Riwayat hidup
Masa kecil
Suhu Arya berasal dari keluarga Buddhis yang aktif membantu Sangha monastik dalam penyebaran agama Buddha. Ayahnya adalah Upasaka Vimalamitra Liem Yoe Kiong[6] dan ibunya adalah Upasika Pandita Vimaladewi. Sejak kecil ia telah mengikuti sekolah minggu Tamanputra Bodhiwardhana di Wihara Vimaladharma[7] Bandung. Sebagai remaja, ia aktif berorganisasi, baik di sekolah maupun pramuka.
Perjalanan spiritual
Pada masa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha,[8] ia bertemu dengan Mahasthawira Dhyanaram Wan Sian, yang akrab disapa Suhu Wan Sian di Wihara Samudra Bhakti Bandung. Ia begitu terinspirasi oleh sikap dan keteladanan dari Suhu Wan Sian sehingga mendorong dirinya untuk mendalami agama Buddha sekaligus aktif ikut kebaktian di wihara tersebut. Semasa kecil, ia tidak suka makan sayur, tetapi sangat menyanyangi binatang, sifat inilah yang membuat dirinya bercita-cita untuk menjadi dokter hewan.[8]
Guru dan Silsilah
Pada tanggal 30 September 1983, di Wihara Vimala Dharma Bandung, ia menerima penahbisan sramanera, yang bertindak sebagai Upajjhaya (guru yang mentransmisikan sila) adalah Mahabiksu Ashin Jinarakkhita, yang bertindak sebagai Achariya (Guru pembimbing Dharma) adalah Biksu Dharmaji Uggadhammo. Nama penahbisan “Aryamaitri” terdiri dari dua kata, yang pertama adalah arya (Ārya) berarti mulia (noble),[9] kedua adalah maitri berarti cinta kasih (loving-kindness),[10] Aryamaitri berarti cinta kasih yang mulia.
Pada bulan Februari 1984, ia menerima penahbisan penuh sebagai biksu di Wihara Sakyawanaram,[7] Pacet, Cianjur, yang bertindak sebagai Upajjhaya adalah Mahabiksu Ashin Jinarakkhita. Pada tahun 1985, ia menerima Sila Bodhisattwa di Wihara Kek Lok (Hanzi tradisional: 極樂寺; Pinyin: Jílè sì), Penang, Malaysia, yang bertindak sebagai Upajjhaya adalah Mahasthawira Pai Sheng,[11] Ketua Sangha se-Dunia (World Buddhist Sangha Council)[11] pada saat itu.
Kiprah Pengabdian
Sebagai biksu muda, ia ditempatkan di Wihara Borobudur Medan.[7] Ia menghabiskan waktunya dengan aktif berkeliling dan memberikan bimbingan Dharma kepada umat wihara di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau. Ia banyak menaruh perhatian kepada generasi muda Buddhis, penerbitan buku-buku Dharma berkualitas, juga mendorong berbagai daerah untuk menyelenggarakan program pelatihan diri.
Pada Sangha Samaya VI pada akhir tahun 1987, Bhante Ashin Jinarakkhita terpilih sebagai Ketua Umum (Maha Nayaka) Sangha Agung Indonesia, kemudian Suhu Arya terpilih sebagai Sekretaris Jenderal (Maha Lekhanadikari). Ia dipercayai untuk menjabat posisi itu hampir 15 tahun berkat dorongan dan kepercayaan dari Bhante Ashin Jinarakkhita.