Artikel atau bagian ini sedang dipersiapkan dan dikembangkan sehingga mungkin terjadi perubahan besar. Anda dapat membantu dalam penyuntingan halaman ini. Jika artikel atau bagian tidak disunting dalam beberapa hari, silakan hapus templat ini. Jika Anda adalah pengguna yang menambahkan templat ini dan Anda sedang aktif menyunting, pastikan untuk mengganti templat ini dengan {{sedang ditulis}} saat hendak menyunting. Klik pranala untuk parameter templat yang akan digunakan.
Artikel ini terakhir disunting oleh JavaneseHistory(bicara | kontrib) 3 bulan lalu. (Perbaruipewaktu)
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Peta persebaran penutur bahasa Jawa Tegal. Peta yang lebih besar menggambarkan wilayah utama penutur bahasa Jawa Tegal di Jawa Tengah, sedangkan peta yang lebih kecil menggambarkan daerah kantong penutur bahasa Jawa Tegal di sebagian barat Kabupaten Indramayu.
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 658 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Halaman bahasa acak
Bahasa Jawa Tegal
(bahasa Jawa:ꦧꦱꦗꦮꦠꦼꦒꦭ꧀code: jv is deprecated , translit. Basa Jawa Tegal) adalah dialek bahasa Jawa ragam dialek kulonan, dialek Tegal termasuk dialek bahasa jawa modern yang paling konservatif (mempertahankan pengucapan ala jawa kuno dan banyak kosakata kuno),[3] kawasan dialek Tegal juga diduga sebagai kawasan proto Bahasa Jawa di era lampau, dugaan ini diperkuat dengan ditemukan leksikon relik dalam tuturan sehari-hari.[4][5]
Dialek Tegal dituturkan di wilayah pantura barat Jawa Tengah yang meliputi wilayah Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, dan bagian barat Kabupaten Pemalang. Dialek ini juga dituturkan di daerah kantong di bagian barat Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, karena terjadi perpindahan penduduk dari wilayah Tegal-Brebes ke wilayah Indramayu pada tahun 1920.
Selain itu, dialek ini juga dituturkan di daerah dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, di mana Kecamatan Losari di Kabupaten Brebes menjadi batas tradisional daerah penggunaan bahasa Jawa Tegal dengan bahasa Jawa Cirebon.
Bahasa Jawa Tegal merupakan turunan dari Bahasa Jawa Pertengahan dan memiliki banyak kesamaan sebagian kosakata dengan rumpun bahasa Jawa Bagian Barat lainnya, terutama dengan bahasa Jawa Banyumasan (ngapak) dan Bahasa Jawa Cirebon Timur karena wilayah Tegal-Brebes berada di wilayah pantura sehingga juga berbagi banyak kesamaan kosakata dengan Cirebon Timur bagian utara seperti kecamatan Losari, Gebang dan Pabuaran.
Penutur Banyumasan punya beberapa kosakata tersendiri yang berbeda dengan dialek Pantura (termasuk Tegal) misalnya seperti "kencot", "lengub", "ngode" dll yang tidak dapat ditemui di dialek jawa lainya termasuk Tegal, sehingga orang tegal tidak serta merta ingin disebut Ngapak dengan beberapa alasan, diantaranya perbedaan intonasi,dan perbedaan sebagian kosakata misalnya seperti kata "manjing", "anjog", "pragat", "belih", "ngorong" dll yang merupakan kosakata dari bahasa Jawa kuno yang dapat ditemui di dialek Tegal, tetapi tidak dapat ditemui di dialek Banyumasan.
Sebagai bentuk pelestarian bahasa Jawa dialek Tegal, saat ini Universitas Pancasakti yang terletak di Kota Tegal mulai menjadikan puisi berbahasa Jawa Tegal sebagai salah satu bahan ajar di perkuliahan.[6]
Fonologi
Selain pada intonasinya, bahasa Jawa dialek Tegal juga merupakan bahasa Jawa modern yang memiliki ciri khas tersendiri dalam pengucapan tiap frasa, yaitu apa yang diucapkan sama dengan apa yang ditulis, sama seperti pengucapan dalam Bahasa Jawa Kuno yakni fonem a dan konsonan akhir k masih di ucapakan secara jelas dan tegas, kendati demikian dialek Tegal juga masih mengenal retofleks. Sebagaimana dijelaskan oleh Enthus Susmono dalam Kongres Bahasa Tegal I, hal ini dinilai memengaruhi konsistensi perilaku masyarakat penggunanya.
