×

Mengenal Sejarah Hari Ibu Sedunia: Dari Tradisi Kristen Hingga Perayaan Komersial

Mengenal Sejarah Hari Ibu Sedunia: Dari Tradisi Kristen Hingga Perayaan Komersial

Sekolapedia – 11 Mei 2026 | Hari Ibu Sedunia atau Mother’s Day dirayakan setiap hari Minggu kedua di bulan Mei. Perayaan ini memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, bermula dari tradisi Kristen di Eropa hingga menjadi perayaan komersial di Amerika Serikat.

Asal-Usul Hari Ibu

Penghormatan terhadap sosok ibu dan konsep keibuan telah berakar jauh sebelum era modern dimulai. Peradaban Yunani dan Romawi kuno telah mengenal festival untuk memuja dewi-dewi ibu seperti Rhea dan Cybele.

Namun, embrio dari perayaan Mother’s Day modern secara spesifik dapat ditelusuri dari tradisi Kristen di Eropa yang dikenal sebagai Mothering Sunday. Dimulai dari abad ke-16, tradisi ini awalnya diperingati setiap hari Minggu keempat pada masa Prapaskah.

Sejarah Hari Ibu Modern di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, cikal bakal Mother’s Day mulai tumbuh beberapa dekade sebelum diakui secara resmi sebagai hari libur nasional. Ann Reeves Jarvis dari Virginia Barat mendirikan Mothers’ Day Work Clubs, yang bertujuan mengedukasi para perempuan setempat mengenai teknik merawat anak yang baik dan higienis.

🔖 Baca juga:
Krakatau Steel Bangun Kembali: Upaya Memperkuat Industri Baja Nasional

Pasca perang, kelompok ini bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang luar biasa. Pada 1868, Ann menggagas Mothers’ Friendship Day sebagai wadah rekonsiliasi antara para ibu dari pihak tentara persatuan dan Konfederasi guna merajut kembali persatuan nasional.

Tokoh kunci lainnya adalah Julia Ward Howe, seorang aktivis hak pilih perempuan sekaligus penulis lagu patriotik ternama. Pada 1870, karena trauma menyaksikan kehancuran akibat Perang Saudara dan Perang Perancis-Prusia, Howe menulis Mother’s Day Proclamation.

Anna Jarvis dan Perjuangannya

Namun, tonggak sejarah paling krusial diletakkan oleh Anna Jarvis, putri dari Ann Reeves Jarvis. Sepeninggal ibunya pada 1905, Anna bertekad mewujudkan sebuah hari khusus untuk menghormati pengorbanan yang telah diberikan para ibu.

Dengan dukungan finansial dari John Wanamaker, seorang pemilik toko departemen di Philadelphia, ia menyelenggarakan perayaan resmi Mother’s Day pertama kali di sebuah gereja Metodis di Grafton, Virginia Barat, pada Mei 1908.

Perjuangan Anna terus berlanjut melalui kampanye surat-menyurat masif yang ditujukan kepada media dan para politisi. Ia berargumen bahwa hari libur di Amerika saat itu terlalu didominasi oleh pencapaian laki-laki.

Upaya gigihnya membuahkan hasil pada 1914, ketika Presiden Woodrow Wilson menandatangani maklumat yang meresmikan Mother’s Day sebagai hari libur nasional pada hari Minggu kedua di bulan Mei.

Namun, di masa tuanya, Anna Jarvis justru merasa sangat kecewa melihat perayaan yang ia rintis berubah menjadi ajang komersialisasi. Ia merasa perayaan yang seharusnya menjadi hari sakral tersebut telah dimanfaatkan oleh industri bunga dan kartu ucapan demi keuntungan bisnis semata.

Kekecewaan ini begitu mendalam hingga ia mengajukan petisi untuk mencabut hari tersebut pada 1943. Pada 1948, Anna Jarvis wafat dalam kondisi ekonomi yang sulit di sebuah sanatorium.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia sendiri memiliki makna historis tersendiri karena bertepatan dengan momen Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928. Sebuah tonggak sejarah yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Dalam perjalanan waktu, Mother’s Day telah berevolusi menjadi perayaan yang lebih luas, tidak hanya untuk menghormati ibu kandung, tetapi juga untuk menghargai peran-peran keibuan dalam masyarakat.

Post Comment