Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Aleksandr Dugin di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Aleksandr[a] Gelyevich Dugin (Rusia: Александр Гельевич Дугин; lahir 7 Januari 1962) adalah seorang filsuf politik Rusia yang merupakan teoritikus utama neo-Eurasianisme Rusia.[5][6]
Lahir dalam keluarga intelijen militer, Dugin merupakan seorang pembangkang anti-komunis pada tahun 1980-an,[7] dan bergabung dengan organisasi sayap kanan ekstrem Pamyat. Setelah pembubaran Uni Soviet, ia ikut mendirikan Partai Bolshevik Nasional pada tahun 1993 bersama Eduard Limonov, yang menganut Bolshevisme Nasional, sebelum keluar pada tahun 1998.[8] Pada tahun 1997, Dugin menerbitkan karya terkenalnya, Foundations of Geopolitics, di mana ia menyerukan Rusia untuk membangun kembali pengaruhnya melalui aliansi dan penaklukan guna menantang apa yang ia anggap sebagai kekaisaran Atlantisis saingan yang dipimpin oleh Amerika Serikat.[9][10] Dugin mendirikan Partai Eurasia pada tahun 2002, dan terus mengembangkan ideologinya dalam buku-buku termasuk The Fourth Political Theory (2009).[9][7] Pandangannya sering digambarkan sebagai sayap kanan ekstrem[11][12] dan fasis,[13] meskipun ia secara eksplisit menolak fasisme bersama dengan demokrasi liberal dan Marxisme, dan justru menganjurkan “revolusi konservatif” melawan gagasan Pencerahan di Rusia. Ia banyak terinspirasi dari tulisan René Guénon, Julius Evola, Carl Schmitt, dan Martin Heidegger.
Dugin pernah menjadi penasihat awal bagi Gennadiy Seleznyov dan kemudian Sergey Naryshkin.[14][15] Ia menjabat sebagai kepala Departemen Sosiologi Hubungan Internasional di Universitas Negeri Moskow dari 2009 hingga 2014, ketika ia kehilangan posisinya akibat reaksi keras setelah menyerukan kematian warga Ukraina pro-Maidan.[16][17] Sejak 2023, ia menjabat sebagai direktur Sekolah Tinggi Politik Ivan Ilyin di Universitas Negeri Humaniora Rusia.[18]
Dugin adalah pendukung kuat Presiden Vladimir Putin.[9] Meskipun ia tidak memiliki hubungan resmi dengan Kremlin,[19] ia sering disebut di media asing sebagai “otak Putin”;[20] namun, ada pula yang menilai pengaruhnya sangat dilebih-lebihkan.[21][22][23][24] Dugin secara vokal mendukung aneksasi Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 serta invasi ke Ukraina pada tahun 2022.[b] Putrinya, Darya, tewas dalam serangan bom mobil pada 20 Agustus 2022.[25] Pembunuhan tersebut secara luas diyakini dilakukan oleh Ukraina,[26][27] meskipun hubungan pasti para pelaku dengan pemerintah Ukraina belum dapat dipastikan.
↑
Lukic, Rénéo; Brint, Michael, ed. (2001). Culture, politics, and nationalism in the age of globalization. Ashgate. hlm.103. ISBN9780754614364. Diakses tanggal 2015-10-12. Dugin defines 'thalassocracy' as 'power exercised thanks to the sea,' opposed to 'tellurocracy' or 'power exercised thanks to the land' .... The 'thalassocracy' here is the United States and its allies; the 'tellurocracy' is Eurasia.