Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Bahasa ini telah berkembang melalui tiga tahap perkembangan yaitu, penulisan, pembakuan, dan pemodernan. Dalam bahasa tulisan, Singapura telah mulai menggunakan ejaan baku sejak tahun 1977. Di sekolah-sekolah, pelajar-pelajar Melayu telah dihadapkan pada tata bahasa baku. Pengucapan baku baru diperkenalkan melalui pelajaran di sekolah-sekolah mulai awal tahun 1993, dan sedang diperkenalkan kepada masyarakat, sedangkan pengucapan Johor-Riau digunakan dalam keadaan tidak resmi.[5] Pengucapan baku ini terdengar serupa dengan pengucapan bahasa Indonesia.
Kedudukan bahasa Melayu masih subur di Singapura. Dalam sebuah pertemuan masyarakat Melayu, pemimpin bukan Melayu akan coba berbicara dalam bahasa Melayu. Bahasa Melayu juga masih digunakan untuk pengumuman di bandar udara dan sistem pengangkutan berkecepatan tinggi MRT. Selain itu, bahasa Melayu tetap menjadi bahasa selama baris-berbaris dan selama perbarisan dalam tentara. Lagu kebangsaan dalam bahasa Melayu juga dinyanyikan di sekolah-sekolah pada setiap hari dan pada acara-acara resmi. Lagu-lagu daerah dalam bahasa Melayu seperti Di Tanjung Katong, Dayung Sampan, Singapura, dan Semoga Bahagia tetap menjadi pengisi ruang kelas untuk semua murid.[6]
Rujukan
↑Adelaar, K. Alexander (2000). "Malay: A Short History". Oriente Moderno. 19 (2): 234. JSTOR25817713.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Bahasa Melayu Singapura". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;