Mewartakan dari Gaza utara selama Perang Gaza; tewas ketika bertugas
Anas Jamal Mahmoud al-Sharif (3 Desember 1996–10 Agustus 2025) adalah seorang wartawan dan juru kamera Palestina untuk Al Jazeera bahasa Arab, yang dikenal luas atas liputan garis depannya dari Gaza utara selama perang Gaza.
Selama beberapa bulan, militer Israel menuduh Anas al-Sharif sebagai anggota Hamas,[3] yang oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia dan Al Jazeera dikecam sebagai kebohongan untuk membenarkan pembunuhan jurnalis. Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) menyerukan kepada komunitas internasional untuk melindunginya. Al-Sharif tewas bersama empat jurnalis lainnya dalam serangan udara Israel yang menargetkan dirinya dan jurnalis lain di sebuah tenda di luar Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada 10 Agustus 2025.[4][5][6][7] Pada saat kematiannya, Israel telah membunuh lebih dari 200 jurnalis dalam perang Gaza.[4]
Sejak Oktober 2023, Al-Sharif menjadi salah satu wajah yang paling menonjol dalam peliputan perang di Gaza, menolak untuk mengungsi dari wilayah utara meskipun mendapat perintah berulang dari Israel dan ancaman langsung terhadap nyawanya.[11][12][13] Ia terus melakukan peliputan harian di tengah serangan udara, pembantaian, dan pengungsian, sering kali bekerja dalam kondisi sangat berbahaya dan kekurangan pasokan kebutuhan dasar. Liputannya memberikan rekaman dan kesaksian penting dari salah satu zona perang yang paling sulit diakses di dunia.[10][11][12]
Pada November 2023, Al-Sharif menerima panggilan telepon dari militer Israel yang memerintahkannya untuk meninggalkan Gaza utara.[12][14] Sebulan kemudian, pada Desember 2023, ayahnya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah keluarga mereka di Jabalia. Karena kondisi kesehatan yang buruk, ayahnya tidak mampu mengungsi bersama anggota keluarga lainnya.[15] Al-Sharif menggambarkan pengalaman itu sebagai “kejam” dan “menyakitkan”, tetapi ia mengatakan hal tersebut justru memperkuat tekadnya untuk terus menceritakan penderitaan Gaza.[11][12]
Saat melaporkan secara langsung gencatan senjata perang Gaza pada Januari 2025, Al-Sharif melepas perlengkapan pelindungnya.[16] Warga yang bersorak mengangkatnya di atas bahu mereka sebagai bentuk perayaan.[17]
Pada Maret 2025, rekan Al-Sharif, Hossam Shabat, tewas dibunuh Israel. Al-Sharif turut serta dalam prosesi pemakamannya. Kepada Drop Site News, ia menyatakan tekad untuk terus melaporkan meski mendapat ancaman dari Israel dan telah kehilangan ayahnya.[14]
Pada 31 Juli 2025, Pelapor Khusus PBB Irene Khan mengecam ancaman berulang dan kampanye fitnah yang dilakukan militer Israel terhadap Al-Sharif, menyebutnya sebagai upaya berbahaya untuk membungkam liputannya tentang genosida di Gaza. Ia menyoroti bahwa Al-Sharif, yang digambarkan sebagai “jurnalis Al Jazeera terakhir yang masih hidup di Gaza utara,” telah dituduh tanpa bukti sebagai teroris Hamas, yang membuat nyawanya berada dalam risiko serius. Khan menekankan bahwa, sementara Israel melarang jurnalis internasional memasuki Gaza, pada saat yang sama mereka menargetkan dan melemahkan jurnalis lokal yang berperan sebagai “mata” dunia terhadap kekejaman yang terjadi.[18][19]
Kematian
Sejak 2024, Al-Sharif menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari militer Israel, termasuk panggilan telepon, pesan suara, dan di media sosial yang mengklaim bahwa ia adalah anggota Hamas.[3] Juru bicara IDF untuk bahasa Arab, Avichay Adraee, menuduh Al-Sharif dan jurnalis lainnya melakukan terorisme, sementara organisasi-organisasi hak asasi manusia dan Al Jazeera menyebut tuduhan tersebut sebagai serangan tanpa dasar yang bertujuan membenarkan pembunuhan jurnalis dan menekan pemberitaan yang tidak menguntungkan bagi Israel.[12][13][20][21] Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) menyebut serangan terhadap Al-Sharif sebagai “pendahuluan untuk pembunuhan” dan mendesak tindakan internasional untuk melindunginya serta jurnalis lain di Gaza, menyoroti risiko yang disengaja terhadap jurnalis lokal sebagai “mata dan telinga terakhir dunia luar” terhadap konflik.[12][20][21][22]
Pada 10 Agustus 2025, Anas Al-Sharif tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah tenda di luar Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.[4][5][6][7][23][24] Rekannya, Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa, juga tewas dalam pengeboman tersebut.[4] Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka memang menargetkan Al-Sharif, sambil mengulangi klaim bahwa ia adalah pejuang Hamas.[25] Al Jazeera mengecam pembunuhan itu sebagai “pembunuhan yang direncanakan” yang dimaksudkan untuk “membungkam suara menjelang pendudukan Gaza”,[25] merujuk pada rencana Israel yang baru-baru ini diumumkan untuk menduduki Jalur Gaza.[26]
12Jaay, Charlie (2025-07-28). "An Al Jazeera journalist is being targeted by an Israeli smear campaign". Canary (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-08-11. The latest accusations directed at Al-Sharif from the IOF spokesperson, Avichay Adraee, have falsely accused him of being a member of Hamas' military wing, Al-Qassam, since 2013.