*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Kitab-kitab subsubkomentar (Pali: anuṭīkācode: pi is deprecated ), juga dikenal sebagai subsub-ulasan, subsub-penjelas-makna, dan subsubtafsir, merujuk pada berbagai kitab akademis yang disusun oleh para biku terpelajar untuk lebih memperjelas atau mengelaborasi ṭīkā (subkomentar) yang ada.[1][2][3][4] Kitab-kitab ini dianggap sebagai tingkat keempat dalam eksegesis (tradisi tafsir) kanonik/kitabiah Theravāda, setelah Tripitaka Pali, kitab-kitab komentar (aṭṭhakathā), dan kitab-kitab subkomentar (ṭīkā).[5] Dalam beberapa kasus, istilah abhinava-ṭīkā ("subkomentar baru") digunakan secara bergantian untuk merujuk pada karya-karya ini.[1]
Anuṭīkā dibagi menjadi tiga kategori, sesuai dengan tiga divisi Tipiṭaka:[5][6]
Kitab-kitab anuṭīkā (subsubkomentar) terkadang dikategorikan sebagai bagian dari ṭīkā (subkomentar). Dalam konteks Abhidhammapiṭaka, ṭīkā awal dari kitab yang disubkomentari disebut sebagai mūlaṭīkā (subkomentar akar), yang kemudian diulas lebih lanjut oleh anuṭīka.[7] Contohnya adalah kitab Dhammasaṅgaṇī-mūlaṭīkā yang mengomentari Dhammasaṅgaṇī-aṭṭhakathā (juga disebut Atthasālinī), yang kemudian dikomentari lebih lanjut oleh Dhammasaṅgaṇī-anuṭīkā.
Para penulis kitab-kitab ini secara khusus dikenal sebagai anuṭīk-ācariya (terj. har.'guru subsubkomentar').[2] Gelar kolektif ini menunjukkan status mereka sebagai cendekiawan Pali yang berpendidikan tinggi dan memainkan peran penting dalam menjelaskan makna kompleks dari kitab komentar dan sub-komentar sebelumnya melalui pendekatan sistematis dan linguistik.