Perbedaan dengan bahasa Jawa Wetanan
Bahasa Jawa Tegal yang termasuk dalam rumpun bahasa Jawa Bagian Barat (Kulonan), diketahui memiliki banyak perbedaan dengan dialek bahasa Jawa yang termasuk dalam rumpun bahasa Jawa Bagian Timur (Wetanan), perbedaan-perbedaan ini biasanya mencakup perbedaan dalam pengucapan dan beberapa kosakata kuno yang masih banyak dipertahankan dalam rumpun bahasa Jawa Bagian Barat (termasuk dialek Tegal). Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada contoh berikut ini.
padha, dalam bahasa Jawa Tegal tetap diucapkan pada, seperti halnya pengucapan dalam bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa Wetanan (dituturkan dari Pekalongan di barat sampai ke timur hingga Banyuwangi) yang mengucapkannya menjadi pådhå.
teka, dalam bahasa Jawa Tegal tetap diucapkan teka, berbeda dengan bahasa Jawa Wetanan yang mengucapkannya menjadi tekå.
Karena perbedaan pelafalan vokal /a/ dan /o/ tersebut, dialek utama dalam bahasa Jawa terbagi menjadi dua, yakni dialek Barat (Kulonan) yang melafalkan /a/ dan dialek Timur (Wetanan) yang melafalkan /o/. Berikut perbandingannya dalam tabel di bawah ini.
Jawa Kulonan (termasuk dialek Tegal)
Jawa Wetanan
padha
pådhå
pira
pirå
sega
sĕgå
apa
åpå
tuwa
tuwå
Dalam hal ini, Enthus menilai masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa Wetanan kurang konsisten dalam mengucapkan beberapa kata, misalnya kata gatutkaca yang ditambahkan akhiran -ne. Oleh penutur bahasa Jawa Wetanan kata tersebut tidak lagi diucapkan gatutkacane, melainkan gatutkåcåne. Berikut ini perbandingannya pada tabel di bawah.
Kata dasar
Jawa Kulonan (termasuk dialek Tegal)
Jawa Wetanan
segane + -ne
segane
sĕgåné, bukan segone
gatutkaca + -ne
gatutkacane
gatutkåcåné, bukan gatutkocone
rupa + -ne
rupane
rupåné, bukan rupone
Perbandingan kosakata dengan Bahasa Jawa Standar (Solo-Yogya)
Perbandingan kosakata bahasa Jawa Tegal dengan bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta). Diantaranya masih banyak kosakata dari Bahasa Jawa Kuno yang masih dilestarikan dalam dialek Tegal tapi sudah tidak ditemukan di Bahasa Jawa Solo. contoh kosakata dari bahasa jawa kuno dalam dialek tegal: parêk, maring, anjog, gigal, inyong (ingwang), langka, manjing, gili, cacak, belih, toli, ngorong, kiyêng, pragat, angot, ngadhang dll. terdapat juga beberapa serapan dari bahasa arab seperti "walad", selain itu terdapat kosakata khas tegal.
Jawa Tegal
Jawa standar (Solo–Yogya)
Glosa
ênyong, nyong
aku, awakku, kulå
saya
koên, sampeyan, rika
sampéyan
anda
pêrêk / parêk
cêdhak, cêrak
dekat
marêk
(Contoh: marek mene o pan tak tokokna sega)
nyêdhak
mendekat
kosi, nganti
(Contoh: awan kosi bengi belih tau turu)
nganti, ngasi
sampai
kêsuwun, suwun
matur suwun, matur nuwun
terimakasih
manjing (umum), mlêbu
mlêbu
masuk
kanjingan, kêlêbon
kêlêbon
kemasukan
anjingna
lêboknå
masukkan
pan
arêp
akan, hendak
pan mêndhi
arêp ngendi
mau kemana
pan bêlih
bodo amat
blaratan
semrawut
berantakan
bonggan
salahe dewe
salah sendiri
cacak (umum), jajal
(Contoh: cacak dhisit o seragame)
jajal
coba
maning
méneh
lagi
pragat, rampung
(Contoh: nyong wis pragat mangan)
rampung
selesai
dhéwék
déwé
sendiri
sing
(Contoh: nyong sing tegal)
såkå
dari
nginung, nginum
ngombe
minum
ngorong
ngêlak
haus
aran
(Contoh: arane sapa nok?)
