Pada 22 Januari 2019, banjir yang disebabkan oleh hujan deras melanda Provinsi Sulawesi Selatan. Setidaknya 79 orang tewas dan ribuan lainnya harus mengungsi.[1]Kabupaten Gowa mengalami kerusakan yang paling parah. Sebagian besar korban tewas berasal dari wilayah ini. Banjir terparah disebabkan oleh meluapnya Sungai Jeneberang dan dibukanya pintu air Bendungan Bili-Bili di Gowa, meskipun banjir juga terjadi di wilayah lain di provinsi ini.[2][3]Kabupaten Gowa menjadi daerah yang paling terdampak, dengan jumlah korban meninggal terbanyak, dengan sedikitnya 45 orang tewas.
Banjir
Curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Jeneberang meluap sehingga menyebabkan Bendungan Bilibili, Kabupaten Gowa meluap dan memaksa pintu air dibuka.[4] Ketinggian air di beberapa bagian Makassar mencapai ketinggian atap lebih dari 1,5 meter (4,9 kaki).[5]
Sungai lain di wilayah tersebut, seperti Sungai Walanae juga meluap sehingga menyebabkan kerusakan lebih lanjut di lokasi lain. Hingga tanggal 25 Januari, banjir belum sepenuhnya surut, dan beberapa warga Makassar masih mengungsi.[6]
Korban
Hingga 25 Januari 2019, tercatat 68 orang tewas dan 6 orang hilang. Korban jiwa terbanyak tercatat di Kabupaten Gowa yang mencapai 45 orang. Sebagian besar korban akibat akibat tersengat listrik, dan sebagian lagi akibat tanah longsor.[7]
Dampak
Banjir tersebut berdampak langsung pada 10 kabupaten atau kota, dengan 3.321 orang dievakuasi dari 78 desa menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 5.825 orang tercatat "terdampak" oleh banjir, dan 32 rumah dipastikan tersapu, dengan 25 rumah lainnya rusak berat, 14 rusak, dan 5 tertimbun tanah longsor. 2.694 rumah, 11.433 hektar (28.250 hektar) lahan pertanian terendam, di samping kerusakan pada berbagai fasilitas umum. Kepolisian Indonesia melaporkan 7.364 orang di lokasi pengungsian di Makassar, Gowa, dan Jeneponto. Seorang pejabat mencatat bahwa banjir tersebut adalah "yang terburuk dalam satu dekade". Jalan Raya Trans-Sulawesi terdampak, terputus selama 20 jam. Banjir merusak pompa di Maros, mengganggu distribusi air tawar. Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah memperkirakan kerugian keuangan di Kabupaten Jeneponto saja mencapai lebih dari Rp 100 miliar.