Bendera triwarna; warna biru (atas), warna merah (bawah), dan warna putih berbentu segitiga yang didalamnya terdapat tiga bintang emas bersegi lima dan satu matahari emas dengan delapan sinar.
Bendera triwarna; warna merah (atas), warna biru (bawah), dan warna putih berbentu segitiga yang didalamnya terdapat tiga bintang emas bersegi lima dan satu matahari emas dengan delapan sinar.
Bendera Filipina memiliki keunikan, yaitu perbedaan penggunaan pada masa damai dan perang. Saat masa damai, bendera ini menggunakan warna biru pada bagian atas dan warna merah pada bagian bawah. Sebaliknya pada masa perang, bendera ini menggunakan warna merah pada bagian atas dan warna biru pada bagian bawah.
Proposal
Sinar kesembilan
Proposal untuk menambahkan sinar kesembilan pada matahari pada bendera Filipina sudah ada sejak tahun 1969, ketika gerakan reformasi sejarah Sinar Kesembilan dimulai di Universitas Filipinadi Diliman, Kota Quezon.[1] Simbolisme sinar kesembilan berbeda-beda menurut pendukungnya.
Provinsi kesembilan
Sebelum perayaan seratus tahun kemerdekaan tahun 1998, pemerintah provinsi Zambales melobi agar desain sunburst mengakomodasi sinar kesembilan, dengan alasan bahwa provinsi mereka juga berada dalam keadaan pemberontakan pada tahun 1896. Namun Komisi Centennial membantah perubahan ini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institut Sejarah Nasional.[2] Pada 2003, Menteri Luar Negeri FilipinaBlas Ople juga melobi untuk menambah sinar kesembilan, menyatakan agar Quezon harus diwakili karena ia beralasan bahwa perlawanan pertama melawan Spanyol dilakukan pada tahun 1841 di kaki Gunung Banahaw yang dipimpin oleh Hermano Pule.[3]
Perwakilan etnis
Pada Desember 1987, anggota parlemen Alawadin Bandon Jr. dari Tawi-Tawi memberi usulan untuk menambah sinar kesembilan sebagai bentuk representasi Muslim di Filipina dalam perjuangan Perang Kemerdekaan Filipina. Ia berargumen bahwa, "Sebagai seorang Muslimin, saya merasa diserang perasaan terasing karena dikucilkan dari narasi simbolik sejarah besar negara."[4] Senator Aquilino Pimentel Jr. ikut memberikan pandangan yang sama dan mengajukan RUU untuk meminta agar adanya penambahan sinar matahari di bendera Filipina sebagai bentuk perwakilan kepada Muslim Filipina pada Maret 1988.[5]
Emmanuel L. Osorio yang juga ikut memberi proposal untuk menambah Sinar Kesembilan juga memberi proposal untuk menambahkan sebuah bintang di bendera Filipina untuk melambangkan Sabah yang secara sejarah dimiliki oleh Kesultanan Sulu tetapi kini diperintah oleh Malaysia. Segitiga putih di bendera tersebut berubah menjadi persegi panjang untuk mengakomodir perubahan tersebut. Menurut Osorio, bintang yang mewakili Sabah dalam bendera yang diusulkannya ditambahkan "pada prinsipnya" dan mengatakan bahwa usulan bendera tersebut berupaya untuk mengungkapkan pandangan gerakan Sinar Kesembilan bahwa "jika kita mendapatkan Sabah, maka itu dapat diwakili oleh bintang".[6]