jênêng(lebih umum), aran
nama
maring
mênyang
ke (suatu tempat)
be, baé
waé
saja
olih
oléh
dapat
ora / bêlih
(Contoh: nyong belih ngarti sapa wonge)
ora
tidak
blih pêtha, ora pêtha
(Contoh: dadi bocah kayong belih pêtha nemen)
ora cêthå
tidak jelas
êmoh / mong / êmong,
blih gêlêm / ora gelem
ora gêlêm, êmoh
tidak mau
laka
ora ånå, ora enek
tak ada
gorohi
ngapusi
berbohong
ngesuk, bêsiki (besuk iki), sekiki
sesuk
besok
bokat/bokan
menåwå
barangkali
nok/sinok (perempuan), tong (laki-laki)
genduk (perempuan), tole/nang (laki-laki)
panggilan anak perempuan dan laki-laki
goleti, luruh
goleki
mencari
lorokna, lorokêna
(Contoh: tulung gen lorokêna bukuné enyong)
golekana
carikan
adhong, dhong, lamun, anggêr, yen
yen, lamun
kalau
dhêlêng, pandêng
(Contoh: aja mandêng-mandêng o bokat naksir)
dhêlok, dhêlêng, sawang
lihat
tolih
(Contoh: tolih kepriben yuk sampean bisane kaya kuwe)
bar ngono
lalu
jukut
jupuk, jukuk
ambil
gigal
tibå
jatuh
mêlas
mêsakke (mêlasaké)
kasihan
sêru
bantêr
kencang (untuk suara)
sêdelat
sêdelå
sebentar
endah, eben
amrih, gen, ben
agar
ndean
paling, palingå
mungkin
kiyé, ikih, keh
iki, ki
ini
kuwé, iku
kuwi, iku
itu
méné
mréné
sini
mana, mono
mrånå, mrono
sana
kêprimén, pimen, kêpriben
kêpiyé, piyé
bagaimana
dhisit, dingin, dhipit
dhisik, dhimin
dulu
anjog
tekan
sampai
jorna
jarke, loske
biarlah
dudu, séjén
dudu, bedå, seje
bukan, beda
kédêr
(Contoh: nyong kedêr o pan milih sing endi)
bingung, liwung
Bingung
klalèn
lali
lupa
lali
anglêr
tidur pulas
kaligané, ujug-ujug
têkå-têkå, ujug-ujug
tiba-tiba
liren
leren
istirahat
mesih, esih
isih
masih
watir, wêdi
(Contoh: aja watir wis ana ênyong ning kene)
wedi, kuwatir
takut
ngêlih
luwé / ngêlìh
lapar
andhon
nunut, numpang
menumpang
dhupak
têndhang
tendang
kayong / katone
ketoke / katone
kelihatanya, agaknya
bisa
biså, iså
dapat / bisa
dhugal
(Contoh: aja gawe dhugal bae)
nesu
marah
diganyami
(Contoh: nyong mau diganyami karo bapane)
disêneni
dimarahi
wanyad, ala
(Contoh: dih cangkeme ala nemen sih)
elek, ålå
jelek, buruk
walad, anak, bocah
anak, bocah, lare
anak
warang
galak
galak(wanita)
dhonge, dhonhen
kudune
seharusnya
ayub-ayubên
Arip
ngantuk
wulêd
alod
tidak mudah putus
atik, nganggo
nganggo
menggunakan
gêmuyu
guyu
tertawa
kaplak, tuwa
tuwa
tua
adêr, lokên
måså
masa iya?
sung, busung, têmênan
tênane?
benarkah?
