Pada umumnya penerbitan buku telepon dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi yang menjadi operator telepon kabel di suatu wilayah. Jumlah buku yang diterbitkan dapat berbeda menurut negara. Di AS, yang lebih mengunggulkan kompetisi, terdapat banyak perusahaan yang menyelenggarakan jasa telepon, sehingga buku telepon yang dicetak juga memiliki banyak versi. Seiring waktu juga muncul penerbit buku telepon yang terpisah dari perusahaan telekomunikasi, setelah perusahaan telepon menjual/spin-off bisnisnya ke entitas terpisah. Misalnya, di Britania Raya, penerbit buku telepon adalah perusahaan bernama Yell, yang merupakan sempalan dari penerbit aslinya yaitu perusahaan telekomunikasi British Telecom.[20][21]
Buku telepon di Indonesia
Tidak diketahui secara pasti kapan buku telepon pertama diterbitkan di Hindia Belanda, namun pada pertengahan abad ke-20, buku tersebut sudah muncul di sejumlah kota, seperti Batavia, Surabaya, Lampung, Makassar, dan Banjarmasin. Pada mulanya buku yang diterbitkan masih belum memisahkan halaman putih dan kuning, dengan iklan diselipkan langsung di daftar seluruh pengguna telepon. Buku tersebut juga menggunakan Bahasa Belanda.[22] Setelah kemerdekaan RI buku tersebut mulai menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga namanya berubah dari "Telefoongids (kota)" menjadi "Buku Penundjuk Telepon (kota)" (EYD: Buku Penunjuk Telepon).
Mulanya penerbit buku tersebut adalah perusahaan Post, Telegraaf, en Telefoondienst/Pos, Telegrap dan Telekomunikasi (PTT), yang setelah 1965 dilanjutkan PN Postel/Perumtel dengan format yang tidak jauh berbeda. Pada tahun 1975, Perumtel menjalin kerjasama dengan anak usaha Pertamina, Elnusa untuk mengembangkan bisnis direktorinya. Masuknya Elnusa (dalam wadah Elnusa GTDI) membuat buku telepon yang diterbitkan di Indonesia mulai mengikuti gaya Barat, seperti dalam tata letak dan pemisahan yang jelas antara white pages dan yellow pages. Mulanya buku cetakan kerjasama keduanya hanya diterbitkan di 5 kota, yang kemudian diperluas ke berbagai daerah, termasuk ke 27 provinsi di Indonesia. Kerjasama tersebut kemudian ditransformasikan menjadi sebuah perusahaan patungan bernama PT Elnusa Yellow Pages, dengan pemegang sahamnya terdiri dari YDPP Telkom dan PT Elnusa (70%).[23][24] Perusahaan tersebut kemudian akan terus menjadi penerbit buku ini hingga 2013, meskipun sempat berubah kepemilikan menjadi dikuasai penuh oleh Telkom (d/h Perumtel) dan namanya berganti menjadi PT Infomedia Nusantara.[23][25]
Buku yang nama resminya kemudian menjadi "Buku Petunjuk Telepon" (BPT) ini mulanya menggabungkan yellow pages dan white pages dalam satu buku. Seiring waktu, dimulai dari Jakarta sejak akhir 1980-an, BPT terbitan PT Elnusa YP/Infomedia Nusantara dipecah menjadi beberapa versi. Mulanya hanya buku putih dan buku kuning yang dipisah. Lalu, buku kuning dipecah menjadi dua: versi "Belanja" yang berisi iklan-iklan dan nomor telepon bisnis yang ditujukan untuk konsumer (hotel, restoran, dll), dan versi "Industri dan Niaga" yang menargetkan sektor korporasi besar. Buku putih pun dipecah juga, mulanya menjadi versi "Residensial" (perumahan) dan "Bisnis" (korporasi), yang selanjutnya versi Residensial dipecah menjadi lima wilayah Jakarta (Barat, Selatan, Utara, Timur dan Pusat). Sejak cetakan Industri dan Niaga Jakarta 2005, yellow pages juga mulai diterbitkan dalam versi warna (full color). Buku yellow pages kemudian mendapatkan nama resmi yaitu "Panduan Informasi Bisnis" (PIB).[26] Infomedia kemudian berusaha menerapkan pemisahan tersebut ke berbagai wilayah, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung dan Medan, meskipun tidak seluruhnya (hingga 2010-an, masih ada daerah yang bukunya dicetak tanpa warna dan buku putih-kuningnya digabung).
