Pria kelahiran Kampung Kauman Yogyakarta ini merupakan putra dari Zainuddin Ma'ruf Rusdiman seorang tokoh agama Islam.
Burhanuddin adalah alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta atau yang sering disebut SMA Teladan dan sejak muda aktif terlibat dalam organisasi baik itu organisasi pelajar seperti Pelajar Islam Indonesia hingga organisasi Himpunan Mahasiswa Islam saat menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
Kiprah saat G30S
Saat pergolakan politik dengan munculnya pemberontakan G 30 S/PKI yang memunculkan teror penghadangan serta penganiayaan oleh anggota atau simpatisan PKI terhadap aktivis Islam di jalan-jalan hingga serangan ke kampung atau wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim yang mengakibatkan jatuhnya korban para pemuda Yogyakarta yang anti komunis[1] membuatnya terjun langsung bersama dengan kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan. Dalam situasi yang serba tidak jelas dan jatuhnya beberapa korban jiwa akibat perbuatan para anggota dan simpatisan PKI membuat Burhanuddin yang saat itu tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan juga anggota Angkatan 66 yang tergabung dalam Laskar Aris Margono,[2] di mana Aris Munandar dan Margono adalah nama pemuda anggota Persyarikatan Muhammadiyah yang menjadi korban kebiadaban ditembak aparat yang sudah dibina oleh PKI[3] dan juga meninggalnya Kolonel Katamso Komandan Korem[4] dan Letkol R. Sugiyono Kepala Staf Komando Resort Militer[5]Korem 072/PamungkasKodam VII/Diponegoro (Sekarang Kodam IV/Diponegoro) di Yogyakarta di Yogyakarta membuat Burhanuddin yang saat itu menjabat sebagai staf satu Laskar Ampera Aris Margono dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang mendapat izin membunuh atau license to kill serta dilatih di Kaliurang oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (sekarang Kopassus). Burhan menjadi salah satu dari 10 orang yang dipilih RPKAD yang diberikan pistol jenis FN [6]
melakukan tindakan keras kepada para anggota PKI sehingga akhirnya membuatnya dijuluki Burhan Kampak. Burhanuddin dianggap algojo di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada masa Pembantaian di Indonesia 1965–1966. Pada masa pembantaian tersebut, ia mengaku beroperasi di Luweng, Gunungkidul, hingga Manisrenggo dan Kaliwedi di Klaten, Jawa Tengah dan melakukan eksekusi memakai kapak panjang dan pistol.[7]