jumlah populasinya terus menurun.[63]
Di penangkaran
Keberhasilan membesarkan burung sekretaris di penangkaran untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1986 di Kebun Binatang dan Kebun Raya Oklahoma City. Meskipun burung sekretaris umumnya membangun sarang mereka di atas pohon di alam liar, burung-burung tangkapan di kebun binatang tersebut membangun sarangnya di tanah, yang membuat mereka rentan terhadap pemangsaan oleh mamalia liar setempat. Untuk mengatasi masalah ini, staf kebun binatang memindahkan telur-telur tersebut dari sarang setiap kali dikeluarkan agar dapat dierami dan ditetaskan di lokasi yang lebih aman.[66] Spesies ini juga telah dikembangbiakkan dan dibesarkan di penangkaran di San Diego Zoo Safari Park.[29]
Pada bulan Juni 2024, seekor anak burung sekretaris berhasil ditetaskan di Taman Safari Longleat di Wiltshire, lahir dari induk bernama Janine dan Kevin, yang telah menetap di taman tersebut sejak tahun 2018. Jenis kelamin anak burung tersebut belum diketahui, dan para penjaga memberikan makanan dengan potongan yang lebih kecil untuk kedua induknya yang sangat protektif. Keberhasilan penetasan ini dipandang sebagai langkah yang menjanjikan untuk membangun program pengembangbiakan baru bagi spesies ini di taman tersebut.[67][68]
Catatan
- ↑ Sebagian ahli ornitologi menempatkan suku Cathartidae dalam ordo terpisah, yaitu Cathartiformes.[17]
Referensi
- 1 2 3 BirdLife International (2020). "Sagittarius serpentarius". 2020 e.T22696221A173647556. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T22696221A173647556.en. ;
- 1 2 Sharpe, Richard Bowdler (1874). Catalogue of the Birds in the British Museum. Vol. 1. London: British Museum (Natural History). Department of Zoology. hlm. 45. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 October 2021. Diakses tanggal 11 April 2020.
- 1 2 Hackett, S. J.; Kimball, R. T.; Reddy, S.; Bowie, R. C. K.; Braun, E. L.; Braun, M. J.; Chojnowski, J. L.; Cox, W. A.; Han, K-L.; Harshman, J.; Huddleston, C. J.; Marks, B. D.; Miglia, K. J.; Moore, W. S.; Sheldon, F. H.; Steadman, D. W.; Witt, C. C.; Yuri, T. (2008). "A phylogenomic study of birds reveals their evolutionary history". Science. 320 (5884): 1763–1767. Bibcode:2008Sci...320.1763H. doi:10.1126/science.1157704. PMID 18583609. S2CID 6472805.
- 1 2 3 Gill, Frank; Donsker, David, ed. (2019). "Hoatzin, New World vultures, Secretarybird, raptors". IOC World Bird List Version 9.2. International Ornithologists' Union. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2020. Diakses tanggal 21 November 2019.
- ↑ Vosmaer, Arnout (1769). Description d'un oiseau de proie, nommé le sagittaire, tout-à-fait inconnu jusque'ici; apporté du Cap de Bonne Espérance (dalam bahasa Prancis). Amsterdam: Pierre Meyer. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 February 2021. Diakses tanggal 20 November 2019. Contains eight pages and a plate.
- ↑ Vosmaer, Arnout (1769). Beschryving van eenen Afrikaanschen nog geheel onbekenden roof-vogel de Sagitarrius genaamd op de Kaap de Goede Hoop (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: Pierre Meyer. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2020. Diakses tanggal 20 November 2019. Contains eight pages and a plate.
- 1 2 3 Glenn, Ian (2018). "Shoot the messager? How the secretarybird Sagittarius serpentarius got its names mostly wrong". Ostrich. 89 (3): 287–290. Bibcode:2018Ostri..89..287G. doi:10.2989/00306525.2018.1499561. S2CID 91373517.
- ↑ Miller, John Frederick (1779). Icones animalium et plantarum (dalam bahasa Latin). Vol. 1. London. Part 5, Plate 28. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2021. Diakses tanggal 20 November 2019.
