Believe: The Ultimate Battle adalah film dramalagasejarah Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana, berdasarkan skenario yang ditulis Rahabi dan Jocelyn Cordelia. Film ini dibintangi oleh Ajil Ditto, Adinda Thomas, Wafda Saifan, Maudy Koesnaedi, dan Marthino Lio, dengan alur cerita mengenai kisah hidup Agus Subiyanto yang terinspirasi dari buku biografi berjudul Believe: Based on True Story About Faith, Dream, and Courage karya Agus.[1][2]Believe: The Ultimate Battle ditayangkan di bioskop Indonesia pada 24 Juli 2025 dan mulai ditayangkan di Netflix pada 4 Desember 2025.[3][4][5]
Plot
Pada saat Operasi Seroja tahun 1975, Sersan Dedi Unadi, ayah dari Agus Subiyanto, menyelamatkan seorang anak kecil bernama Felipe. Dedi terluka parah tetapi berhasil selamat. Istri dari Dedi (Mamah) yang sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan sebagai istri tentara akhirnya meninggalkan suami dan anak-anaknya. Dididik dengan gaya militer, Agus kecil yang sering dirundung teman-temannya menjadi anak yang nakal dan sering memecahkan masalah dengan cara kekerasan.
Agus tumbuh menjadi anak yang nakal hingga tahun 1984, di mana ayahnya meninggal akibat kecelakaan motor. Setelah mendengar ucapan salah satu tentara pada saat acara penguburan ayahnya, Agus bertekad untuk mengikuti jejak ayahnya dengan menjadi tentara. Agus mencoba mendaftar di Sekolah Bintara tapi tidak diterima.
Agus pada akhirnya berhasil menjadi tentara dan bergabung di Akademi Militer Magelang. Pada saat Prabowo Subianto melakukan perekrutan untuk pelatihan komando, Agus menjadi bersemangat dan sangat ingin terpilih sebagai pasukan khusus, tetapi ia malah ditempatkan untuk melatih pasukan pengibar bendera. Di pasukan pengibar bendera, Agus berkenalan dengan Evi Sophia Indra, dan jatuh cinta padanya. Seiring waktu, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Setelah itu, Agus diangkat menjadi komandan dari platoon Battalion 323 yang dipersiapkan untuk menjalankan misi rahasia di daerah timur.
Pada tahun 1995, Agus memulai tugas pertamanya di Loro sae, Timor Timur, dengan menaiki KRI Teluk Amboina (503) dan mendarat di Pelabuhan Dili. Misi pasukannya saat itu adalah membunuh Abel Freitas, seorang tokoh Front Revolusi Independen Timor Leste. Setelah berhari-hari berperang di pedalaman Timor Timur, Agus berhasil membunuh Abel. Di sana, Agus bertemu dengan Felipe, orang yang pernah diselamatkan ayahnya 20 tahun yang lalu.
Pada tahun 1996, Agus melamar Evi untuk menikahinya. Evi yang masih belum sepenuhnya yakin meminta waktu untuk menjawabnya. Pada saat upacara penutupan pendidikan prajurit komando angkatan-73 TA 1997, Evi menerima lamaran Agus dan mereka kemudian menikah. Pada saat Evi hamil, Agus ditugaskan kembali ke Timor Timur dalam misi berbahaya untuk menyelamatkan pengungsi sebanyak mungkin.
Di Timor Timur, pasukan Agus menjadi pasukan terakhir yang mengawal proses perpindahan para pengungsi. Agus menemukan mayat Felipe yang telah dibunuh oleh Miro, pemimpin dari Front Revolusi Independen Timor Leste. Pasukan Agus kemudian berperang sengit melawan pasukan Miro. Agus pada akhirnya berhasil membunuh Miro dan mengawal para pengungsi dengan selamat.
Sekembalinya di Cimahi, Agus ditemani oleh Evi mengunjungi makam Dedi di Taman Makam Pahlawan dan mengenang memori-memori mereka di masa lalu.
Yoriko Angeline sebagai Mamah, mantan istri Dedi dan ibu Agus yang meninggalkan Dedi dan Agus karena tidak sanggup menjalani kehidupan sebagai istri tentara
Aqueene Djorghi sebagai Fianita
Iqbal Sulaiman sebagai Abraham Miro "Abel" , anak Miro yang mengikuti jejak ayahnya bergerilya, tetapi dia tewas di tangan Agus pada 1995
Eduwart Manalu sebagai Letnan Lukman, kepala kompi yang menjaga Dedi ketika Operasi Seroja
Haydar Salihz sebagai Felipe, pemuda yang bekerja untuk kompi Letnan/Kapt Agus dan pernah ditolong oleh Dedi saat kecil. Dia tewas ditangan Miro selepas terjadi serangan
Film ini merupakan debut untuk rumah produksi Bahagia Tanpa Drama, yang terinspirasi dari buku Believe karya Agus Subiyanto yang mengisahkan perjalanan hidupnya saat menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) Republik Indonesia.[6] Meskipun film ini terinspirasi dari peristiwa nyata, para pembuatnya mengambil beberapa kebebasan kreatif untuk mendramatisasi narasi sambil tetap menjaga esensi dari kisah nyata Agus.[7] Proses produksi film ini didukung oleh Tentara Nasional Indonesia untuk menghasilkan gerakan perkelahian dan taktik perang yang realistis.[6] Pengambilan gambar dilakukan di beberapa lokasi di Jawa Barat, Banten dan Timor Leste.[8]