Contoh Soal Peribahasa dan Jawabannya: Menguji Kekayaan Bahasa Indonesia

Peribahasa adalah salah satu kekayaan terbesar dalam bahasa Indonesia. Lebih dari sekadar rangkaian kata, peribahasa menyimpan hikmah, nasihat, dan sindiran yang diwariskan secara turun-temurun. Mempelajari peribahasa tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga membantu kita memahami budaya, nilai-nilai, dan cara pandang masyarakat Indonesia.

Dalam konteks pendidikan, peribahasa seringkali menjadi materi ujian, baik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tes masuk perguruan tinggi, hingga tes kemampuan umum lainnya. Menguasai peribahasa adalah kunci untuk menjawab soal-soal tersebut dengan tepat.

Artikel ini akan menyajikan berbagai contoh soal peribahasa dan jawabannya yang dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat kesulitannya. Tujuannya adalah membantu Anda menguji pemahaman dan memperluas pengetahuan mengenai peribahasa.

Baca juga: Contoh Soal Mencari Tekanan Uap dan Pembahasannya

Jenis-Jenis Peribahasa yang Perlu Diketahui

Sebelum masuk ke contoh soal, mari kenali tiga jenis utama peribahasa:

🔖 Baca juga:
Latihan Soal Komponen Penginderaan Jauh untuk Ujian Sekolah dan UTBK + Kunci Jawaban
  1. Bidal atau Pameo: Berisi pernyataan yang lugas dan berani, seringkali mengandung sindiran atau peringatan. Contoh: Hidup segan mati tak mau.
  2. Pepatah: Berisi nasihat, ajaran, atau pedoman hidup. Umumnya memiliki makna yang luas dan mendalam. Contoh: Air tenang menghanyutkan.
  3. Perumpamaan: Berisi perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, namun disamakan. Biasanya ditandai dengan kata seperti, bak, laksana, dan umpama. Contoh: Bagai pinang dibelah dua.

Kumpulan Contoh Soal Peribahasa dan Jawabannya

Berikut adalah kumpulan soal-soal peribahasa yang bisa Anda gunakan untuk latihan.

Bagian 1: Soal Pilihan Ganda (Menemukan Makna)

Pilihlah makna yang paling tepat untuk peribahasa berikut.

Soal 1: Apa makna peribahasa “Tong kosong nyaring bunyinya”? A. Orang miskin selalu banyak bicara. B. Orang yang banyak tahu akan diam saja. C. Orang yang sedikit pengetahuan/ilmunya, biasanya banyak cakap atau menyombongkan diri. D. Suara yang keras selalu berasal dari benda yang tidak berisi.

Jawaban 1: C. Orang yang sedikit pengetahuan/ilmunya, biasanya banyak cakap atau menyombongkan diri.

Soal 2: Makna peribahasa “Air beriak tanda tak dalam” adalah… A. Air di sungai yang dangkal mudah tumpah. B. Orang yang sombong itu suka pamer kekayaan. C. Orang yang banyak bicara biasanya kurang berilmu. D. Orang yang berilmu tinggi selalu tenang dan diam.

Jawaban 2: C. Orang yang banyak bicara biasanya kurang berilmu.

Soal 3: Peribahasa yang berarti “Janganlah mengerjakan sesuatu yang sia-sia atau buang-buang waktu” adalah… A. Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. B. Seperti menabur garam ke laut. C. Bagai kerakap di atas batu. D. Ada udang di balik batu.

Jawaban 3: B. Seperti menabur garam ke laut. (Karena menambah garam ke laut tidak akan mengubah rasa asinnya, sehingga usaha itu sia-sia).

Bagian 2: Soal Pilihan Ganda (Melengkapi Kalimat)

Lengkapi kalimat di bawah ini dengan peribahasa yang paling sesuai.