umah
omah
rumah
dhamar, cêplik
dhiyan, dhilah, dhemar
lampu minyak
batir, kanca
kåncå, batùr
teman
sêthitik
sithik
sedikit
bodin
telå
singkong
daning
la kok
kok
ênteng
êntek
habis
gili
dalan
jalan raya
ngasab, megawe, mekaya
(Contoh: bapane pan ngasab o pan luru duit sing akeh)
nyambut gawe
kerja
sêngit
gething
benci
jagong
lungguh
duduk
miki, mau
mau
tadi
mérad, lunga
lungå
pergi
putêk
-
pikiran kacau
mèngkrèng
lombok
cabai keriting
gênau
sinau
belajar
kiyêng
(Contoh: gênau sing kiyêng ya endah dadi wong sukses)
srêgêp
rajin
nginggêng
(Contoh: ditutup o lawange bokat ana sing nginggêng sing kadohan)
ngintip, ngincêng
mengintip
gancang
(Contoh: daning mlakune gancang nemen kaya sepur)
ge'ndang, gancang (arkhais)
lekas, cepat
gagiyan
(Contoh: gagiyan tangi jagate wis awan)
ndang, gage
cepat-cepat
ngaplang-ngaplang
mlumah
telentang
kêmurêb
murêb
tengkurap
alub
-
merebus setengah matang
angot
kumat
kambuh
aor
sepet
rasa kelat / sepat
awag / ngawag
ngawùr
mengawur
ayid
yiyid, ilêrên
berlendir
bapa tua
embah lanang
kakek
bara
pindah, ngumbara
merantau
bereng
irunge perih
sakit / pedih di hidung
blêdhug, jêblug
jêblug
meletus
bluwêk
mbulak
warna pudar
bocok
lêmah garing
tanah tandus
bongko
makanan yang dibungkus dari daun pisang yang bahan baku utamanya tepung terigu, roti tawar, santan, gula dan garam
bukêt, glabêd
kênthêl
pekat / kental
cithang-cithing
-
memegang sesuatu dengan dua jari
cruwêk
kêmproh
jorok
dhokon, dalah
seleh, dhekek
menaruh
dhopok
gedhobos
omong kosong
êncot
idak
injak
gigu
gilå
jijik
gogoni
gugu, gagas
memikirkan, memperhatikan
gampung
ngasag
memungut sisa-sisa panen
arikling
amit-amit
amit-amit
ingêr, mlegok
menggok
belok
jaburan, pacetan
suguhan
jajanan
kapiran
ora kerumat
tidak terurus
kejedhag
geblak
jatuh kebelakang
kêmlêthak
kêmaki, kêmlinthi
sombong
kêpokoh
kêpêkså
terpaksa
kêprucut
kadhung, kêbacut
terlanjur
kêrêm, kêlêlêp
kêlêlêp
tenggelam
kêrigan
gugùr gunùng
kerja bakti
kojot-kojot
kejet-kejet
kejang-kejang
lewa
-
tingkah laku tidak sewajarnya
logro
lodho
longgar
lugêd
mêdhok
masakan yang bumbunya sangat terasa
manene
mak'e
ibunya
mboran
endi wae
yang mana saja
mênangi
ngalami/nglakoni
mengalami
mencilak
mêndêlik
mata terbelalak
mrupus
omong tok
membual, berkata besar
moni
muni
berbunyi
mrutuk
(Contoh: mrutuk'e sêdawa dalan)
ngêdumel, dêmrumùng
menggerutu
nglémprak
duduk santai di bawah lantai / tanah
ngadhang
nyêgat, cêgat, angadhang
menghadang
onggrongan
-
sok
ongkêb
sumuk, ungkêb
gerah
raja pati
pembunuhan
rikuh
kurang bebas, enggan
rayahan
royok, rayah
rebut
sowek
suwek
sobek
tlêmbuk
sundêl, lonthé
pelacur
umêb
umub
mendidih
umah
omah
rumah
waras
mari, waras
sembuh
wirog
wirok
tikus besar
wingka
kreweng
patahan genting
ngomongkêna, ngomongna
ngomongake
membicarakan
ngrongokêna
ngrungokake
mendengarkan
Contoh percakapan
Berikut ini adalah contoh percakapan dalam bahasa Jawa Tegal berdasarkan sub-dialek dan variasi geografisnya.