Perkembangan teknologi membuat Infomedia memperluas jangkauan yellow pages terbitannya dalam berbagai versi. Di tahun 1996, mereka meluncurkan situs web-nya dengan nama yellowpages.co.id. Disusul kemunculan yellow pages dalam versi CD-ROM, dan pada 2000-an, versi e-book dari buku cetaknya khusus beberapa kota. Layanan mereka kemudian juga tersedia/dapat diakses dalam bentuk SMS, aplikasi, Yellow Kiosk, telepon 108, layanan bernomor 8108, dan lainnya. Diperkirakan, pada tahun 2009, ada 74 buku yellow pages yang diterbitkan per tahunnya di Indonesia. Selain buku tersebut, Infomedia juga menerbitkan direktori lain seperti Hospital & Health Directory, Indonesia Tourist Directory, dll.[27][28]
Pada tahun 2013 Telkom menyerahkan penerbitan buku telepon dari Infomedia kepada anak usahanya yang lain yang baru dibentuk, bernama PT Metra Digital Media, dalam rangka mengonsolidasikan bisnis periklanan perusahaan.[29] Meskipun demikian, seperti nasib buku telepon di negara lain, penggunaannya juga terus merosot seiring waktu. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi jasa direktori pada pendapatan Metra yang pada tahun 2016 hanya mencapai Rp 120 miliar, dari total Rp 630 miliar.[30] Pada tahun sebelumnya (2015), jumlah buku yang diterbitkan juga sudah berkurang menjadi 21 buku.[31] Untuk mengatasi penurunannya, Metra sempat mencanangkan upaya digitalisasi layanan yellow pages, khususnya untuk menjadi layanan "digital enabler" khusus UMKM.[32]
Belakangan, Metra menyerahkan penerbitan buku tersebut ke perusahaan lain di luar Telkom bernama PT Gets Dinamika sejak 2018.[33] Lepasnya penerbitan buku telepon dari tangan Telkom, seakan menjadi pertanda usianya yang tidak lama lagi. Di bawah Gets, buku telepon yang diterbitkan di Indonesia semakin berkurang menjadi di hanya beberapa kota besar saja (Jakarta, Bandung, Surabaya, Batam, Medan, dll).[34] Tahun 2021 menjadi tahun terakhir buku yellow pages diproduksi oleh Gets Dinamika. Penghentian yang tanpa gembar-gembor itu, berarti mengakhiri penerbitan buku telepon di Indonesia.
Selain Telkom, ada juga perusahaan di luar perusahaan BUMN tersebut yang berusaha menerbitkan buku kuningnya sendiri sejak 2000-an. Buku-buku mereka umumnya tidak resmi dan hanya berisi iklan saja. Beberapa kali buku-buku tak resmi tersebut juga diduga merupakan bagian dari sindikat penipuan kepada masyarakat yang kurang memahami skema pemasangan iklan. Buku tersebut muncul dalam berbagai nama, seperti IBN Yellowpages, ID Yellowpages, MBN Yellowpages, Info Yellowpages, IDB Yellowpages, IBD Yellowpages dan lainnya.[35][36][37] Munculnya yellow pages palsu tersebut terjadi meskipun merek, logo dan identitas buku ini sudah didaftarkan sebagai hak merek milik Telkom.[38]