Sekolapedia – 02 Mei 2026 | Tottenham Hotspur berada di ujung krisis pada fase akhir Liga Premier 2025-2026. Dengan empat pertandingan tersisa, sang Lilywhites menempati peringkat ke-18, hanya selisih dua poin dari zona aman. Tekanan untuk menghindari Tottenham degradasi semakin mencekam, sementara pelatih baru Roberto De Zerbi mengeluarkan pernyataan yang memicu perdebatan di kalangan suporter dan media.
Suara De Zerbi di Pers Konferensi
Menjelang laga melawan Aston Villa pada 4 Mei 2026, De Zerbi menegaskan bahwa mentalitas negatif harus dibungkam. Ia berkata, “Saya mendengar: ‘tidak mungkin, kita menangis dan kita turun kasta’. Tetapi tidak. Belum. Kita harus mati di lapangan dan untuk mati di lapangan, kita harus kalah,” mengutip dari wawancara dengan The Guardian. Menurutnya, hanya “pecundang” yang meratapi kegagalan, sementara “pecundang” pula yang berpikir negatif.
De Zerbi menambahkan, “Tantangan terpenting saat ini adalah membungkam suara dalam diri kami, dalam diri pemain, staf, dan pendukung. Suara‑suara ini bisa menciptakan pikiran‑pikiran negatif.” Pernyataan itu menegaskan fokusnya pada aspek psikologis, bukan sekadar taktik.
Sejarah Singkat Kepelatihan De Zerbi di Tottenham
Roberto De Zerbi menjadi pelatih ketiga Tottenham musim ini. Ia datang pada akhir Maret 2026 menggantikan Igor Tudor, yang sebelumnya menggantikan Thomas Frank hanya selama dua bulan. Dari tiga pertemuan pertama bersama Spurs, hasilnya seimbang: satu kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil imbang. Namun, statistik tidak membantu tim yang kini berada di zona degradasi.
Jadwal Sisa Kompetisi dan Target Poin
| Pertandingan | Tanggal | Lawan | Lokasi |
|---|---|---|---|
| 35 | 4 Mei 2026 | Aston Villa | Villa Park, Aston |
| 36 | 11 Mei 2026 | Leeds United | Hampden Park, Leeds |
| 37 | 19 Mei 2026 | Chelsea | Stamford Bridge, London |
| 38 | 24 Mei 2026 | Everton | Goodison Park, Liverpool |
Tottenham kini mengincar empat kemenangan beruntun untuk menyalip West Ham United yang berada di peringkat ke-17. Setiap tiga poin menjadi krusial, mengingat selisih hanya dua angka dari zona aman.
Reaksi Suporter dan Analisis Media
Suporter Tottenham menyambut pernyataan De Zerbi dengan campuran kekhawatiran dan harapan. Sebagian menganggap seruan “mati di lapangan” terlalu keras, sementara yang lain melihatnya sebagai motivasi untuk bangkit. Media lokal menyoroti bahwa De Zerbi tidak menawarkan “keajaiban”, melainkan menekankan kerja keras dan konsistensi.
Sejumlah analis menilai bahwa perubahan taktik defensif yang diterapkan De Zerbi—penekanan pada pressing tinggi dan transisi cepat—belum sepenuhnya beradaptasi dengan karakter pemain. Namun, mereka mengakui bahwa mentalitas baru dapat menjadi katalis perubahan bila diterapkan secara konsisten.
Strategi yang Diharapkan
- Penekanan pada pressing terkoordinasi untuk memaksa kesalahan lawan di zona pertahanan.
- Transisi cepat setelah merebut bola, memanfaatkan kecepatan pemain sayap seperti Heung‑Min Son.
- Peningkatan peran pemain muda dalam skuat, memberi energi serta mengurangi beban pemain senior.
Jika strategi ini berhasil, Tottenham dapat mengubah arah pertandingan melawan tim‑tim kuat seperti Chelsea, yang sekaligus menjadi ujian nyata bagi kemampuan De Zerbi menata tim di bawah tekanan.
Secara keseluruhan, situasi Tottenham degradasi tetap nyata, namun pernyataan De Zerbi menandai perubahan paradigma. Fokus pada mentalitas “mati di lapangan” sekaligus menuntut kemenangan menjadi slogan yang akan diuji pada empat laga terakhir musim ini. Hanya waktu yang akan menentukan apakah Spurs dapat menyalip zona bahaya atau harus menelan rasa pahit turun ke divisi dua.


Post Comment