Spesies ini dan beberapa spesies burung hantu Dunia Lama lainnya ditempatkan dalam genus Taenioglaux oleh beberapa penulis terkini. Kemungkinan berkerabat paling dekat dengan G. cuculoides, yang sebelumnya dianggap sebagai ras terisolasi. Spesies ini bersifat monotipe, tidak ada subspesies yang dikenali.[3]
Deskripsi
Burung ini berukuran 23–25 sentimeter, tidak ada data mengenai massa tubuhnya. Ia merupakan beluk-watu yang sedikit agak besar, tanpa "mata palsu" di tengkuk, cakram wajah tidak jelas bergaris merah kecokelatan dan kuning jingga; alis putih; kepala cokelat dengan garis tipis oranye-kuning pucat; bagian atas foto seragam merah kecokelatan, skapulir bertepi garis putih putus-putus; sayap dan ekor bergaris kuning jingga dan cokelat; dada bagian atas bergaris merah kecokelatan; bagian tengah dada, perut, dan panggul foto keputihan dengan garis-garis merah kecokelatan cerah; iris kuning; cere hijau zaitun; paruh kuning kehijauan pucat, paling terang di ujungnya; kaki kekuningan hingga kuning kehijauan. Tidak ada beluk-watu lain dalam jangkauan wilayahnya.[3]
Sebaran dan habitat
Beluk-watu jawa terdistribusi di Jawa dan Bali. Ia mendiami hutan primer dan hutan sekunder yang lebat, dari dataran rendah sampai sekitar 900 m, di beberapa daerah, misalnya di Gunung Papandayan hingga 2000 meter. Juga hutan pantai, tegakan bambu yang rapat dan kadang-kadang kebun dan desa.[3]
Makanan utamanya adalah invertebrata seperti kumbang, belalang sembah, jangkrik, belalang, kecoa, laba-laba, kalajengking, dan kelabang. Lebih jarang memakan tikus, burung kecil, ular, dan kadal. Ia aktif di malam hari, tetapi terkadang aktif di siang hari. Ia berburu dari tempat bertengger dan menerkam mangsanya.[3]
Perkembangbiakan
Informasi yang tersedia terbatas. Perkembangbiakan terjadi setidaknya dari Februari–April; dua telur yang "dierami sebentar" dikumpulkan di Jawa Barat pada 4 Maret 1927. Sarang berada di rongga alami dan rongga yang dibuat oleh burung pelatuk dan burung takur; jumlah telur 2; ukuran rata-rata 8 telur adalah 33,5 mm × 29,5 mm.[3]
Status konservasi dan ancaman
Oleh IUCN, beluk-watu jawa dinyatakan sebagai spesies risiko rendah. Ancaman yang dihadapi burung ini adalah perusakan habitat akibat deforestasi dan perburuan ilegal.[4]