- ↑ Hermann, Johann (1783). Tabula affinitatum animalium (dalam bahasa Latin). Argentorati [Strasbourg]: Printed by Joh. Georgii Treuttel. hlm. 136, 235. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2021. Diakses tanggal 20 November 2019.
- ↑ Jobling, James A. (2010). The Helm Dictionary of Scientific Bird Names. London: Christopher Helm. hlm. 345, 354. ISBN 978-1-4081-2501-4.
- ↑ Walters, Michael (2009). "The identity of the birds depicted in Shaw and Miller's Cimelia physica". Archives of Natural History. 36 (2): 316–326. doi:10.3366/E0260954109001016.
- ↑ Cuvier, Georges (1798). Tableau élémentaire de l'histoire naturelle des animaux (dalam bahasa Prancis). Paris: Baudouin. hlm. 254. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2022. Diakses tanggal 9 April 2020.
- ↑ Illiger, Johann Karl Wilhelm (1811). Prodromus systematis mammalium et avium (dalam bahasa Latin). Berlin: C. Salfeld. hlm. 234.
- ↑ Ogilby, William (1835). "Genus Gypogeranus Ill". Proceedings of the Zoological Society of London. 3: 104–105. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2022. Diakses tanggal 12 April 2020.
- ↑ Hume, Julian P. (2017). Extinct Birds. London: Bloomsbury Publishing. hlm. 413. ISBN 978-1-4729-3746-9.
- ↑ Mayr, Ernst; Cottrell, G. William, ed. (1979). Check-list of Birds of the World. Vol. 1 (Edisi 2nd). Cambridge, Massachusetts: Museum of Comparative Zoology. hlm. 390. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2021. Diakses tanggal 25 November 2019.
- ↑ Chesser, R. Terry; Burns, Kevin J.; Cicero, Carla; Dunn, John L.; Kratter, Andrew W; Lovette, Irby J; Rasmussen, Pamela C.; Remsen, J. V. Jr; Rising, James D.; Stotz, Douglas F.; Winker, Kevin (2017). "Fifty-seventh supplement to the American Ornithological Society's Check-list of North American Birds". The Auk. 133 (3): 544–560. doi:10.1642/AUK-16-77.1.
- ↑ Prum, R. O.; Berv, J. S.; Dornburg, A.; Field, D. J.; Townsend, J. P.; Lemmon, E. M.; Lemmon, A. R. (2015). "A comprehensive phylogeny of birds (Aves) using targeted next-generation DNA sequencing". Nature. 526 (7574): 569–573. Bibcode:2015Natur.526..569P. doi:10.1038/nature15697. PMID 26444237. S2CID 205246158.
- 1 2 Caley, Kevin (2007). "Fossil birds". Dalam del Hoyo, Josep; Elliott, Andrew; Christie, David (ed.). Handbook of the Birds of the World. Vol. 12: Picathartes to Tits and Chickadees. Barcelona: Lynx Edicions. hlm. 11–56. ISBN 978-84-96553-42-2.
- ↑ Mourer-Chauviré, Cécile; Cheneval, Jacques (1983). "Les Sagittariidae fossiles (Aves, Accipitriformes) de l'Oligocène des phosphorites du Quercy et du Miocène inférieur de Saint-Gérand-le-Puy". Geobios (dalam bahasa Prancis). 16 (4): 443–459. Bibcode:1983Geobi..16..443M. doi:10.1016/S0016-6995(83)80104-1.
- ↑ Feduccia, A.; Voorhies, M. R. (1989). "Miocene hawk converges on Secretarybird". Ibis. 131 (3): 349–354. doi:10.1111/j.1474-919X.1989.tb02784.x.
- ↑ Buffon, Georges-Louis Leclerc de (1780). "Le Secrétaire ou Le Messager". Histoire Naturelle des Oiseaux (dalam bahasa Prancis). Vol. 14. Paris: De l'Imprimerie Royale. hlm. 30–39 [35]. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2019. Diakses tanggal 23 November 2019.
