Kartu pos dari New Zealand mengadvokasi hak pilih setara bagi perempuan, ilustrasi sepeda penny-farthing melambangkan perbedaan antara hak pilih terbatas yang sudah dimiliki dan tuntutan atas hak pilih penuh dalam pemilihan nasional, yang terwujud pada 1893.
Sepeda memiliki dampak terhadap kehidupan perempuan dalam berbagai aspek.[1][2][3] Dampak terhadap peran sosial perempuan terlihat jelas pada dekade 1890-an, ketika fenomena demam sepeda melanda masyarakat Amerika dan Eropa.[4] Pada masa tersebut, sepeda berkontribusi bagi gerakan perempuan dengan memberikan mobilitas sosial yang lebih luas.[5] Salah satu tokoh yang dikenal dalam konteks ini adalah Annie Londonderry, yang tercatat sebagai perempuan pertama yang melakukan perjalanan keliling dunia dengan sepeda.[6][7][8]
Harga sepeda yang relatif terjangkau serta adanya skema pembayaran dari perusahaan sepeda di Amerika Serikat membuatnya dapat diakses oleh berbagai kalangan. Dampaknya paling nyata dirasakan oleh perempuan kulit putih dari kelas menengah dan atas. Kehadiran sepeda berkontribusi pada perubahan peran mereka dari ranah domestik menuju partisipasi yang lebih luas di ruang publik dan kehidupan komunitas.[3][9] Pada abad ke-21, isu bersepeda bagi perempuan masih menjadi perdebatan di sejumlah negara, termasuk Arab Saudi dan Iran.[10][11][12][13]
Sejarah
Dandyhorse (sebelum 1860-an)
Dandyhorse ditemukan pada tahun 1817 dan menjadi populer selama beberapa tahun.[14][15] Kendaraan ini dapat melaju sekitar dua kali kecepatan berjalan kaki. Dandyhorse tidak memiliki pedal atau engkol, dan digerakkan dengan kaki seperti sepeda keseimbangan modern. Denis Johnson memasarkan versi untuk perempuan dengan rangka rendah (step-through frame).[16]
Galeri ini menampilkan Ladies’ Walking Machine karya Denis Johnson yang dijual di London pada 1818–1819, dengan rangka rendah agar dapat digunakan dengan rok panjang.
Sebuah draisine roda tiga dengan kursi menghadap ke depan untuk penumpang perempuan.
Velocipede, sebuah label tembakau, 1874.Sepeda roda tinggi Ariel dan Lady Ariel, desain tahun 1874 yang ditujukan bagi perempuan dengan busana berkuda. Tingkat kepraktisan dalam penggunaan nyata masih belum diketahui secara pasti.
Velocipede (1860-an hingga pertengahan 1880-an)
Antara 1860-an hingga pertengahan 1880-an, sepeda standar yang umum digunakan adalah jenis penny-farthing atau high wheeler, yang relatif sulit dikendalikan dan berisiko. Jenis ini umumnya digunakan oleh laki-laki. Perempuan menggunakan jenis lain seperti sociable (sepeda dua tempat duduk berdampingan), sepeda gandeng, dan sepeda roda tiga. Sejak akhir 1860-an, bersepeda bersama (companionate riding) menjadi kegiatan sosial bagi laki-laki dan perempuan. Kendaraan ini memungkinkan interaksi sosial lintas gender dalam konteks baru. Namun hingga pertengahan 1880-an, partisipasi perempuan dalam bersepeda sering bergantung pada kehadiran laki-laki. Dalam penggunaan sociable, laki-laki biasanya mengendalikan kendaraan, yang mencerminkan struktur sosial pada masa tersebut.[3][17]
Demam Sepeda (akhir 1880-an hingga pertengahan 1890-an)
Pada akhir 1880-an hingga pertengahan 1890-an, sepeda modern tipe safety bicycle dikembangkan. Desain ini lebih stabil dan mudah digunakan, sehingga bersepeda menjadi semakin populer.[17][18]
"Bicycling" (Bersepeda), cetakan warna sekitar 1887 yang menunjukkan salah satu dari sedikit cara yang dianggap sopan bagi perempuan untuk bersepeda sebelum muncul sepeda pengaman dan busana khusus perempuan untuk bersepeda.
