AnamorfismeLukisan Andrea Pozzo di langit-langit gereja St. Ignazio.
Anamorfisme berarti penyajian perspektif atau proyeksi yang terdistorsi. Lebih khusus istilah ini mengacu kepada imaji yang terdistorsi sedemikian rupa hingga hanya akan terlihat normal jika dilihat dari sudut tertentu. [1]
Leonardo's Eye (Leonardo da Vinci, sekitar 1485) adalah salah satu contoh karya anamorfosis tertua yang pernah ditemukan.
Selama abad 17th, Mural trompe l'oeil pada masa Barok sering menggunakan teknik ini untuk mendapatkan kombinasi arsitektural yang sempurna dengan ilusivisual. Saat pengunjung melihat bangunan dari sudut yang tepat, maka bangunan tersebut akan menyatu dengan lukisan dekoratif yang ada. Hans Holbein the Younger adalah salah satu contoh pengguna trik anamorfisme dalam karyanya.[2]
Kubah dan rangka langit-langit dari Gereja St. Ignazio di Roma Rome, yang dilukis oleh Andrea Pozzo, memperlihatkan contoh ilusi ini. Diawali oleh kekhawatiran kubah yang terlalu tinggi akan mengganggu pencahayaan untuk bangunan di sekitar, maka Pozzo ditugaskan untuk membuat ilusi kubah tersebut daripada harus membangun kubah yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena karya ini tetap bersifat dimatra, hanya pada titik tertentu saja pengunjung bisa merasakan kubah ini benar-benar nyata.
Contoh lain adalah lukisan kapur di trotoar oleh Kurt Wenner dan Julian Beever di mana lukisan kapur, ubin, dan bangunan di sekitar menyatu menjadi sebuah ilusi.
IMAX, Cinemascope dan format layar lebar lain bisa menggunakan teknik anamorfisme untuk menciptakan ilusi pemandangan trimatra dari slide dimatra.
Sejarah singkat
Anaformisme mengalami perkembangan signifikan pada abad ke-16, yang dipicu oleh intensifitas studi mengenai perspektif linear oleh para seniman era Renaisans. Teknik ini melibatkan proyeksi visual yang terdistorsi, di mana objek hanya dapat direkontruksi menjadi bentuk yang proporsional apabila diamati dari titik pandang atau sudut kemiringan yang spesifik. [3]
Salah satu representasi kanonik dari aplikasi teknik ini terdapat dalam karya Hans Holbein the Younger yang berjudul The Ambassadors (1533). Dalam lukisan tersebut, terdapat sebuah objek di bagian bawah yang secara visual tampak tidak beraturan jika dilihat secara frontal, namun secara optis akan teridentifikasi sebagai citra tengkorak manusia saat dilihat dari sudut pandang lateral yang tajam.[4]
Secara fungsional, anamorfisme pada awalnya berfungsi sebagai medium eksperimentasi optik sekaligus instrumen untuk menyisipkan pesan simbolis yang bersifat terselubung. Seiring dengan perkembangan estetika dan teknologi visual, aplikasi anomorfisme telah meluas melampaui medium kanvas, mencakup berbagai disiplin ilmu terapan seperti arsitektur, desain grafis, hingga intervensi artistik kontemporer di ruang publik. [5]
Galeri
Hurwitz Singularity, patung anamorik menggunakan perspektif.
Patung katak anamorfik karya Jonty Hurwitz
Tiga pandangan anamorphosis kerucut karya Dimitri
Anamorfosis piramidal
Anamorfosis silindris
Jean-Max Albert, Reflet anamorphose, Perunggu, Parc de la Villette (1985)
↑Dalí, Salvador; Atheneum, Wadsworth; Garden, Hirshhorn Museum and Sculpture; Pinchot, Antonio; Sutton, Peter C.; Art, Scottish National Gallery of Modern; Zafran, Eric (2000-01-01). Dalí's Optical Illusions (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN978-0-300-08177-0.
↑Editors, Britannica. "anamorphosis". Britannica. Diakses tanggal 2026-03-29.