Sekolapedia – 27 April 2026 | Sragen, Jawa Tengah – Kepolisian Resort Sragen mengungkap modus penipuan kencan online yang kini marak terjadi di wilayah ini. Pelaku mengaku kehabisan bensin saat menjemput korban, lalu melarikan diri meninggalkan korban di pinggir jalan. Hingga kini, lebih dari dua puluh kasus serupa telah tercatat, menimbulkan kecemasan di kalangan pengguna aplikasi kencan digital.
Modus Operandi Pelaku
Menurut penyelidikan, pelaku memulai kontak melalui aplikasi kencan populer dengan menampilkan profil menarik, lengkap foto profesional, dan riwayat pekerjaan yang terkesan stabil. Setelah membangun kepercayaan, mereka mengajak pertemuan tatap muka di tempat umum, biasanya pada sore atau malam hari. Pada saat pertemuan, pelaku mengklaim bahwa kendaraan mereka tiba-tiba kehabisan bensin di area terpencil.
Dengan alasan tersebut, pelaku meminta bantuan korban untuk mengisi bensin atau menunggu hingga bantuan tiba. Di tengah proses itu, pelaku memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri, sering kali meninggalkan korban tanpa kendaraan dan uang yang sudah dibayarkan sebagai “biaya perjalanan”. Beberapa korban melaporkan bahwa pelaku kemudian menghubungi kembali dengan permintaan tambahan dana untuk “mengganti bensin” atau “bayar denda polisi”.
Profil Korban dan Dampak
Mayoritas korban adalah pria berusia 25‑35 tahun, aktif bekerja, dan mencari pasangan melalui aplikasi kencan. Mereka biasanya tinggal di daerah perkotaan sekitar Sragen, namun tidak jarang korban berasal dari desa-desa sekitar. Dampak yang dirasakan meliputi kerugian finansial rata‑rata Rp3‑5 juta per kasus, trauma psikologis, serta kehilangan rasa aman dalam menggunakan layanan kencan daring.
Langkah Pencegahan
Polisi bersama lembaga perlindungan konsumen menekankan pentingnya edukasi digital untuk menghindari penipuan kencan online. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan:
- Verifikasi profil: Pastikan foto dan data pribadi pelaku dapat dipertanggungjawabkan lewat pencarian nama atau nomor telepon di internet.
- Hindari pertemuan di tempat terpencil: Pilih lokasi publik yang ramai, seperti kafe atau pusat perbelanjaan.
- Jangan memberi uang atau bahan bakar: Penipu biasanya meminta bantuan finansial dengan dalih darurat.
- Gunakan fitur pelaporan pada aplikasi: Jika ada indikasi mencurigakan, laporkan segera ke pihak penyedia layanan.
- Waspada terhadap cerita “kehabisan bensin”: Ini merupakan pola umum yang kini diadopsi oleh pelaku penipuan kencan online.
Reaksi Pihak Berwajib
Kapolres Sragen, Kombes Pol. Irwan Setiawan, menyatakan bahwa unitnya telah membentuk tim khusus siber untuk menindak pelaku. “Kami sedang melakukan penyelidikan lintas wilayah karena sebagian pelaku menggunakan nomor telepon virtual dan akun anonim,” ujar Irwan. Ia menambahkan bahwa masyarakat diimbau untuk melaporkan setiap kejadian mencurigakan melalui layanan 110 atau aplikasi e‑Lapor.
Selain itu, Kepolisian Digital Nasional (Polri) mengingatkan bahwa modus penipuan kencan online seringkali berbaur dengan tipuan lain, seperti penipuan bantuan sosial palsu. Oleh karena itu, verifikasi data dan sumber informasi menjadi langkah krusial dalam melindungi diri.
Kasus ini menjadi peringatan bahwa dunia digital, termasuk platform kencan, tidak lepas dari ancaman penipuan. Dengan meningkatkan kewaspadaan, mempraktikkan langkah pencegahan, serta melaporkan tindakan mencurigakan, masyarakat dapat meminimalisir risiko menjadi korban.



Post Comment