Benny Laos (8 Agustus 1972–12 Oktober 2024) adalah seorang pengusaha dan politikus Indonesia yang menjabat sebagai Bupati Pulau Morotai periode 2017–2022.[1] Ia diangkat menjadi Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan pada 2023 hingga wafat pada 12 Oktober 2024.[2][3]
Benny Laos dilahirkan dengan nama Denny, tetapi terjadi kesalahan dalam pengetikan akta kelahirannya sehingga nama resminya adalah Benny, meskipun dalam keseharian ia tetap dipanggil Denny. Benny Laos berasal dari keluarga miskin Tionghoa-Indonesia.[6] Ia merupakan anak keenam dari delapan bersaudara dari Harjo Halim dari Moti, Ternate dan Laos Soan Lian dari Pulau Morotai. Ayah Laos Soan Lian berasal dari Taiwan dan datang berdagang ke Morotai pada 1938, kemudian membawa istrinya ke Morotai pada 1948 dan menjadi warga negara Indonesia. Ibu Lian dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Nona Tauge karena dikenal membudidayakan tauge di Morotai atas permintaan tentara Indonesia pada 1948 saat masa pengambilalihan pangkalan Sekutu oleh Indonesia.[7]
Pada usia tiga tahun, Benny diadopsi oleh adik ibunya yang bernama Anton Laos. Ia mengenyam pendidikan di SD Raja Kristus Ternate dan SMP Raja Kristus Ternate (1989). Ia sempat dikirim ayahnya bersekolah di SMA Katolik Cor Jesu Malang satu semester sebelum akhirnya putus sekolah karena kesulitan ekonomi sehingga ia pulang ke kampung halamannya dan bekerja.[7]
Benny awalnya membantu usaha kakaknya yang bernama Hendri yang memiliki toko elektronik dan penyewaan kaset di Ternate selama setahun sebelum tutup karena musibah. Kemudian ia bekerja membantu tantenya berdagang kopra di Pulau Bacan selama lima bulan. Selanjutnya ia bekerja sebagai penjaga toko kelontong di Halmahera Timur selama lima bulan.[7]
Kakak Benny memintanya pulang ke Ternate dan menjaga toko kayu besi yang akhirnya gagal. Kemudian, Hendri memberi modal Rp5 juta kepada Benny. Pada 1992 mereka mendapatkan kontrak pengelolaan hutan tanaman industri dari PT Barito Pacific Timber yang nilai proyeknya mencapai puluhan juta rupiah. Setelah dua tahun berjalan bisnis mereka berhenti karena kesalahan operasional. Pada 1995, Benny mencoba bekerja di Kota Ambon dan tertarik menjadi kontraktor. Dengan modal Rp5 juta dari kalung ibunya yang digadaikan ia memulai usaha menjadi kontraktor. Usahanya sukses hingga terjadi kerusuhan Ambon 1999. Pada 2001, ia pindah ke Kota Manado dan mendirikan perusahaan pelayaran dan properti di bawah Bela Group.[7]
Kehidupan pribadi
Benny Laos menikah dengan Sherly Tjoanda pada tahun 2005 di Manado. Pasangan ini dikaruniai 3 anak: Bennett Edbert Laos (lahir tahun 2006), Benneisha Edelyn Laos (lahir tahun 2007), dan Benedictus Edrick Laos (lahir tahun 2009).