A: "kabare pimen, wis ndue bojo durung?" B: "kabare nyong apik reh yak, nyong nang umah tah wis suwe. saiki biasa reh paling ye nganggur nang umah. nyong urung mbojo, lah kowen primen? wis mbojo ye? masa urung mbojo sih?"
Bahasa gaul Tegal
Sama seperti beberapa daerah lain di Jawa, Tegal yang juga merupakan daerah berkembang juga memiliki bahasa gaul yang berbasis pada bahasa Jawa Tegal. Bahasa ini pada awalnya digunakan oleh para gerilyawan pada masa penjajahan Belanda. Namun, perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa bahasa sandi ini telah berubah fungsinya menjadi bahasa gaul. Pola pembentukan bahasa gaul Tegal menggunakan distribusi fonem. Salah satu contohnya, jasak berasal dari kata bapak. Pada kata ini, huruf /b/ digeser (diganti) dengan huruf /j/, dan huruf /p/ diganti dengan huruf /s/. Sementara huruf vokal tidak berubah. Berikut ini contoh kosakata bahasa gaul Tegal dalam tabel di bawah.
Asal kata
Bahasa gaul Tegal
aku
nyong
bapak
jasak
mbok
jok
batir
jakwir
kakang
sahang
minum
nginung
adik
yarik
balik
jagin
wadon
tarok
Distribusi
Bahasa Jawa Tegal terutama dituturkan di Kabupaten Brebes (kecuali wilayah selatan), Kota Tegal (seluruh wilayah), Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang (bagian barat). Selain itu, bahasa Jawa Tegal juga dituturkan di daerah kantong di bagian barat Kabupaten Indramayu, wilayah penuturannya meliputi Kecamatan Anjatan, Bongas, Haurgeulis, Patrol, dan Sukra. Awal mula bahasa Jawa Tegal juga dituturkan di Kabupaten Indramayu berawal dari tahun 1920an. Saat itu, terdapat migrasi penduduk dari Tegal dan Brebes ke beberapa
desa maupun blok di bagian barat Kabupaten Indramayu.
Kongres Bahasa Tegal I diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Tegal pada tanggal 4 April 2006 di Hotel Bahari Inn, Kota Tegal. Acara ini digagas oleh Yono Daryono, serta juga dihadiri oleh beberapa tokoh penutur bahasa Jawa Tegal, diantaranya S.N. Ratmana (penulis cerpen), Ki Enthus Susmono (dalang), dan Eko Tunas (penyair). Tujuan diselenggarakannya kongres ini adalah untuk mengangkat status bahasa Jawa Tegal menjadi bahasa daerah.
Salah satu pelopor dan pegiat bahasa Jawa Tegal adalah Lanang Setiawan. Selain menciptakan lagu-lagu Tegalan, ia juga menerbitkan tabloid berbahasa Jawa Tegalan, Tegal Tegal, menulis novel berjudul Oreg Tegal, dan secara rutin menulis kolom anekdot berbahasa Jawa Tegal di harian pagi Nirmala Post. Karena hal tersebut, pada tanggal 19 Oktober 2008, ia menerima anugerah Penghargaan Penggiat Bahasa Jawa Tegal dari Wali Kota Tegal, Adi Winarso.
Sejak masa kepemimpinan H. Mardiyanto, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menerapkan aturan agar setiap siswa (mulai dari SD hingga SMA) mendapatkan pelajaran bahasa Jawa. Namun kebijakan ini menemui kendala, yaitu masalah perbedaan dialek.[7] Misalnya, anak yang lahir di Tegal secara otomatis akan menggunakan dialek Tegal sebagai bahasa ibunya, bukan dialek baku seperti Yogyakarta dan Surakarta. Jika pendidikan bahasa daerah di sekolah hanya mengacu pada bahasa baku, tentu saja siswa akan kesulitan beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang telah diterimanya sejak lahir. Akhirnya muncul anggapan bahwa pelajaran bahasa Jawa di sekolah merupakan 'paksaan' untuk menggunakan bahasa masyarakat Wetanan.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Tegal". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;