- ↑ Fry, Charles Hilary (1977). "Etymology of "Secretary Bird"". Ibis. 119 (4): 550. doi:10.1111/j.1474-919X.1977.tb02069.x.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Brown, L. H.; Urban, E. K.; Newman, K., ed. (1982). The Birds of Africa. Vol. 1. London: Academic Press. hlm. 437–440. ISBN 978-0-12-137301-6.
- 1 2 3 4 5 Ferguson-Lees, J.; Christie, D. A. (2001). Raptors of the World. New York: Houghton Mifflin. hlm. 248. ISBN 978-0-618-12762-7.
- ↑ Biggs, H. C.; Kemp, A. C.; Mendelsohn, H. P.; Mendelsohn, J. M. (1979). "Weights of southern African raptors and owls". Durban Museum Novitates. 12 (7): 73–81 [75].
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Kemp, A. C. (1994). "Family Sagittariidae (Secretarybird)". Dalam del Hoyo, J.; Elliott, A.; Sargatal, J. (ed.). Handbook of the Birds of the World. Vol. 2: New World Vultures to Guineafowl. Barcelona: Lynx Edicions. hlm. 206–215. ISBN 978-84-87334-15-3.
- ↑ Dean, W. R. J.; Milton, S. J.; Jeltsch, F. (1999). "Large trees, fertile islands, and birds in arid savanna". Journal of Arid Environments. 41 (1): 61–78. Bibcode:1999JArEn..41...61D. doi:10.1006/jare.1998.0455.
- 1 2 "Secretary Bird | San Diego Zoo Animals & Plants". animals.sandiegozoo.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 November 2014. Diakses tanggal 18 November 2017.
- ↑ de Swardt, Dawid H. (2016). "Secretarybird Sagittarius serpentarius resighted after five years". Biodiversity Observations. 7 (26): 1–2.
- ↑ Greiner, Ellis C.; Kocan, A. A. (1977). "Leucocytozoon (Haemosporida; Leucocytozoidae) of the Falconiformes". Canadian Journal of Zoology. 55 (5): 761–770. Bibcode:1977CaJZ...55..761G. doi:10.1139/z77-099. PMID 406030.
- ↑ Bennett, G. F.; Earlé, R. A.; Peirce, M. A. (1993). "The Leucocytozoidae of South African birds: The Falconiformes and Strigiformes". Ostrich. 64 (2): 67–72. Bibcode:1993Ostri..64...67B. doi:10.1080/00306525.1993.9634206.
- ↑ Valkiūnas, G.; Mobley, K.; Iezhova, T. A. (2016). "Hepatozoon ellisgreineri n. sp. (Hepatozoidae): description of the first avian apicomplexan blood parasite inhabiting granulocytes". Parasitology Research. 115 (2): 609–613. doi:10.1007/s00436-015-4777-4. PMID 26472715. S2CID 18151844.
- ↑ Martin-Mateo, M. P.; Gallego, J. (1992). "Redescription of two species of Mallophaga (Insecta) parasites on Sagittarius serpentarius (Miller) (Aves)". Journal of the Entomological Society of South Africa. 55 (1): 137–147.
- 1 2 Kemp, Alan C. (1995). "Aspects of the breeding biology and behaviour of the secretarybird Sagittarius serpentarius near Pretoria, South Africa". Ostrich. 66 (2–3): 61–68. Bibcode:1995Ostri..66...61K. doi:10.1080/00306525.1995.9633760.
- ↑ Herholdt, J. J.; Anderson, M. D. (2006). "Observations on the population and breeding status of the African whitebacked vulture, the black-chested snake eagle, and the secretarybird in the Kgalagadi Transfrontier Park". Ostrich. 77 (3&4): 127–135. Bibcode:2006Ostri..77..127H. doi:10.2989/00306520609485523. S2CID 85889249.
- ↑ Whitecross, M. A.; Retief, E. F.; Smit-Robinson, H. A. (2019). "Dispersal dynamics of juvenile secretarybirds Sagittarius serpentarius in southern Africa". Ostrich. 90 (2): 97–110. Bibcode:2019Ostri..90...97W. doi:10.2989/00306525.2019.1581295. S2CID 195422587. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 October 2023. Diakses tanggal 3 November 2022.
