Pendidikan
Billy menerima beasiswa untuk mengenyam pendidikan sekolah menengah atas (SMA) di Jayapura.[4]
Pada 2008, ia memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (FTTM ITB) dengan beasiswa afirmasi otonomi khusus Papua.[4]
Pada 2012, Billly mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menyelesaikan program master di bidang administrasi publik dari Universitas Nasional Australia (ANU) pada 2014.[5] Ia mendapatkan penghargaan khusus sebagai mahasiswa pascarjana terbaik dari wakil kanselir ANU pada 2015.[6][7]
Pada 2017, Billy terpilih sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menempuh studi doktoral di Universitas Pennsylvania di Amerika Serikat.[8]
Pada 2018, ia menempuh persiapan keberangkatan LPDP.[8] Namun, Billy kemudian menjalani program master di Sekolah Bisnis Said, Universitas Oxford, Inggris.[9] Pada 2020, Billy malah mengaku menyelesaikan program pendidikan sarjana kedua di Universitas London yang menurutnya dimulai sejak 2016.[10][11]
Pada 2019, LPDP menyebut telah memberikan diskresi bagi Billy untuk menunda studi doktoralnya dengan beasiswa LPDP karena tugas sebagai staf khusus presiden.[12]
Akan tetapi, pada 2020, Billy mengumumkan dirinya menjalani program master lagi, kali ini di bidang pengembangan manusia dan psikologi dari Universitas Harvard yang diselesaikannya pada 2022 dengan beasiswa dari Tanoto Foundation.[13][14]
Pada 2023, Billy menyatakan dirinya tengah menempuh studi doktoral di Universitas Pennsylvania sebagai tindak lanjut beasiswa LPDP.[15]
Pada Februari 2025, Billy mengumumkan bahwa dirinya mengundurkan diri sebagai penerima beasiswa LPDP.[16] Ia kemudian juga menyatakan bahwa dirinya memilih menempuh studi doktoral di Universitas Buckingham di Inggris dengan biaya mandiri, bukan di Universitas Pennsylvania.[17]
Karier
Selepas lulus dari ITB, Billy bekerja sebagai insinyur untuk perusahaan minyak dan gas asal Inggris, BP pada 2009 hingga 2019.[18] Selagi bekerja di BP, Billy mendirikan organisasi nirlaba bernama Kitong Bisa Foundation (KBF) pada 2009 yang merekrut sukarelawan untuk menyediakan pendidikan informal bagi anak-anak di Papua.[19]
Pada September 2019, Billy bersama sejumlah tokoh muda Papua dari tujuh wilayah adat bertemu dengan Presiden Joko Widodo.[20] Dari pertemuan tersebut, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, mengembangkan konsep Papua Youth Creative Hub (PYCH) yang dimaksudkan sebagai inkubator bisnis di wilayah Indonesia Timur.[20][21]
Pada Oktober 2019, Billy mendirikan PT Papua Muda Inspiratif (PMI) bersama Edward Kabes, Neil Leonardo Aiwoy, Agustine Arriella Nere, dan Isnaini Varidah Uswasnas sebagai pemegang saham dan pengurus.[22] Sebagai Direktur Utama PT PMI, Billy mendampingi Presiden Joko Widodo dan Kepala BIN, Budi Gunawan, dalam peresmian Papua Youth Creative Hub pada 28 Oktober 2019.[22][23] Selain Papua, Billy dan PT PMI juga menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan program serupa di Maluku sebagai bagian dari upaya menciptakan lapangan kerja.[24][25] Selain PT PMI, Yayasan Kitong Bisa juga aktif terlibat dalam berbagai program kerja sama dengan pemerintah melalui Papua Youth Creative Hub.[26]
Pada November 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan Billy sebagai satu dari tujuh Staf Khusus Presiden berusia muda yang dikenal sebagai stafsus milenial dengan fokus pada bidang inovasi dan pembangunan berkelanjutan.[27][28] Pada masa ini, Billy juga bertugas sebagai Duta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).[29][30]
Pada Pemilihan Umum 2024, Billy bergabung dalam tim kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.[31] Ia kemudian bergabung dengan sayap pemuda Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Tunas Indonesia Raya (Tidar), dengan posisi Kepala Bidang Pendidikan dan Olahraga.[32]
Pada Juli 2024, Yayasan Kitong Bisa yang dibina oleh Billy bermitra dengan Indonesia Food Security Review (IFSR) untuk melaksanakan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Biak Numfor, Papua.[33] Hingga November 2025, Yayasan Kitong Bisa mengelola lima dapur MBG yang tersebar di Timika, Wamena, Biak, dan Yapen.[34]
Sejak Juli 2025, Billy bertugas sebagai tenaga ahli bidang investasi di Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam).[35] Selain itu, ia juga aktif menjadi peneliti di Pusat Kajian Daya Saing ASEAN di Politeknik Negeri Batam.[36][37]
Pada Oktober 2025, Billy ditunjuk menjadi anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua.[38][39] Dalam kapasitas ini, ia aktif terlibat dalam percepatan pembangunan sosial dan ekonomi di Papua, termasuk peninjauan langsung program-program strategis seperti MBG, meninjau kondisi masyarakat, serta mewakili kepentingan masyarakat Papua dalam berbagai forum dialog.[40]
Pada Februari 2026, ia mendapat mandat lain sebagai anggota Dewan Komisaris PT Taspen sejak Februari 2026.[41]