Pendidikan
Sebagaimana umumnya anak laki-laki di Minangkabau, Datuk Batuah melewati masa kecilnya di surau untuk mengaji, berlatih silat, dan tidur pada malam hari. Sementara itu, pendidikan formalnya ditempuhnya di sekolah pemerintah Hindia Belanda mulai dari jenjang Volkschool hingga MULO.[1]
Pada 1909, Datuk Batuah merantau ke Mekah, Arab Saudi. Selama enam tahun, ia bermukim dan belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama asal Koto Tuo, Agam yang menjadi Imam Besar di Masjidil Haram. Begitu kembali ke Padang Panjang, ia menjadi murid Syekh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul di Surau Jembatan Besi Padang Panjang (kelak bertransformasi menjadi Sumatera Thawalib). Berkat kecerdasannya, ia dipercaya oleh ayah Buya Hamka tersebut menjadi guru bantu. Pada 1918, ketika Sumatera Thawalib Padang Panjang menerbitkan majalah Al-Munir Al-Manar, Datuk Batuah terlibat sebagai pembantu tetap.[1][2]
Perjuangan
Ia disebut sebagai Haji Merah, karena ia juga menganut sebagian ajaran paham komunis yang cocok dengan ajaran Islam, seperti ajaran mengenai sosialisme. Di samping itu ajaran komunisme yang radikal dalam memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan manusia pada masa itu dianggap cocok untuk dipakai dalam perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan kolonialisme Belanda.[4][3]
Keterlibatannya dengan komunismen terjadi memasuki tahun 1920, saat ia melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Sumatera dan Jawa. Awalnya, ia diberi tugas oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib di Banda Aceh. Dalam perjalanan, ia bertemu Natar Zainuddin yang mengenalkannya ajaran komunisme. Dari Banda Aceh, mereka bertolak menuju Bandung untuk menghadiri Kongres Sarekat Islam (SI) Merah pada Ma-ret 1923. Di sana, Datuk Batuah berkenalan dengan Haji Misbach dan terkesan pada pan-dangannya yang memadukan komunisme ke dalam Islam.[1][3]
Sekembalinya ke Padang Panjang pada September 1923, Datuk Batuah aktif menyebarkan pandangan kuminihnya ke para pelajar Thawalib. Bersama Djamaluddin Tamim, ia mendirikan International Debating Club (IDC), klub debat yang bertempat di kantin sekolah bernama Buffet Merah. Mereka juga mendirikan surat kabar Pemandangan Islam sebagai corong pemikiran mereka. Lewat berbagai aktivitasnya, Datuk Batuah mencoba membangkitkan kesadaran melawan kolonialisme Belanda dengan Islam sebagai ideologi perlawanan dan komunisme sebagai wadah perjuangan, yang ia alas pula dengan adat Minangkabau.[3][1]
Besarnya pengaruh komunis di kalangan pelajar Thawalib menimbulkan kekhawatiran para guru di sana. Haji Rasul terpaksa hengkang dari perguruan yang ia pimpin tersebut. Di sisi lain, aktivitas Datuk Batuah membuat gusar pemerintah kolonial yang berkuasa. Puncaknya, pada 4 November 1923, Datuk Batuah mendeklarasikan pendirian organisasi pendukung pergerakan komunis cabang Padang Panjang, yaitu Sarekat Rakyat.[1]
Tak lama setelah deklarasi tersebut, ia bersama Natar Zainudin dicokok oleh polisi Belanda pada 11 November 1923. Keduanya ditahan selama setahun di Padang Panjang sebelum dipindahkan ke penjara di Padang. Mereka dijerat undang-undang penyiaran pers (persdelict) lantaran tulisan mereka dianggap menghasut dan memusuhi pemerintah. Datuk Batuah kemudian diasingkan di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur pada 1925, setelah itu dibuang ke Boven Digoel pada 1927.[1][5]
Ketika Belanda melarikan diri ke Australia akibat serbuan Jepang, Datuak Batuah dan para tahanan lainnya ikut diungsikan. Ia sampai di Australia pada 1943. Ia baru bisa mengirup udara bebas setelah dipulangkan oleh pemerintah Australia ke Indonesia pada awal kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, ia kembali ke kampung halamannya hingga meninggal dunia pada 1949.[1][5]