Acara bakatAcara pencarian bakat sekolah diadakan di St Ninian's High School di Glasgow, Skotlandia.
Acara bakat, acara pencarian bakat, atau tayang bakat merupakan acara di mana peserta melakukan talenta bernyanyi, menari, akrobat, peran, drum, seni bela diri, memainkan alat musik, atau kegiatan lainnya untuk menunjukkan keterampilan yang dimilikinya. Banyak acara bakat merupakan suatu pertunjukan daripada kontes, tetapi beberapa di antaranya sesungguhnya merupakan kontes. Dalam contoh kontes, peserta dapat termotivasi menampilkan bakat mereka untuk meraih piala, atau hadiah dari beberapa jenis. Misalnya, sebuah sekolah tinggi mungkin tidak memiliki banyak siswa dengan minat dalam tampil di depan siswa lain atas dasar keinginannya sendiri dan mungkin pihak sekolah menawarkan hadiah sebagai insentif bagi para siswa untuk berpartisipasi dalam kontes tersebut.[1]
Media
Juri pada audisi pencarian bakat X Factor tahun 2012
Saat ini, pertunjukan bakat telah menjadi genre penting dari acara realitas maupun acara varietas dalam televisi,[2] Beberapa contoh ajang pencarian bakat televisi seperti Idol, Got Talent, The X Factor, dan The Voice, yang telah kritis dalam melambungkan beberapa seniman amatir menjadi bintang dan menyebabkan karier mereka sukses secara komersial.
Acara pencarian bakat di Indonesia sering kali diasosiasikan dengan acara musik, tetapi ada juga acara yang tidak berfokus hanya pada bakat musik. Akademi Fantasi Indosiar ,Kontes Dangdut Indonesia dan Indonesian Idol menjadi ajang pencarian bakat pertama yang sukses meraih banyak pemirsa televisi pada era 2000-an. Sebelumnya, pada tahun 90-an, ajang pencarian bakat yang cukup banyak menarik perhatian adalah Asia Bagus yang disiarkan di TVRI dan RCTI yang berhasil mengorbitkan sejumlah penyanyi kenamaan Indonesia seperti Krisdayanti dan Dewi Gita. Selain itu, pada tahun 50-an hingga saat ini masih tetap eksis, ajang pencarian bakat yang cukup banyak menarik perhatian adalah Bintang Radio yang disiarkan di RRI (sempat ditayangkan di TVRI pada tahun 70-an) sejak 1951 ini berhasil mengorbitkan sejumlah penyanyi kenamaan Indonesia seperti Bing Slamet, Broery Marantika, Hetty Koes Endang, Trio Libels, dan Yuni Shara.[3]
Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN)
Logo resmi Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN)
Logo resmi Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN)
Lokasi
Indonesia
Tahun diselenggarakan
2025–sekarang
Pendiri
Tiga Belas 45 Production, Sinergy for Indonesia, Indonesia Care
Tanggal
Audisi dimulai pertengahan 2025; final direncanakan November 2025
Genre
Kompetisi vokal (lagu kebangsaan, lagu daerah, dan lagu budaya)
Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN) adalah sebuah kompetisi vokal nasional di Indonesia yang pertama kali diumumkan pada tahun 2025. Festival ini bertujuan menyaring bakat vokal penyanyi muda dengan latar aspirasi wawasan kebangsaan dan apresiasi terhadap lagu-lagu nasional dan daerah.[4]
Sejarah
Program ini diluncurkan oleh event organizer Tiga Belas 45 Production, bersama Sinergy for Indonesia dan Indonesia Care. FNAN dirancang sebagai respons atas kekhawatiran menyusutnya apresiasi terhadap lagu-lagu kebangsaan dan lagu daerah di kalangan generasi muda Indonesia.[5][6]
Format dan mekanisme
Sesuai syarat resmi pendaftaran, peserta mendaftar secara daring dengan mengunggah video audisi (format yang ditentukan pada laman resmi). Peserta yang lolos melalui seleksi administratif dan teknis akan mengikuti tahap pembinaan, dan akhirnya tampil di babak final. Rentang usia peserta yang diumumkan untuk tahun 2025 adalah antara 17 hingga 30 tahun.[7]
Repertoar
Repertoar yang dijadikan materi kompetisi mencakup lagu-lagu kebangsaan dan daerah dalam aransemen modern. Panitia juga merilis karya-karya tematik yang berkaitan dengan event ini.[8]
Ikon dan promosi
Untuk gelaran 2025, dua penyanyi muda—Dul Jaelani dan Shanna Shannon—dipilih sebagai ikon acara. Nama mereka banyak disebut dalam materi promosi dan liputan media.[9][10]
Penjurian dan pembinaan
Jumlah dan identitas juri tidak dijabarkan secara terbuka, tetapi liputan menyebutkan adanya keterlibatan musisi, pemerhati budaya, serta tenaga pendidikan. Program pembinaan dilaporkan termasuk lokakarya tentang vokal dan wawasan kebangsaan, dengan dukungan dari mitra lembaga tertentu.[6][11]
Penerimaan publik
Peluncuran FNAN mendapat liputan oleh sejumlah media nasional, dengan penekanan pada unsur kebangsaan dan pendidikan karakter. Beberapa liputan menyoroti tujuan sosial program tanpa menampilkan indikator kinerja seperti jumlah peserta atau hasil akhir.[5]
Isu dan keterbatasan
Beberapa komentar yang disorot media menyentuh isu-isu seperti perlunya keseimbangan antara pelestarian budaya dengan inovasi, hak atas lagu tradisional, dan akses peserta luar kota besar. Hingga Agustus 2025 belum tersedia penilaian atau ulasan akademik indepen yang menilai efektivitas atau dampak jangka panjang program ini.[12]