Sociable, 1886; lebih umum digunakan untuk rekreasi daripada transportasi sehari-hari
Sepeda roda tiga tandem, “Cocok untuk perempuan maupun laki-laki—aman, praktis, dan cepat,” menurut The Bicycling World, 16 September 1887.
Perempuan dengan sepeda pengaman (safety bicycle), 1890-an
Fatma Aliye Topuz mengendarai sepeda roda tiga, diduga saat hamil, sekitar tahun 1900
Kesultanan Utsmaniyah
Menurut Alon Raab, profesor Studi Agama di Universitas California, Davis, oposisi terhadap bersepeda di Kesultanan Utsmaniyah muncul cepat dari kalangan konservatif dan tokoh agama, yang sering mengkritik sepeda sebagai Devil's Chariot atau Kereta Setan. Para sarjana ortodoks berpendapat bahwa bersepeda dapat merusak organ reproduksi, mendorong perilaku seksual bebas, dan menghancurkan institusi keluarga. Raab menambahkan bahwa tujuan terselubung mereka adalah menjaga perempuan tetap di rumah dan membatasi interaksi tanpa pengawasan antara laki-laki dan perempuan. Banyak otoritas agama Muslim mengecam perempuan bersepeda sebagai bid’ah. Raab mencatat bahwa perempuan pengendara sepeda dikritik di media dan hukum, dan di beberapa tempat menghadapi serangan fisik. Meskipun demikian, pada awal abad ke-20 perempuan di wilayah tersebut mulai menggunakan sepeda untuk berbagai keperluan. Aktivitas ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya partisipasi perempuan dalam gerakan sosial dan politik, termasuk yang melibatkan tokoh seperti Fatma Aliye Topuz.[19][20]
Publikasi
Pada dekade 1890-an, kelompok yang terdiri atas beberapa perempuan dan laki-laki menerbitkan buku panduan untuk membantu perempuan belajar bersepeda. Buku-buku tersebut memuat petunjuk teknis serta pengalaman pribadi mengenai bersepeda. Frances Elizabeth Willard, presiden nasional Woman’s Christian Temperance Union (WCTU), menulis A Wheel Within A Wheel. Dalam karyanya, Willard membahas pengalaman belajar bersepeda, manfaat kesehatan yang dirasakannya, serta penggunaan bersepeda sebagai kegiatan sosial.[1]
Elizabeth Cady Stanton menyatakan bahwa sepeda berperan dalam mendorong perempuan untuk mengambil peran yang lebih luas dalam masyarakat. Pada tahun 1896, Susan B. Anthony menyebut bahwa bersepeda memberikan kontribusi besar terhadap emansipasi perempuan.[21] Penulis dan pelancong Beatrice Grimshaw mendeskripsikan pengalamannya mengendarai sepeda tanpa pendamping pada masa muda di era Viktoria. Grimshaw mencatat bahwa pengalaman tersebut memberinya kesempatan menjelajah ruang di luar batas sosial yang lazim bagi perempuan pada masa itu.[22]
Pengalaman perempuan pada masa itu menunjukkan bahwa sepeda memungkinkan mereka untuk memperluas jangkauan aktivitas dari ruang privat ke ruang publik, mengurangi pembatasan yang terkait dengan norma domestik, dan membuka peluang untuk keterlibatan yang lebih luas dalam kehidupan sosial.[1][23]
Status hukum saat ini
Di Arab Saudi, perempuan tidak diperbolehkan menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi dan hanya dapat bersepeda untuk tujuan rekreasi dengan pembatasan tertentu.[24]
Di Iran, sejak tahun 2016 terdapat fatwa yang melarang perempuan bersepeda di ruang publik. Kebijakan tersebut memunculkan respons dan penolakan dari sebagian masyarakat. Pendukung hak perempuan untuk bersepeda juga telah menghadapi tindakan vigilantisme.[25][26]