Adam dalam Surah Al-Baqarah adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk berkedudukan sebagai khalifah di Bumi. Pengisahan tentang Adam di dalam Surah Al-Baqarah dimulai dari ayat ke-30 hingga ke-39 sebagai sambungan dari kisah asal-usul manusia pada ayat ke-28 hingga ke-29. Adam disiratkan bersama Hawa dalam penceritaan Surah Al-Baqarah berkaitan dengan larangan Allah yang dilanggar oleh keduanya yang mengakibatkan keduanya diturunkan ke Bumi sebagai khalifah. Hikmah pengisahan Adam di dalam Surah Al-Baqarah salah satunya ialah bahwa manusia memiliki potensi kecerdasan melalui akal yang dapat digunakan untuk pendidikan dan pengajaran.
Penciptaan untuk peran sebagai khalifah
Surah Al-Baqarah mengawali kisah tentang penciptaan Adam pada ayat ke-30 yang merupakan sambungan kisah lain dari ayat ke-28 dan ke-29.[1] Ath-Thabari mengutip pendapat dari Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas bahwa yang dimaksud dengan 'kamu dahulunya mati' pada ayat ke-28 dalam Surah Al-Baqarah yaitu kondisi manusia yang berupa sumsum tulang di tulang punggung Adam. Ayat ini menyatakan bahwa manusia dahulu berasal dari ketiadaan yang kemudian oleh Allah diberi kehidupan. Kenyataan ini yang membuat pada awal ayat muncul pernyataan yang menanyakan alasan manusia menjadi kafir kepada Allah.[2] Ayat ke-28 dalam Surah Al-Baqarah merupakan pengingat dari Allah kepada manusia tentang nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.[3] Setelah asal-usul manusia dijelaskan pada ayat ke-28, lalu ayat ke-29 membahas tentang penciptaan segala sesuatu di Bumi sebagai pendukung kehidupan manusia.[1] Kemudian pada ayat ke-30, Allah mengingatkan manusia bahwa Dia telah berfirman kepada para malaikat mengenai Adam yang merupakan leluhur manusia.[3]
Pengusiran dari Surga dan diturunkan ke Bumi
Kejadian pengusiran Adam dari Surga dan diturunkan ke Bumi dibahas dalam Surah Al-Baqarah secara tersirat karena tidak ada penyebutan nama secara langsung.[4] Namun dalam ajaran Islam diyakini bahwa yang diturunkan ke Bumi ialah Adam dan Hawa.[4] Terusirnya Adam dan Hawa dari Surga diyakini telah ditetapkan oleh Allah menurut ayat ke-30 Surah Al-Baqarah. Berdasarkan ayat tersebut, Adam dan Hawa secara tersirat telah ditakdirkan sedari awal penciptaannya untuk menjadi khalifah yang mengelola Bumi.[5]
Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi setelah melanggar larangan Allah untuk memakan buah dari pohon terlarang. Namun keduanya terbujuk rayuan Iblis yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon keabadian dan akhirnya melanggar larangan Allah. Sebelum diturunkan ke Bumi, Allah telah memberikan bimbingan kepada Adam dan Hawa untuk melakukan pertobatan sebagai pernyataan penyesalan atas pelanggaran yang telah mereka lakukan. Kisah memakan buah terlarang yang berakhir dengan diturunkan ke Bumi diceritakan dalam ayat ke-35 hingga ayat ke-37 dalam Surah Al-Baqarah.[6]
Kemampuan
Pada ayat ke-31 hingga ke-32 dalam Surah Al-Baqarah diceritakan tentang pengajaran Allah kepada Adam mengenai nama-nama benda di alam. Ayat ini menjelaskan hikmah bahwa Adam dan keturunannya sebagai manusia memiliki potensi kecerdasan melalui akal yang dapat diberdayakan melalui pendidikan dan pengajaran.[7]
Referensi
Catatan kaki
12As-Shallabi, Ali Muhammad (Desember 2022). Zirzis, Achmad (ed.). Adam: Penciptaan Manusia Pertama[Qishshah Bad'i Al-Khalq wa Khalqu Adam Alaihissalam]. Diterjemahkan oleh Irham, M., dan Supar, M. M. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.18. ISBN978-623-173-001-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Premananto, Gancar Candra (2018). Life as a Surfer: Manajemen Spiritual Individu di Era Disrupsi. Surabaya: Airlangga University Press. ISBN798-602-473-024-6.; ; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)