Bahan baku dan penyajian
Bahan baku utama dari hidangan ini yaitu jeroan kerbau atau sapi. Namun bisa juga diganti dengan kepala sapi atau kambing dan ikan. Bumb yang digunakan dalam hidangan ini yaitu cabai merah, bawang merah, bawang putih, serai, salam, lengkuas, cabai kecil, kemiri, jahe, kunyit, kencur, merica dan tomat, dan daun walang yang menjadi ciri khas hidangan.[4] Angeun lada biasanya disajikan sebagai makanan pendamping nasi atau ketupat.[3] Hidangan ini merupakan menu utama masyarakat Banten pada berbagai kesempatan penting, seperti Hari Raya Lebaran (Idulfitri dan Iduladha), acara hajatan, kumpul keluarga, pernikahan dan sunatan, acara selamatan (di pedesaan, karena bahan pokoknya dianggap mahal). Angeun Lada dapat dinikmati baik saat sarapan, siang, maupun malam hari.
Ciri khas dan rasa
Angeun lada bersifat berkuah yang memiliki rasa pedas dan gurih, serta kaya akan rempah. Kuahnya cenderung kental dan berwarna kemerahan karena penggunaan cabai. Lemak dan potongan daging kecil-kecil seukuran dadu terlihat mengambang pada kuahnya. Salah satu ciri khas utama yang membedakan Angeun lada dari masakan berkuah lainnya adalah penggunaan daun walang atau dikenal sebagai Walangan. Daun walang memiliki aroma yang sangat menyengat, mirip seperti serangga walang sangit, dan memberikan cita rasa yang sangat khas dan segar. Meskipun aromanya mungkin terasa sedikit aneh bagi orang yang baru pertama kali mencicipinya, aroma dan rasa walang tidak terlalu menyengat ketika dimakan bersama daging. Daun walang banyak dijumpai di daerah selatan Banten dan mengandung minyak atsiri. Masyarakat Baduy bahkan menggunakan tumbuhan walang sebagai pengusir hama padi dengan cara membakarnya di saung huma (gubuk ladang). Bahan baku utama Angeun Lada bervariasi, tetapi umumnya menggunakan babat sapi, daging kerbau, daging sapi, atau daging kambing. Selain itu, dapat juga dicampur dengan sayuran.[7]