Kecewa! Mahfud Kritik BoP: Board of Peace Tak Pedul Palestina, Malah Blok Bantuan

Sekolapedia – 23 Maret 2026 | Koordinator Menteri Mahfud MD kembali melontarkan kritik tajam terhadap Board of Peace (BoP), inisiatif perdamaian yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Mahfud, BoP tidak menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap rakyat Palestina, melainkan justru menutup akses bantuan yang sangat dibutuhkan. Pernyataan tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan politik dan keagamaan Indonesia, terutama menyangkut posisi negara dalam forum internasional tersebut.

Board of Peace diluncurkan pada awal 2026 dengan tujuan mengkoordinasikan upaya perdamaian di wilayah konflik, termasuk Gaza. Namun sejak pembentukan, BoP dinilai oleh beberapa pihak sebagai platform yang lebih mengedepankan kepentingan geopolitik Amerika Serikat daripada keadilan bagi korban konflik. Mahfud menegaskan, “Jika BoP benar‑benar ingin menjadi penjaga perdamaian, mengapa ia menutup pintu bagi bantuan kemanusiaan yang mendesak?”

Penolakan Finansial Indonesia

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa Indonesia tidak pernah berjanji atau berkomitmen membayar iuran sebesar satu miliar dolar Amerika (USD 1 miliar) untuk menjadi anggota BoP. Dalam pertemuan dengan jurnalis dan pakar pada 21 Maret 2026, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak tercatat dalam pertemuan founding donors yang digelar pada 19 Februari di Washington.

“Kita tidak pernah menyatakan akan menyumbang satu miliar dolar. Komitmen kami hanya berupa kesiapan mengirim pasukan perdamaian jika diperlukan,” ujar Prabowo. Ia menambahkan bahwa pemerintah siap menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa pasukan perdamaian serta dukungan logistik, tanpa melibatkan anggaran APBN untuk iuran keanggotaan BoP.

MUI Serukan Evaluasi Keterlibatan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan pernyataan pada 22 Maret 2026, menyerukan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh atas partisipasi Indonesia dalam BoP. MUI menekankan bahwa keterlibatan harus bersifat bersyarat, berjangka waktu, dan terukur melalui indikator seperti penurunan kekerasan terhadap sipil, peningkatan akses bantuan kemanusiaan, serta penghormatan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.

🔖 Baca juga:
Sembilan Tahun Menunggu dan Dua Keluarga Selebriti: Perjuangan Rianti Cartwright dan Maissy Pramaisshela Menemukan Kebahagiaan

Jika tidak ada kemajuan signifikan, MUI meminta pemerintah menyiapkan langkah penarikan diri secara diplomatis dan bertahap. Poin‑poin tersebut mencerminkan keprihatinan luas di dalam negeri bahwa keterlibatan dalam BoP dapat mengaburkan posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mendukung keadilan dan hak asasi manusia.

Reaksi Pemerintah dan Dinamika Politik

Menanggapi kritik Mahfud dan seruan MUI, Sekretaris Negara menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip non‑intervensi sekaligus mendukung penyelesaian dua‑negara yang adil. Pemerintah berjanji terus memantau situasi di Gaza dan siap meningkatkan kontribusi kemanusiaan bila gencatan senjata berhasil dan fase pembangunan dimulai.

Prabowo menambahkan, “Jika ada kemajuan konkret, Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk berperan lebih aktif, termasuk melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam program rekonstruksi.”

Implikasi Internasional

Keputusan Indonesia untuk tidak menyetujui iuran satu miliar dolar sekaligus menolak menjadi anggota permanen BoP menimbulkan pertanyaan tentang strategi diplomasi luar negeri negara kepulauan ini. Di satu sisi, penolakan finansial menunjukkan kemandirian dalam kebijakan luar negeri; di sisi lain, keterbatasan partisipasi dapat mengurangi pengaruh Indonesia dalam forum multilateral yang dipimpin Amerika Serikat.

Para pengamat menilai bahwa sikap kritis Mahfud dan MUI dapat mendorong pemerintah menegaskan kembali komitmen pada nilai‑nilai kemanusiaan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di PBB sebagai pendukung solusi damai yang inklusif. Namun, tekanan dari BoP untuk memberikan kontribusi finansial atau militer dapat menjadi ujian bagi kebijakan luar negeri yang berupaya menyeimbangkan kepentingan strategis dan moral.

Secara keseluruhan, dinamika kritik Mahfud, penolakan finansial Prabowo, dan seruan evaluasi MUI mencerminkan ketegangan antara aspirasi perdamaian internasional dan realitas geopolitik yang kompleks. Indonesia tampaknya memilih jalur hati‑hati, menolak beban keuangan yang berat sekaligus tetap membuka ruang bagi kontribusi kemanusiaan yang lebih bersifat praktis.

Ke depan, keputusan pemerintah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan di lapangan, termasuk keberlanjutan gencatan senjata, kemajuan rekonstruksi Gaza, dan respon komunitas internasional terhadap BoP. Apapun keputusan yang diambil, publikasi kritik Mahfud dan MUI memastikan bahwa isu Palestina tetap berada di agenda utama kebijakan luar negeri Indonesia.

Post Comment