Program AIM-260 JATM dimulai secara diam-diam pada tahun 2017 sebagai respons atas kemunculan rudal PL-15 buatan Tiongkok yang memiliki jangkauan lebih jauh dibandingkan AIM-120D AMRAAM.[1] Brigadir Jenderal Anthony Genatempo, Pejabat Eksekutif Program Senjata Angkatan Udara AS, mengungkapkan keberadaan program ini untuk pertama kalinya pada Juni 2019 dalam wawancara dengan Air Force Magazine dan Aerospace Daily di ajang Life Cycle Industry Days di Wright-Patterson Air Force Base.[1][2]
Menurut pernyataan resmi, kemunculan PL-15 yang menggunakan motor roket dual-pulse pada tahun 2016 menjadi faktor kunci yang mendorong AS untuk memulai pengembangan JATM.[1]
Pada tahun 2017, Kantor Program JATM menunjuk Lockheed Martin sebagai pengembang rudal baru ini. Uji terbang direncanakan dimulai pada tahun 2021, dengan kemampuan operasional awal (initial operational capability) ditargetkan pada tahun 2022.[2]
Desain
Dimensi dan Penyesuaian
AIM-260 dirancang memiliki faktor bentuk (form factor) yang mirip dengan AIM-120 AMRAAM agar dapat diintegrasikan ke dalam ruang senjata internal (internal weapons bay) pesawat siluman seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.[1] Hal ini membatasi panjang rudal sekitar 3,66 meter dan diameter 178 mm, meskipun peningkatan diameter atau massa masih dimungkinkan untuk meningkatkan performa.[2]
Propulsi
Berbeda dengan MBDA Meteor yang menggunakan mesin ramjet, AIM-260 tetap menggunakan motor roket bahan bakar padat (solid-fuel rocket motor) untuk mempertahankan ukuran yang kompak.[1][2] Peningkatan jangkauan dicapai melalui kemajuan teknologi motor roket, material, serta desain hulu ledak yang lebih kecil namun tetap mematikan, sehingga ruang untuk bahan bakar dapat ditambah.[1]
Sistem Pemandu
AIM-260 dilengkapi dengan sistem pemandu yang lebih canggih dibandingkan AIM-120. Beberapa sumber menyebutkan kemungkinan penggunaan pemandu dual-mode (radar aktif AESA + pencitraan inframerah/IIR) yang memberikan ketahanan terhadap gangguan peperangan elektronik (electronic warfare).[1] Jika salah satu sistem terganggu, rudal masih dapat mengandalkan sistem lainnya untuk membidik target.[1]
Rudal ini juga kemungkinan dilengkapi dengan:
Autopilot dengan navigasi inersia dan satelit untuk fase jelajah jarak jauh.[2]
Data link dua arah (two-way data link) yang memungkinkan pembaruan target di tengah penerbangan, serta kemampuan menyerang target berdasarkan data dari sumber luar (offboard targeting).[1]
Kemampuan homing terhadap emisi target (seperti radar musuh) untuk fleksibilitas taktis tambahan.[1]
Performa
Jangkauan AIM-260 diperkirakan melampaui AIM-120D yang memiliki jangkauan sekitar 160 km, dengan target mencapai lebih dari 200 km untuk menyamai atau melampaui PL-15.[2] Kecepatan diperkirakan mencapai Mach 4–5, dengan ketinggian operasional hingga 25–27 km.[2]
Pengembangan dan Pendanaan
Program AIM-260 awalnya merupakan bagian dari upaya pengembangan yang lebih luas, termasuk program Long Range Engagement Weapon (LREW) yang didanai sebesar $7,686 juta pada tahun fiskal 2017 untuk studi kelayakan.[2]
Pada tahun fiskal 2026, Departemen Pertahanan AS mengajukan pendanaan sekitar $1 miliar untuk kelanjutan pengembangan dan produksi awal AIM-260. Rinciannya meliputi:
Angkatan Udara AS: $368 juta untuk produksi perdana JATM dan tambahan $300 juta untuk produksi lanjutan.
Angkatan Laut AS: $301 juta untuk produksi AIM-260.[3]
Platform Peluncur
F-22 Raptor dan F/A-18E/F Super Hornet menjadi platform pertama yang akan membawa AIM-260. Setelah itu, integrasi dengan berbagai varian F-35 Lightning II akan dilakukan, serta kemungkinan pada pesawat generasi berikutnya seperti F-15EX Eagle II dan program Next-Generation Air Dominance (NGAD).[1]
Produksi AIM-120 AMRAAM direncanakan akan dihentikan secara bertahap seiring meningkatnya produksi JATM, dengan penghentian total diperkirakan pada tahun 2026.[2]
Perbandingan dengan Rudal Lain
Pengembangan AIM-260 didorong oleh kebutuhan untuk mengimbangi kemajuan rudal Tiongkok (PL-15 dan PL-21) serta Rusia (K-77M). Dalam konflik India-Pakistan pada Mei 2025, efektivitas PL-15 yang digunakan Pakistan disebut-sebut menjadi faktor penting yang mendorong percepatan pengembangan dan produksi AIM-260.[3]