Bajo adalah salah satu bagian penting dari sejarah perkembangan Kabupaten Luwu dari masa ke masa, berawal dari sejarah turunnya Batara Guru di tanah Luwu, Bajo dan Suli adalah merupakan ikon yang tak terpisahkan dari bagian tanah To manurung yaitu Towuti, Cerekang, Walenrang, wilayah pegunungan Rantemario, Bastem dan Mahalona.[butuh rujukan]
Masyarakat daerah ini menjunjung tinggi adat yang merupakan sumber "Abbatireng Wija To Luwu" yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan.Bajo merupakan daerah asal masyarakat di daerah Wanua Manurung, Luwu Timur, Maiwa, Enrekang, Belawa di Kabupaten Wajo, Bulu Cenrana dan Wanio di Kabupaten Sidrap serta Padali di Kabupaten Soppeng, bahkan kedangan mereka di daerah ini lalu kemudian mendikan istana Tenri Bali dan beberapa tempat pusat kerajaan di Sulawesi selatan.[butuh rujukan]
Pada masa transisi perlaihan pemerintahan Kerajaan ke republik, bajo merupakn salah satu daerah pusat pendidikan dan bahkan pusat pemerintahan yang kemudian menjadi satu Kecamatan setelah resmi berdirinya Kabupaten luwu.[butuh rujukan]
Geografis
Letak geografis terletak di kordinat: 2°3’45”-3°37’30” LS dan 119°15”-121°43’11” BB
Letak wilayah berda di barat Daya Belopa, ibu kota Kabupaten Luwu
Kondisi alam dan curah hujan rata - rata daerah tropis menjadikan daerah sangat subur
La Teru Opu Alla' (Opu Daeng Na Patiware, anak dari La Temmanini), Tokoh masyarakat adat abad ke 17 - 18Tokoh masyarakat adat Luwu yang meliputi daerah Bajo, Padang Sappa, Noling dan suli - Enrekang meliputi daerah Maiwa, Baraka, Cakke, Duri dan Alla'. La Teru juga memberikan nama daerah Wanio, Bulu Cenrana dan Otting di Kabupaten Sidrap
↑Dinata, A. V., Mukhtar, M. T., dan Pamuja, Y. K. (2024). Mizar (ed.). Kabupaten Luwu dalam Angka 2024. Luwu: Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu. hlm.8. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)