- 1 2 Janzen, D. H. (1976). "The depression of reptile biomass by large herbivores". American Naturalist. 110 (973): 371–400 [374–375]. Bibcode:1976ANat..110..371J. doi:10.1086/283074. JSTOR 2459760. S2CID 83955487.
- ↑ Sagittarius serpentarius (secretary bird). (n.d.). Animal Diversity Web. https://animaldiversity.org/accounts/Sagittarius_serpentarius/
- ↑ Secretarybird | The Peregrine Fund. (n.d.). https://peregrinefund.org/explore-raptors-species/secretary-bird/secretarybird
- ↑ Sagittarius serpentarius (secretary bird). (n.d.). Animal Diversity Web. https://animaldiversity.org/accounts/Sagittarius_serpentarius/
- ↑ Harrison, J. Spranger (1944). "From an angler's note-book". Ostrich. 15 (2): 130–134. Bibcode:1944Ostri..15..130H. doi:10.1080/00306525.1944.9634703.
- ↑ Mills, M. G. L.; Mills, M. E. J. (2014). "Cheetah cub survival revisited: a re-evaluation of the role of predation, especially by lions, and implications for conservation". Journal of Zoology. 292 (2): 136–141 [139]. doi:10.1111/jzo.12087.
- ↑ Davies, G. B. P.; Retief, E. F.; Smit-Robinson, H. (2014). "Snakes in the diet of Secretarybirds Sagittarius serpentarius: an example from Balfour, Mpumalanga". Ornithological Observations. 5: 361–364. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2020. Diakses tanggal 4 April 2020.
- ↑ Maloiy, G.; Warui, C. N.; Clemens, E. T. (1987). "Comparative gastrointestinal morphology of the Kori bustard and secretary bird". Zoo Biology. 6 (3): 243–251. doi:10.1002/zoo.1430060307.
- ↑ Clench, Mary H.; Mathias, John R. (1995). "The avian cecum: a review" (PDF). Wilson Bulletin. 107 (1): 93–121 [100–101].
- 1 2 Portugal, Steven J.; Murn, Campbell P.; Sparkes, Emily L.; Daley, Monica A. (2016). "The fast and forceful kicking strike of the secretary bird". Current Biology. 26 (2): R58 – R59. Bibcode:2016CBio...26..R58P. doi:10.1016/j.cub.2015.12.004. PMID 26811886. S2CID 4965363.
- ↑ Sinclair, I.; Ryan, P.; Christy, P.; Hockey, P. (2003). Birds of Africa: South of the Sahara. Cape Town: Struik. ISBN 978-1-86872-857-2.
- ↑ Churcher, C. S. (1984). "A zoological study of the ivory knife handle from Abu Zaidan". Dalam Needler, Winifred (ed.). Predynastic and Archaic Egypt in the Brooklyn Museum, Brooklyn. The Brooklyn Museum. hlm. 154–155. ISBN 978-0-87273-099-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 October 2022. Diakses tanggal 8 April 2020.
- 1 2 Kinzelbach, Ragnar K. (2008). "Pre-Linnaean pictures of the secretarybird, Sagittarius serpentarius (J. F. Miller, 1779)". Archives of Natural History. 35 (2): 243–251. doi:10.3366/E0260954108000375.
- ↑ Braulinska, Kamila (December 2018). "The secretarybird dilemma: identifying a bird species from the Temple of Hatshepsut at Deir el-Bahari [In] Z. E. Szafrański (Ed.), Deir el-Bahari Studies 2. Polish Archaeology in the Mediterranean 27/2, pp. 83–116. Warsaw: University of Warsaw Press".
- ↑ "The National Symbols" (PDF). Western Cape Government. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 July 2021. Diakses tanggal 23 December 2019.
- ↑ Smith, Benjamin; Lewis-Williams, J. D.; Blundell, Geoffrey; Chippindale, Christopher (2000). "Archaeology and symbolism in the new South African coat of arms". Antiquity. 74 (285): 467–468. doi:10.1017/S0003598X00059688. S2CID 162034040.
- ↑ Ali, Bushra (2013). Encyclopedia of Sudan Banknotes 1856–2012. Lulu.com. hlm. 43. ISBN 978-1-300-92058-8.
