Sejarah
Perusahaan ini memulai sejarahnya di Surabaya, Jawa Timur pada tahun 1960 sebagai sebuah bisnis perdagangan bahan kimia dasar. Pada tanggal 28 November 1977, bisnis tersebut resmi didaftarkan sebagai sebuah perseroan terbatas (PT) dengan nama PT Aneka Kimia Raya (AKR). Pada tahun 1980, perusahaan ini mulai membangun tangki penyimpanan bahan kimia dasar dan gudang di beberapa pelabuhan di Indonesia. Perusahaan ini kemudian memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta. Pada tanggal 3 Oktober 1994, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.
Pada bulan September 2004, karena tidak lagi hanya berbisnis di bidang perdagangan bahan kimia, perusahaan ini pun mengubah namanya menjadi seperti sekarang. Perusahaan ini lalu mengakuisisi mayoritas saham pabrik sorbitol milik Sorini dan Khalista. Pada tahun 2005, perusahaan ini menjadi perusahaan swasta nasional pertama yang mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia. Pada tahun 2006, perusahaan ini mengakuisisi sejumlah pelabuhan sungai di Tiongkok. Perusahaan ini kemudian membeli kapal pengangkut BBM pertamanya, yakni SPOB AKRA-10.
Pada tahun 2009, perusahaan ini mengakuisisi 87,5% saham PT Anugerah Karya Raya yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dengan harga Rp60 miliar.[3] Pada tahun 2010, AKR menjadi perusahaan swasta nasional pertama yang mendistribusikan BBM bersubsidi di Indonesia, dengan mengoperasikan SPBU dan SPBN.
Pada bulan April 2010, melalui PT Jakarta Tank Terminal (JTT) yang didirikan bersama Vopak, perusahaan ini mulai mengoperasikan fase 1 dari terminal tangki penyimpanan BBM yang terletak di Tanjung Priok. Pada tahun 2013, bersama Pelindo III, perusahaan ini mulai mengembangkan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang mengintegrasikan kawasan industri dengan pelabuhan laut dalam di Gresik, Jawa Timur.
Pada tahun 2017, bersama BP, perusahaan ini mendirikan PT Aneka Petroindo Raya untuk mengoperasikan SPBU dengan merek BP di Indonesia.[4] Bersama BP, perusahaan ini juga mendirikan PT Dirgantara Petroindo Raya untuk berbisnis di bidang distribusi avtur.[5] Perusahaan ini kemudian juga mulai mendistribusikan pelumas buatan Castrol. Perusahaan ini lalu mendivestasi Pelabuhan Guigang di Tiongkok. Pada tahun 2018, perusahaan ini ditetapkan sebagai Badan Usaha Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu (P3JBT) selama 5 tahun. Perusahaan ini kemudian melelang lahan pabrik sorbitol milik Khalista di Tiongkok. JTT juga memulai proyek pengembangan fase 2A, sehingga kapasitas terminal tangki penyimpanannya dapat meningkat sebesar 100.000 KL.
Perusahaan ini kemudian meresmikan SPBU BP AKR pertama di Indonesia, yakni di De Latinos, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Pada tahun 2019, perusahaan ini menyerahkan lahan seluas 103 hektar di JIIPE kepada Freeport Indonesia untuk dijadikan lokasi smelter. Kemudian melalui PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera, perusahaan ini dan PT Waskita Bumi Wira meneken nota kesepahaman mengenai pembangunan Jalan Tol Krian–Legundi–Bunder–Manyar. Perusahaan ini lalu membuka terminal avtur Air BP-AKR pertama di Indonesia, yakni di Morowali.
Pada tahun 2020, BP-AKR dan Citinine meneken perjanjian untuk membangun SPBU DODO di Jawa Timur.[1][2] Melalui PT AKR Niaga Indonesia, perusahaan ini juga mendirikan sebuah perusahaan patungan bersama Petronas Chemicals Group (PCG) untuk mendistribusikan bahan kimia buatan PCG di Indonesia.[6] Pada tahun 2021, bersama PT Bayu Buana Gemilang, perusahaan ini mendirikan PT Berkah Buana Energi untuk berbisnis di bidang distribusi gas alam.[7] Pada tahun 2024, perusahaan ini mendirikan PT Berkah Renewable Energi Nusantara untuk berbisnis di bidang pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan.[8]