Begawi Cakak Pepadun adalah upacara adat tertinggi dalam masyarakat Lampung Pepadun yang berada di provinsi Lampung, Indonesia. Upacara ini bertujuan melantik seseorang menjadi pemimpin adat (punyimbang) atau memberikan gelar adat yang lebih tinggi, seperti suttan, pengiran, rajo, atau ratu. Selain sebagai momentum pengangkatan gelar pemimpin adat, Begawi Cakak Pepadun juga kerap dirangkaikan dengan upacara pernikahan, khususnya bagi pasangan yang berasal dari keturunan penyimbang, untuk meresmikan status sosial dan gelar adat yang baru . Upacara ini merupakan bagian penting dalam struktur sosial masyarakat Lampung. Upacara ini melibatkan partisipasi keluarga besar, kerabat, serta masyarakat adat secara luas sehingga mencerminkan nilai-nilai kebudayaan, kebersamaan, dan egaliter dalam budaya Lampung. Oleh karena itu, Begawi Cakak Pepadun bukan hanya sekadar pesta adat, melainkan sebuah prosesi sakral yang penuh makna simbolik.
Makna dan Tujuan
Begawi Cakak Pepadun mengandung sejumlah makna dan tujuan utama. Pertama, kenaikan status sosial, di mana seseorang akan memperoleh kedudukan lebih tinggi di mata masyarakat melalui legitimasi adat. Kedua, pengangkatan pemimpin, yaitu penobatan resmi seorang penyimbang yang akan memimpin dan menjaga keseimbangan kehidupan sosial, budaya, dan hukum adat. Ketiga, pemberian gelar kehormatan, seperti gelar suttan, pengiran, rajo, atau ratu yang menjadi simbol kehormatan dan martabat keluarga.
Selain itu, Begawi Cakak Pepadun juga berfungsi sebagai penyatuan keluarga, terutama bila dirangkaikan dengan upacara pernikahan adat. Dalam konteks ini, sepasang pengantin tidak hanya diresmikan secara perkawinan, tetapi juga memperoleh gelar dan pengakuan adat. Upacara ini juga memiliki dimensi pelestarian budaya, karena menjadi media komunikasi nilai-nilai sosial, spiritual, dan identitas kolektif masyarakat Lampung Pepadun.
Prosesi Pelaksanaan
Prosesi Begawi Cakak Pepadun dilaksanakan melalui tahapan panjang yang penuh dengan simbolisme. Tahap awal adalah persiapan, musyawarah keluarga besar (peppung benyanak-nyanak) dan musyawarah marga (pepung marga) dilakukan untuk menetapkan waktu, tempat, kesiapan perlengkapan adat, dan tanggung jawab masing-masing pihak. Selanjutnya, terdapat ngakuk muli, yaitu prosesi lamaran sebagai simbol keseriusan pihak pria dalam pernikahan adat.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan ngedio, yaitu ritual yang dilaksanakan pada malam hari, serta malam cangget, yang menampilkan tarian tradisional sebagai bentuk hiburan dan ekspresi budaya. Tahap berikutnya adalah turun mandei, simbol dimulainya kehidupan baru bagi pasangan atau individu yang akan menerima gelar adat. Puncak acara adalah cakak pepadun, yaitu prosesi pelantikan resmi yang menandai seseorang telah sah menjadi penyimbang atau pemegang gelar adat tertentu.
Perlengkapan Upacara
Upacara Begawi Cakak Pepadun menggunakan berbagai perlengkapan tradisional khas Lampung. Salah satu yang terpenting adalah pepadun, yaitu singgasana atau pelaminan adat yang menjadi simbol kedudukan penyimbang. Selain itu, digunakan pula kain tapis (kain tenun tradisional), siger (mahkota adat), payung agung (payung besar, simbol perlindungan dan keagungan), serta piring adat berisi sajian makanan khas.
Tidak kalah penting adalah alat musik tradisional seperti gamelan dan talo balak yang mengiringi jalannya upacara, serta sirih pinang yang menjadi bagian dari simbol keramahan dan penghormatan. Perlengkapan-perlengkapan tersebut memperkuat suasana sakral sekaligus menampilkan kekayaan budaya material masyarakat Lampung.[1]
Signifikansi Budaya
Begawi Cakak Pepadun tidak hanya berfungsi sebagai upacara adat internal masyarakat Lampung, tetapi juga memiliki arti penting sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Melalui prosesi ini, nilai-nilai luhur Piil Pesenggiri yang mencakup juluk-adek (gelar), nemui-nyimah (keramahtamahan), nengah-nyappur (pergaulan), dan sakai-sambaian (gotong royong) yang dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui pelaksanaan Begawi Cakak Pepadun nilai-nilai tersebut terus ditanamkan pada generasi muda sehingga identitas adat, legitimasi adat, serta keluhuran budaya Lampung yang tetap lestari hingga kini.
Referensi
↑"Rumah Tradisional Lamban Pesagi Lampung Barat". Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. 18 (1): 71–84. 2017.