- ↑ Scharning, Kjell. "Secretary Bird Sagittarius serpentarius". Theme Birds on Stamps. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 June 2020. Diakses tanggal 23 April 2020.
- ↑ Galaty, John G. (1998). "The Maasai ornithorium: tropic flights of avian imagination in Africa". Ethnology. 37 (3): 227–238. doi:10.2307/3774014. JSTOR 3774014.
- ↑ Kioko, John; Smith, Delaney; Kiffner, Christian (2015). "Uses of birds for ethno medicine among the Maasai people in Monduli District, Northern Tanzania". International Journal of Ethnobiology & Ethnomedicine. 1 (1): 1–13. ISSN 2394-0891. Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2020. Diakses tanggal 7 April 2020.
- ↑ Waters, M. W. (1926). Cameos from the Kraal. Alice, South Africa: Lovedale Institution Press. hlm. 55–56.
- ↑ Sclater, W. L. (1903). The Birds of South Africa. Volume III. Picarians, Parrots, Owls and Hawks. London: R. H. Porter. hlm. 403.
- ↑ Godfrey, Robert (1941). Bird-lore of the Eastern Cape Province. Bantu Studies. Monograph Series No. 2. Johannesburg: Witwatersrand University Press. hlm. 22.
- ↑ Bowman, Michael; Davies, Peter; Redgwell, Catherine (2010). Lyster's International Wildlife Law. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 262. ISBN 978-1-139-49495-3.
- ↑ Hofmeyr, Sally D.; Symes, Craig T.; Underhill, Leslie G. (2014). "Secretarybird Sagittarius serpentarius Population Trends and Ecology: Insights from South African Citizen Science Data". PLOS ONE. 9 (5) e96772. Bibcode:2014PLoSO...996772H. doi:10.1371/journal.pone.0096772. PMC 4016007. PMID 24816839.
- 1 2 Hofmeyr, Sally D.; Symes, Craig T.; Underhill, Leslie G. (2014). "Secretarybird Sagittarius serpentarius Population Trends and Ecology: Insights from South African Citizen Science Data". PLOS ONE. 9 (5) e96772. Bibcode:2014PLoSO...996772H. doi:10.1371/journal.pone.0096772. PMC 4016007. PMID 24816839.
- ↑ Allan, D. G.; Harrison, J. A.; Navarro, R. A.; van Wilgen, B. W.; Thompson, M. W. (1997). "The impact of commercial afforestation on bird population in Mpumalanga Province, South Africa – Insights from Bird-Atlas Data". Biological Conservation. 79 (2–3): 173–185. Bibcode:1997BCons..79..173A. CiteSeerX 10.1.1.625.4717. doi:10.1016/s0006-3207(96)00098-5.
- ↑ Amakobe, Bernard; Ndang'ang'a, Kariuki; Githiru, Mwangi; Gray, Claudia; Owen, Nisha; Couchman, Olivia (2019). "A survival blueprint for the Secretarybird, Sagittarius serpentarius, an output from Wildlife Works, Kenya and an EDGE of Existence fellowship" (PDF). Zoological Society of London. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 June 2021. Diakses tanggal 8 April 2020.
- ↑ Todd, William T. (1988). "Hand-rearing the secretary bird Sagitarius serpentarius at Oklahoma City Zoo". International Zoo Yearbook. 27 (1): 258–263. doi:10.1111/j.1748-1090.1988.tb03220.x.
- ↑ "Endangered secretary bird born at Longleat Safari Park". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 28 June 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 August 2024. Diakses tanggal 22 August 2024.
- ↑ "A New Hatchling". www.longleat.co.uk. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 August 2024. Diakses tanggal 22 August 2024.
Pranala luar
- Explore Species: Secretarybird di eBird (Cornell Lab of Ornithology)
- Birdlife Species Factsheet
- Species text in The Atlas of Southern African Birds
- Secretarybird Structured guide to the species in southern Africa
| Famili |
|
|---|---|
| |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| Sagittarius serpentarius |
|
|---|---|
| Falco serpentarius | |