Kembalinya ia ke tanah air membuat ia menyadari bahwa Partai Komunis Tiongkok belum membuat perubahan berarti pada negaranya.[2] Ia kemudian sering berpegian melihat sendiri kehidupan rakyat zaman itu.[2] Pengamatannya membawa jenis karakter baru pada novelnya, yaitu rakyat jelata Cina.[2] Ba Jin kemudian menggabungkan pengalamannya di luar negeri dan hasil pengamatan rakyat itu ke dalam novel-novelnya kemudian.[2]
Ba Jin menulis novel pertamanya di Shanghai, berjudul Kehancuran (灭亡) yang diterbitkan secara berkala di jurnal cerita pendek Xiaoshuo Yuanbao pada tahun 1929.[4] Setelah Kehancuran, ia kembali menulis banyak buku dan esai berjumlah lebih dari enam juta kata.[3] Karyanya yang juga penting adalah Trilogi Cinta(爱情的三部曲).[1][4] Karyanya dibukukan menjadi 14 Volume Karya Ba Jin(dipublikasikan pada tahun 1958-1962) dan Karya Terpilih Ba Jin (termasuk Trilogi Guncangan, Trilogi Cinta, Mimpi Lautan (海的梦) dan Musim Gugur di Musim Semi (春天里的秋天).[3] Di dua dekade sampai akir 1950an, ia menulis hampir 20 novel dan 70 cerita pendek.[2]
Pada tahun 1934, karena novelnya yang dianggap mengancam pemerintahan ia terpaksa melarikan diri ke Jepang.[2] Kembali dua tahun kemudian ia menemukan bahwa dirinya adalah salah satu dari Sastrawan yang berpengaruh saat itu.[2] Karyanya populer di kalangan anak muda.[2] Novel trilogi karyanya Api (火) yang diterbitkan antara tahun 1940-1945, dimulai pada perang di Shanghai dan menyiratkan kepahlawanan kaum muda.[2] Setelah kebingungan pasca perang saudara di Tiongkok, Ba Jin meneruskan karyanya bersama Shen Congwen dan Lu Xun di jenis karya kontemporer.[2] Ketiganya adalah tokoh penting Sastra Kontemporer Cina.[2]
Tulisan Ba Jin seperti Kamar Pasien Nomor 4 (第四病室) merefleksikan buruknya kualitas rumah sakit saat itu.[2][4] Atau Malam Dingin (寒夜) tentang sepasang kekasih yang kehilangan idealisme, dengan pesan bahwa "Kemenangan adalah untuk mereka, bukan untuk kita".[2][4] Semua ini merefleksikan kebingungan serta penderitaan rakyat pasca Perang Saudara antara Partai Komunis Tiongkok dan Kuomintang.[2][4]
Biarpun begitu, sama seperti banyak penulis saat itu, ia mencoba merangkul Komunisme dan mencoba melihat sisi baiknya.[2] Ia menghapus referensinya pada Anarkisme sewaktu muda.[2] Bahkan berdalih bahwa namanya berasal dari seorang teman dan tak berarti.[2] Ia pun mengakui masa muda yang tertutup, jauh dari masa mudanya yang sebenarnya.[2]
Selain sebagai penulis, Ba Jin banyak bekerja sebagai redaksi, kepala redaksi, serta pengurus dari beberapa perkumpulan literatur dan seni di Shanghai.[2][3]