Bubur lolos dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan encer, gula merah, dan garam, kemudian dimasak hingga mengental.[1] Setelah matang, bubur dimasukkan ke dalam wadah daun pisang yang dibentuk menyerupai selongsong dan salah satu ujungnya dibiarkan terbuka.[1]
Sebelum digunakan, bagian dalam daun pisang diolesi minyak kelapa (minyak keletik).[1] Setelah bubur dimasukkan ke dalam wadah, bagian atasnya diberi mata ula, yaitu santan kental yang dimasak bersama sedikit tepung beras dan garam hingga bertekstur lebih pekat.[1]
Fungsi dalam tradisi
Dalam tradisi masyarakat Sunda, bubur lolos merupakan salah satu sajian yang dihidangkan pada upacara kehamilan tujuh atau delapan bulanan.[1] Penyajian makanan ini berkaitan dengan harapan agar ibu hamil memperoleh keselamatan, kemudahan, dan kelancaran pada saat persalinan.[1]
Bubur lolos menjadi bagian dari rangkaian simbolik yang digunakan untuk menyampaikan doa dan harapan bagi ibu maupun bayi yang sedang dikandung.[1]
Makna simbolis
Masyarakat Sunda memaknai unsur-unsur dalam bubur lolos sebagai perlambang proses kelahiran. Bubur yang berada di dalam wadah daun pisang diibaratkan sebagai janin yang berada dalam rahim ibu. Sementara itu, mata ula yang berwarna putih dimaknai sebagai lambang air ketuban.[1]
Minyak keletik yang dioleskan pada bagian dalam daun pisang dimaknai sebagai simbol pelumas yang memudahkan keluarnya bayi saat proses persalinan. Oleh karena itu, makanan ini sering dikaitkan dengan harapan akan kelancaran proses kelahiran.[1]
Dalam tradisi masyarakat setempat, ibu hamil juga dianjurkan mengonsumsi minyak keletik menjelang persalinan.[1] Praktik tersebut didasarkan pada kepercayaan bahwa minyak keletik dapat membantu memperlancar proses melahirkan.[1]
Nilai budaya
Sebagai bagian dari kuliner ritual, bubur lolos tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai dan harapan dalam siklus kehidupan manusia.[1] Kehadirannya mencerminkan hubungan erat antara tradisi kuliner, kepercayaan masyarakat, dan upacara daur hidup dalam budaya Sunda.[1]