Soal 4: Usaha Pak Budi untuk menasehati anak yang sudah terlanjur bandel itu sia-sia. Hal itu sesuai dengan peribahasa… A. Bagaikan anjing menggonggong di balik pagar. B. Membujur lalu melintang patah. C. Seperti kera mendapat bunga. D. Air di daun talas.

Jawaban 4: D. Air di daun talas. (Peribahasa ini bermakna nasihat atau ajaran yang tidak berbekas/mudah hilang).

Soal 5: Karena kesalahan kecil yang ia lakukan, seluruh keluarganya menanggung malu. Peristiwa ini sesuai dengan peribahasa… A. Pucuk dicinta ulam tiba. B. Nila setitik rusak susu sebelanga. C. Ada gula ada semut. D. Tak ada gading yang tak retak.

Jawaban 5: B. Nila setitik rusak susu sebelanga. (Bermakna karena keburukan atau kesalahan yang sedikit, semua yang baik-baik ikut tercela).

Soal 6: Meskipun sudah berganti-ganti pekerjaan dan tempat tinggal, Sinta tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Hal ini sama dengan peribahasa… A. Tabiat anjing takkan berubah, lari ke padang, lari ke rimba. B. Lain lubuk lain ikannya. C. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. D. Cacing menelan naga.

Jawaban 6: A. Tabiat anjing takkan berubah, lari ke padang, lari ke rimba. (Peribahasa ini merujuk pada sifat buruk yang sulit dihilangkan, meskipun lingkungan telah berganti).

Bagian 3: Soal Mencocokkan (Mencari Pasangan Peribahasa)

Carilah peribahasa yang memiliki makna atau maksud yang serupa (sinonim) atau berlawanan (antonim).

Soal 7: Carilah peribahasa yang memiliki makna serupa dengan “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”. A. Habis manis sepah dibuang. B. Patah tumbuh hilang berganti. C. Sambil menyelam minum air. D. Ada udang di balik batu.

Jawaban 7: C. Sambil menyelam minum air. (Kedua peribahasa ini memiliki arti melakukan dua atau lebih pekerjaan sekaligus, mendapatkan beberapa keuntungan dari satu usaha).

Soal 8: Carilah peribahasa yang memiliki makna berlawanan dengan “Besar pasak daripada tiang”. A. Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. B. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. C. Cepat kaki ringan tangan. D. Bagai air di dalam batok.

Jawaban 8: A. Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. (“Besar pasak daripada tiang” berarti pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, yang merupakan perilaku boros. Peribahasa yang berlawanan adalah yang mengajarkan hemat).

Soal 9: Peribahasa “Sudah jatuh ditimpa tangga” memiliki makna serupa dengan… A. Terlepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. B. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. C. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. D. Ke mana tumpah kuah kalau tidak ke nasi.

Jawaban 9: A. Terlepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. (Kedua peribahasa ini memiliki makna mengalami kesulitan ganda atau berturut-turut, malang tak dapat ditolak).

Baca juga: Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Hadiri Silaknas dan Milad ke-35 ICMI di Bali

Tips dan Trik Menguasai Peribahasa

Untuk menguasai peribahasa, ada beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

  • Pahami Konteks: Jangan hanya menghafal kata-katanya. Pahami situasi atau peristiwa apa yang mendasari munculnya peribahasa tersebut.
  • Kelompokkan Berdasarkan Tema: Kelompokkan peribahasa berdasarkan tema (misalnya: nasihat, kesombongan, persatuan, kerja keras). Hal ini mempermudah proses mengingat.
  • Gunakan dalam Percakapan: Cobalah menggunakan peribahasa yang baru Anda pelajari dalam percakapan sehari-hari atau saat menulis. Penggunaan aktif akan memperkuat memori Anda.
  • Bandingkan dengan Bahasa Lain: Jika Anda menguasai bahasa daerah, cari padanan peribahasa tersebut. Membandingkan dapat memperjelas makna filosofisnya.

Penulis: Aripin

Post Comment