Kondisi wilayah ini dinilai sangat ideal untuk ditanami pohon kopi. Oleh karena itu, mayoritas lahan di wilayah Banding Agung dimanfaatkan sebagai perkebunan kopi. Saat ini, lahan tersebut dikelola oleh setidaknya 36 Kepala Keluarga, sehingga mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai petani kopi. Jenis kopi unggulan yang dihasilkan dari daerah ini adalah kopi Robusta. [2]
Tradisi Lisan
Masyarakat Banding Agung memiliki tradisi lisan yang dikenal dengan sebutan Muayak. Tradisi ini biasanya dipentaskan dalam acara Nayuh (hajatan), khususnya pada upacara khitanan, dan dibawakan oleh bebay baya (para ibu/wanita dewasa). Secara bentuk, Muayak menyerupai puisi atau nyanyian. Lirik-liriknya mengandung nilai moral mendalam yang berfungsi sebagai tuntunan bagi masyarakat agar menjadi manusia yang lebih beradab dan berbudaya. [3]
Lirik Muayak dan Maknanya:
"Assalammualaikum pembukaani cawa" (Assalamualaikum sebagai pembuka bicara)
"Sekam maklamon ngusung, selain anjak dua" (Kami tidak membawa banyak hal, selain daripada doa)
"Acara repa sinji, Sunatan ram bedua" (Bagaimana pun acara ini, dalam momen sunatan ini kita berdoa)
"Payu neram budua, minak muari sunyini" (Mari kita berdoa, wahai saudara dan kerabat semuanya)
"Barong neram budua, sihat munyai adek ji" (Bersama-sama kita berdoa, agar adik ini sehat walafiat)
"Ija ram namon cabi, Dang lupa kawai halom" (Di sini kita menanam cabai, jangan lupa memakai baju hitam)
"Dipekon nanom tebu, nanom dihimalaya" (Di desa menanam tebu, menanam di tanah yang subur)
"Nyak haga sai ketiku, sunyini sai wat dija" (Aku ingin meminta waktu sejenak kepada semua yang hadir di sini)
"Sekam jak pihak kelama, pengisini hanari" (Kami dari pihak keluarga/kerabat, hadir untuk mengisi acara dengan menari)
"Tanno ngumpul didija, lain pungawoh hanjak" (Sekarang kita berkumpul di sini, bukan sekadar untuk bersenang-senang)
"Kintu wat cawa-cawa, maaf jama sunyini" (Jika ada kata-kata yang salah, kami memohon maaf kepada semuanya)
"Sekam ngisi acara, pakotni guwai pagi" (Kami mengisi acara ini hingga selesai/sampai pagi hari)
Muayak dianggap sebagai cerminan etika masyarakat setempat. Selain sebagai sarana hiburan, Muayak mengajarkan tentang pentingnya kerja keras dan rasa syukur atas kesuburan tanah di wilayah tersebut. [3]