Budaya BelandaBeberapa simbol dan karya dari budaya Belanda.
Budaya Belanda sangat beragam, yang mencerminkan perbedaan-perbedaan regional serta pengaruh asing yang terbentuk berkat semangat merkantilisme dan penjelajahanbangsa Belanda selama berabad-abad. Belanda dan rakyatnya telah lama memainkan peran penting sebagai pusat liberalisme budaya dan toleransi. Zaman Keemasan Belanda secara umum dianggap sebagai masa kejayaan Belanda.
Peta yang mengilustrasikan wilayah tempat bahasa Belanda dituturkan.
Bahasa resmi di Belanda adalah bahasa Belanda, dituturkan oleh hampir semua orang di Belanda. Bahasa Belanda juga dituturkan dan bahasa resmi di Aruba, Brussel, Curaçao, Flandria, Sint Maarten, dan Suriname. Bahasa Belanda adalah salah satu bahasa Jermanik Barat yang mulai ada sejak Abad Pertengahan (c. 470) dan distandardisasi pada abad ke-16. Bahasa Frisia juga bahasa yang diakui dan digunakan oleh pemerintah di provinsi Friesland. Beberapa dialek dari bahasa Sachsen Hilir (Nedersaksisch dalam bahasa Belanda) dituturkan di sebagian besar wilayah utara dan timur dan diakui oleh negara Belanda sebagai bahasa daerah berdasarkan European Charter for Regional or Minority Languages. Dialek bahasa Belanda lain yang diberi status bahasa daerah adalah bahasa Limburg, yang dituturkan di provinsi Limburg yang berada di tenggara. Namun, bahasa Sachsen Hilir dan bahasa Limburg tersebar di sepanjang perbatasan Belanda–Jerman dan tergolong ke dalam sebuah kontinum dialek yang disebut "Belanda-Jerman Hilir".
Terdapat kebiasaan mempelajari bahasa asing di Belanda: sekitar 89% populasi dapat berbicara dalam bahasa Inggris, 70% dalam bahasa Jerman, 29% dalam bahasa Prancis, dan 5% dalam bahasa Spanyol.
Seni lukis Zaman Keemasan Belanda termasuk yang paling diakui di dunia pada masa itu, yaitu selama abad ke-17. Produksi lukisan saat itu sangat melimpah, sedemikian rupa hingga harga lukisan pun turun drastis selama periode tersebut. Sejak tahun 1620-an, seni lukis Belanda secara tegas berpisah dari gaya Barok yang dipopulerkan oleh Rubens di wilayah tetangga Flandria, dan beralih ke gaya penggambaran yang lebih realistis, yang sangat berfokus pada dunia nyata. Jenis-jenis lukisan meliputi lukisan sejarah, potret, pemandangan alam dan pemandangan kota, lukisan alam benda, serta lukisan genre. Dalam empat kategori terakhir ini, pelukis Belanda menetapkan gaya yang menjadi acuan seni di Eropa selama dua abad berikutnya. Lukisan-lukisan tersebut sering kali memiliki makna moralistik. Zaman Keemasan tidak pernah benar-benar pulih dari invasi Prancis pada tahun 1672, meskipun ada masa transisi yang berlangsung hingga sekitar tahun 1710.[butuh rujukan]
Pelukis Belanda, terutama di provinsi-provinsi utara, berusaha membangkitkan emosi pada penonton dengan menjadikan mereka sebagai saksi mata atas sebuah adegan yang sarat keintiman. Seni melukis potret berkembang pesat di Belanda pada abad ke-17. Sejumlah besar potret dipesan oleh para individu kaya. Potret kelompok juga sering dipesan oleh anggota terkemuka dari pasukan sipil kota, dewan pengurus, dan para wali kota, serta sejenisnya. Seringkali potret kelompok dibayar oleh setiap orang yang digambarkan secara individu. Contoh utama dari hal ini adalah De Nachtwacht karya Rembrandt. Jumlah yang dibayarkan menentukan posisi masing-masing orang dalam lukisan, baik dari kepala hingga kaki dengan seragam lengkap di latar depan atau hanya wajah di bagian belakang kelompok. Terkadang semua anggota kelompok membayar jumlah yang sama, yang kemungkinan besar menimbulkan perselisihan ketika beberapa anggota mendapatkan posisi yang lebih menonjol dalam lukisan daripada yang lain. Alegori, di mana objek yang dilukis menyampaikan makna simbolis tentang subjek, sering diterapkan. Banyak lukisan genre, yang tampaknya hanya menggambarkan kehidupan sehari-hari, sebenarnya mengilustrasikan peribahasa dan ungkapan Belanda, atau menyampaikan pesan moral, yang maknanya tidak selalu mudah dipahami saat ini. Topik favorit dalam lanskap Belanda adalah bukit pasir di sepanjang pantai barat, sungai dengan padang rumput luas di sekitarnya tempat ternak merumput, seringkali disertai siluet kota di kejauhan.[butuh rujukan]
Aliran Den Haag ada pada awal abad ke-19. Mereka menampilkan semua yang paling serius atau paling terang dalam lanskap Belanda, semua yang paling berat atau paling jernih dalam atmosfernya. Impresionisme Amsterdam berkembang pada pertengahan abad ke-19, hampir bersamaan dengan Impresionisme Prancis. Para pelukis menuangkan kesan mereka ke kanvas dengan sapuan kuas yang cepat dan terlihat. Mereka berfokus pada penggambaran kehidupan sehari-hari kota. Amsterdam pada akhir abad ke-19 merupakan pusat seni dan sastra yang ramai. Vincent van Gogh adalah pelukis pascampresionis yang karyanya, yang terkenal karena keindahan kasarnya, kejujuran emosional, dan warna yang berani, memiliki pengaruh yang luas pada seni abad ke-20. Pada abad ke-20, Belanda menghasilkan banyak pelukis dan seniman hebat termasuk (tetapi tidak terbatas pada): Roelof Frankot, Salomon Garf, Pyke Koch, dan banyak lagi. Sekitar tahun 1905-1910, pointilisme berkembang pesat. Antara tahun 1911 dan 1914, semua gerakan seni terbaru tiba di Belanda satu demi satu, termasuk kubisme, futurisme, dan ekspresionisme. Setelah Perang Dunia I, De Stijl (gaya tersebut) dipimpin oleh Piet Mondrian dan mempromosikan seni murni, yang hanya terdiri dari garis vertikal dan horizontal, serta penggunaan warna-warna primer.[butuh rujukan]