Kisah Pilu Jumiatun dan Ngadiono Selamat dari Kecelakaan Bus ALS di Muratara, Alami Luka Bakar Serius

Kisah Pilu Jumiatun dan Ngadiono Selamat dari Kecelakaan Bus ALS di Muratara, Alami Luka Bakar Serius

Kecelakaan maut antara bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, masih meninggalkan trauma bagi korban selamat. Ngadiono (44), salah satu korban selamat, menceritakan momen mengerikan saat bus yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk tangki BBM dan terbakar.

Sekolapedia – 08 Mei 2026 | Ngadiono, warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bersama istrinya, Jumiatun (35), dan dua orang lainnya, yaitu Muhammad Fahrul Hubaidi (31) dan Padli (30), selamat dari kecelakaan yang menewaskan 16 orang itu. Namun, ketiganya mengalami luka bakar serius.

Ngadiono menceritakan bahwa bus ALS yang mereka tumpangi tidak dalam kondisi bagus sebelum berangkat. Mereka mengalami beberapa kali gangguan, seperti radiator kering dan oli berceceran. Namun, mereka terpaksa melanjutkan perjalanan karena tidak memiliki biaya untuk mengganti jadwal keberangkatan.

Saat kejadian, Ngadiono mendengar suara benturan keras, lalu tiba-tiba ada api dan langsung membesar. Seketika bus sudah terbakar. Ngadiono yang duduk di posisi tengah langsung memecahkan kaca jendela dan keluar bersama istrinya. Tak lama, penumpang lain bernama M Tahrul Hubaidi berhasil menyelamatkan diri.

Namun, tidak semua penumpang berhasil memecahkan kaca bus tersebut dan keluar dengan selamat. Ngadiono mengingat momen mengerikan saat api mulai melahap bus dan penumpang yang masih terjebak di dalamnya. Setelah itu, api semakin membesar dan diikuti ledakan dari dalam bus. Jeritan para penumpang bus yang lain pun perlahan menghilang.

🔖 Baca juga:
Fernando Muslera: Kiper Veteran yang Tetap Jadi Andalan di Usia Senja

“Kami hanya bisa melihat penumpang lain terjebak dan terbakar di dalam bus. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Ketiga korban selamat tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit, Muratara, untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, karena kondisi mereka yang memerlukan perawatan lebih lanjut, mereka kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Moh Hasan Palembang.

Salah satu korban selamat, Ngadiono, diterbangkan ke Palembang menggunakan helikopter pada Jumat (8/5/2026). Ia mengalami luka bakar sekitar 50 persen pada tubuhnya. Sementara itu, dua korban lainnya, Jumiatun dan Muhammad Fahrul Hubaidi, tidak memungkinkan dievakuasi lewat udara karena mengalami luka bakar hingga 90 persen.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol dr Budi Santoso, mengatakan bahwa evakuasi menggunakan helikopter dilakukan berdasarkan pertimbangan medis. Selain itu, jalur udara dinilai lebih cepat dibandingkan perjalanan darat.

“Kalau di sini, kami pastikan semuanya siap untuk merawat para korban yang selamat,” ujarnya.

Post Comment