Mayor JenderalTNI (Purn.) Ahmad Hafiluddin Djojoadikusumo (20 April 1921–9 November 1999) merupakan seorang perwira tinggi angkatan darat, birokrat, dan politikus Indonesia.[1]
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, Ahmad meneruskan ke Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA), sebuah sekolah pamong praja setingkat sekolah menengah atas. Ia juga mengikuti kursus radiotelepon pada tahun 1940 dan sempat bertugas sebagai operator radiotelepon di Luchtbeschermingsdienst (Jawatan Tindakan Pencegahan Bahaya Serangan Udara), sebuah organisasi pendahulu hansip yang dibentuk untuk mencegah serangan udara dari Jepang. Ahmad menyelesaikan pendidikan di MOSVIA pada tahun 1942, di tahun yang sama saat Jepang menduduki Hindia Belanda.[2]
Karier
Ahmad memulai kariernya sebagai pamong praja di Pamekasan pada masa pendudukan Jepang.[4] Satu tahun kemudian, ia mengikuti latihan opsir tentara Pembela Tanah Air (PETA)[2] dan direkrut oleh Jepang sebagai Kepala Staf Batalyon II Bangkalan dengan pangkat shodanchō (setingkat letnan).[5]
Setelah Revolusi Nasional Indonesia, Ahmad meneruskan kariernya di kepolisian militer. Pada tanggal 1 Desember 1950, Ahmad yang berpangkat mayor diangkat menjadi Komandan Corps Polisi Militer Batalyon 67 yang meliputi wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau.[6][7] Batalyon ini kemudian berubah nama menjadi Corps Polisi Militer Batalyon I delapan hari kemudian.[8] Ahmad menjabat sebagai komandan batalyon hingga 15 Oktober 1953 dan digantikan oleh Mayor Slamet Martosudiro.[9] Ahmad kemudian dipindahkan untuk menjabat sebagai komandan batalyon polisi militer di Palembang. Sama seperti jabatan sebelumnya, Ahmad menjabat selama kurang lebih tiga tahun dan mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 10 Januari 1956.[10]
Ahmad meneruskan kariernya di lingkungan kesatuan polisi militer angkatan darat hingga tahun 1960. Ia kemudian dikirim untuk menjalani pendidikan militer lanjutan di Quetta Command and Staff College di Pakistan selama beberapa bulan,[11] sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk mengajar sebagai dosen di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Setelah bertugas sebagai dosen selama dua tahun, Ahmad ditunjuk menjadi kepala staf—dan kemudian wakil komandan—Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat.[2]
Usai menjabat sebagai orang nomor dua di Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat, pada bulan Juni 1967 Ahmad diangkat menjadi Direktur Polisi Militer Angkatan Darat,[12] jabatan tertinggi di kepolisian militer angkatan darat, dengan pangkat brigadir jenderal.[2] Ia memegang jabatan tersebut hingga bulan Oktober 1968 dan kemudian digantikan oleh wakilnya, Suitdertus Soedarman.[13] Ahmad selanjutnya diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Agama dan menjabat hingga tanggal 30 Oktober 1971.[14]